Sudah Dewasa: Warisan [Part 1]

Suatu saat saya terhenti mengeksplorasi kesuwungan di YouTube ketika sesosok boneka ini muncul. Alunan biola memanggil saya untuk bertahan sejenak menonton video ini. A really deep and marvelous craft yang seketika mengingatkan saya akan hidup.

Sebelum membaca lebih lanjut, ada baiknya meluangkan waktu sejenak menonton video karya Zealous Creative.

Waktu dapat menguap begitu cepat tanpa meninggalkan pesan. Seketika bayang-bayang malam sudah merebak, meninggalkan sisa-sisa waktu yang ada untuk berpikir: “Apa yang masih dapat dilakukan? Tidakkah terlambat?” 

Alangkah amat baik jika kita menilik sejenak penjelasan dari YouTube Explained.

Menjadi manusia tidak akan dapat menjadi jika kita tidak mengerti apa yang akan kita jadikan. Kamus Oxford mengungkapkan bahwa manusia adalah “Of or characteristic of people as opposed to God or animals or machines, especially in being susceptible to weaknesses:” Bukan Tuhan, binatang, maupun mesin, terutama sangat rapuh akan kelemahan. Kelemahan. Manusia tidak ada yang hidup selamanya di bumi ini. Hanya satu hal yang kita tahu, bahwa ada kekekalan setelah hidup ini yang sudah dijanjikan untuk kita yang mau menerimanya.

What’s next, then? Apa yang harus kita lakukan, sebelum kita pergi ke kehidupan selanjutnya? WARISKAN. Hidup ini singkat. Jika dihabiskan untuk menikmatinya sendiri, tidak akan ada penerus di generasi yang akan datang. Pengubah-pengubah generasi muncul karena ada generasi di atasnya yang mempersiapkan generasi di bawahnya. Legacy is meant to be inherited. Jangan sampai saat kita sadar akan hal ini, hanya tersisa beberapa detik sebelum kita berubah menjadi pelangi dan generasi di bawah kita tidak mengerti apa-apa.

Pada akhirnya, mari kita menjadi generasi yang mewariskan nilai-nilai kehidupan yang kita miliki, sebelum kita hidup selamanya.

Selamat Ulang Tahun – 16 Juni 2016

Selamat ulang tahun, mami tercinta. Tepat setengah abad sudah engkau lahir di dunia yang gelap ini. Ucapan ini terlebih untuk emak yang sudah melahirkan mami 50 tahun yang lalu. Entah bagaimana kuucapkan terima kasih, kalau ada kata yang lebih dari cinta pasti sudah kuucapkan.

 

Waktu-waktu ini adalah waktu yang jahat, semuanya seakan berlari kencang menuju kesia-siaan. “Ujung-ujungnya mati juga”. Rasanya sebentar lagi Hari Tuhan akan datang. Ada tertulis bahwa waktunya akan datang sebentar lagi, dia datang seperti pencuri.

Tetapi selama persiapan menuju Hari Tuhan, kita diminta untuk berjaga-jaga dan terus menyalakan lilin. Pada hari ini sudah dua orang datang secara tidak dirancang, sekedar tertawa dan sharing bersama mami yang berulang tahun hari ini. Roh Kudus bekerja di antara kami dan surprisingly tidak hanya mereka yang sharing yang merasakan Roh Kudus, tetapi juga aku.

Tetaplah peka dalam persiapan ini. Hingga mempelai itu datang, kita sudah siap, sebab kita sama-sama membeli minyak dan menjadi lima gadis bijaksana. Peka terhadap hikmat yang sudah Dia beri, dan jangan menjualnya.

Cinta [reprise]

 

Cinta.

Ketika kau tahu bahwa cinta adalah hal yang kau butuhkan, kau setiap hari menagih pada letih dan lelah. Pedulikan aku! Hargai aku! Wahai lelah, layani aku! Kehidupan yang begitu singkat ini tak akan kau isi dengan celah-celah kebohongan yang menutupi luka ini, bukan? Ketika mereka mencoba seperti yang engkau inginkan, kau tahu bahwa kau bahkan tak layak!

Bukalah hati, segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Sebab kau tahu, kau tak kan bisa memperoleh hembusan penyembuh luka yang engkau cari selama ini, jika kau sendiri tak menjadi seperti apa yang engkau pinta pada orang lain. Hormati terlebih dahulu maka kamu akan dihormati, kasihilah orang lain maka kamu akan dikasihi. Susah? Memang. Tetapi ada satu kekuatan kekal yang terus menerus mengalirkan kasih itu, tinggal kita mau menerimanya atau tidak.

Cobalah,

Kau pasti bisa!

Need-Love

“…air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

 

Sudah Dewasa: Tekun [Part 1]

Di serial “Sudah Dewasa” sebelumnya kita sudah belajar nek sakjane manusia diciptakan untuk dicintai. Kalau manusia belum dicintai, maka dia belum 100% manusia. Ning ndak yo kehidupan di bumi ini berhenti sampai dicintai Tuhan saja? Tentu tidak—kita diminta untuk mengeksplorasi dan mengelola bumi ini. Posisi yang cukup keren, bukan?

Hari ini saya belum baca Alkitab, jujur renungan saya putus sehari setelah saya membanggakan “kerohanian” saya kemarin. Tepat sehari yang lalu dua orang mengatakan mereka terberkati dengan postingan saya di facebook dan instagram, katanya “Aku hampir aja putus asa, tapi setelah baca tulisan koko jadi bangkit,” dan “Aku hampir nangis,”. Pujian dan kemampuan membuka celah baru: kesombongan. Karena sudah merasa mampu, akhirnya pagi tadi Tuhan yang sudah menunggu untuk diajak ngobrol dilupakan dan malahan, lebih parahnya, kalah dengan situs-situs tak senonoh yang dapat diakses di mana saja, kapan saja.

Pernah mengalami hal seperti ini?

Ini yang disebut keteledoran. Saya teledor dalam renungan dan memutuskan untuk rehat sehari dalam merenungkan keajaiban Tuhan dalam hidup setiap manusia. Voila! Saya jatuh ke dosa lama saya. Seringkali posisi manusia sebagai mitra kerja Allah disalah artikan.

Ketua majelis saya tadi sore menyampaikan suatu renungan yang saya rasakan sangat memberkati—here thanks to holy spirit—KETEKUNAN. Kami para pelajar dan kakek-nenek diminta untuk memainkan sudoku bikinan beliau, dan di situ kami belajar untuk tekun dalam menghitung. “Matematika itu ritme,” katanya. Tetapi seiring bermain, saya menyadari bahwa sekali saya memasukkan angka bukan pada tempatnya, sudoku itu tidak akan jadi. Seperti itu pula kalau kita tidak menaruh Tuhan pada posisinya—Raja di atas segala raja—maka rancangan Tuhan dalam hidup kita pun tidak berjalan mulus.

Saya yakin rancangan Tuhan adalah anugerah. Kalau tadi Bu Sapta *thanks banget bu :”* memilih lagu Semua Karna AnugerahNya karya Ibu Pdt. Dr. Rahmiati Tanujaya, saya yakin Roh Kudus pimpin beliau dan hendak menyadarkan keberadaan saya yang sombong. Semua hal yang ada di dunia ini adalah anugerah, dan seperti sudoku, harus ditempatkan pada posisi yang tepat. Kalau doa pagi adalah doa pagi, sempatkanlah pada pagi hari untuk berdoa. Kalau ketemu teman di jalan, jangan selalu ajak dia bergabung pada suatu komunitas, tetapi bercengkeramalah selayaknya manusia biasa. Semua butuh ketekunan. Kalau kita tekun doa pagi, saya yakin kita dapat mengerti apa maksud Tuhan dalam hari itu. Kalau kita bertemu teman dan sharing hal-hal sepele dengan tekun, saya yakin mata hati lambat laun mulai terbuka untuk mendengar suara Tuhan lewat mereka. Semua butuh ketekunan, atau kita malah jatuh.

2016-06-09.png

Seperti nulis blog perlu ketekunan, begitu pula hidup.

Perkenankan saya membagikan lirik yang sudah memberkati saya hari ini. Kepada Ibu Rahmati, terima kasih banyak atas lagunya. Saya tak tahu bagaimana membalas kebaikan Tuhan karena semua karna anugerahNya.

Bukan kar’na kebaikanku
Bukan kar’na fasih lidahku
Bukan kar’na kekayaanku
Ku dipilih, ku dipanggil-Nya

Bukan kar’na kecakapanku
Bukan kar’na baik rupaku
Bukan kar’na kelebihanku
Ku dipanggil, ku dipakai-Nya

Bila aku dapat itu karena-Nya
Bila aku punya semua daripada-Nya

Semua karena anugrah-Nya
Dib’rikannya pada kita
Semua Anugrah-Nya bagi kita
Bila kita dipakai-Nya

Sudah Dewasa: Kasih [Part 2]

Minggu, 5 Juni 2016 menjadi hari bersejarah. Entah mengapa banyak hal gila terjadi dalam hidupku. Pada intinya, semua ini terarah pada satu kata yang akan kita bahas di bagian kedua dari serial “Sudah Dewasa”: Kasih.

Hari ini panitia camp super yang aku cintai diajak untuk kumpul, sekedar sharing tanpa membahas hal-hal berbau teknis dan masalah tetek-bengek ketidaksiapan camp ini. Inisiator acara hari ini meminta maaf karena terlambat: dimaafkan. Tapi aku belajar banyak dan berterima kasih pada inisiator—mba Risti—yang sudah bawa hari ini super. Thanks, mbak!

Kami janjian jam 4 tapi sampe jam 4.15 salah seorang teman belum selesai mandi dan kami menunggunya di Gamblok. Tiba-tiba muncul pesan whatsapp berbunyi: “Ko, maaf hari ini aku ga ikut”

What the.

Aku sudah berniat untuk marah dan membatalkan acara—padahal acara ini bukan acaraku! Pada akhirnya kuurungkan niatku dan kami melanjutkan perjalanan ke kelas. Tanpa diduga-duga, banyak hal terjadi dan berkat ini terlalu baik untuk disimpan. Kiranya hikmat yang sudah Tuhan taruh ke teman-teman boleh aku sharing-kan ke pembaca sekalian. Salam. ^^

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Sharing dibuka dengan dialog “Ga dibuka doa sek, nih?”
Tidak. Acara kali ini akan berbeda dan membudaya. Tidak ada yang namanya ritual, menurutku. Tuhan sendiri tidak berdoa sebelum makan, karena Dia Tuhan. Maksudku, ayolah. Ini bukan ajang ritual dan nubuat akan berakhir. Bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap.

Kami memuji kebesaran Tuhan. Kami menyembah Raja kami. Kami meninggikan Dia dan hendak terbang tinggi. Ya, kasih tidak berkesudahan. Kalau namanya cinta, kasih, pasti ga akan setengah-setengah. Kalau namanya sayang, pasti penuh kejutan. Begitu pula kasih kita kepada Tuhan, kita tunjukkan dengan kejutan dan all-out. Terbukti, kami belajar untuk menempatkan posisi di mana Tuhan berada: di tempat yang maha tinggi. Kami mengasihi Dia. Kami sayang Dia.

Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

Kami menyadari kami tidak ada apa-apanya. Dalam penyembahan awkward ini, kami mencoba untuk menggunakan pengetahuan kami dan.. gagal. Gitar yang dipetik dengan harmoni beberapa kali tersendat dan bunyinya tidak nyaring. Pujian yang kami buat-buat tiba-tiba fals.

Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Tetapi seketika semua berubah ketika kami sadar: bukan kami yang ditinggikan di sini, tapi Dia.
Tuhan tak ingin manusia melebihi strata Tuhan. Kami belajar untuk menyembah dengan hati, dan voila muncullah tetes air mata dari hati kami. Kami lelah. Kami tak mampu. Begitu kami mengutarakan keberadaan kami yang tidak sempurna, di situlah YANG SEMPURNA itu tiba.

Yesus datang ke dunia untuk mengasihi kita. Dia datang untuk mengasihi manusia yang seharusnya dikasihi: yang gagal. Dia datang untuk melenyapkan yang tidak sempurna.

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Jujur dalam komunitas kami yang sudah berumur—46th—seringkali kami mengeluhkan komunitas yang kering. Persekutuan yang tidak mengena, terlalu ritualistik. Tetapi Tuhan berkarya dalam ketidaksempurnaan kami sore itu. Kami yang mengalami banyak tekanan ternyata dimaksudkan untuk tumbuh dan naik level. Kakak-kakak kami yang sudah pemuda dan dewasa seakan-akan menjadi pembuka jalan sehingga 46 tahun setelah komunitas ini berdiri, kami bisa mengalami kembali kesegaran roh dan jiwa. Kami bisa sharing begitu rupa dan kami tidak lagi membicarakan hal kanak-kanak.

Kami sadar bahwa Tuhan-lah yang memberi pertumbuhan.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

Sharing itu perlu. Dalam suatu komunitas yang bertumbuh, jika tidak ada gambaran yang samar-samar, pertumbuhan tersendat. Kami bersyukur kami diberi keterbukaan sore itu dan kami dapat bercerita sedikit-banyak tentang pergumulan samar-samar kami. Tetapi kami yakin bahwa fondasi menentukan ketinggian, dan keterbukaan adalah awal dari pemulihan.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Ya, kasih. Iman diperlukan, bahkan sebesar biji sesawi pun dapat memindahkan gunung. Kami mengimani bahwa kebangunan rohani sedang Tuhan jalankan di bumi ini. Kami mengimani salah satunya adalah acara camp Transformer akan pecah: Tuhan-lah yang beracara dalam acara ini.

Pengharapan, kami berharap banyak kepada anda yang membaca untuk berdoa. Doa orang benar bila didoakan dengan yakin besar kuasanya. Kami juga berdoa agar anda pun digerakkan untuk membangun rumah rohani secepatnya.

Dan terakhir, tujuan manusia diciptakan: untuk dikasihi oleh Tuhan. Tuhan menciptakan kita segambar dan serupa dengan Dia, dan menjadi mitra Tuhan dalam mengelola bumi ini. Tentu saja Dia mengasihi kita dan tidak akan membiarkan kita tergeletak, sebab untuk itulah manusia diciptakan. Juga setelah kita penuh, baru akan ada saatnya kita mengasihi orang lain, baik yang sepadan untuk dijadikan teman hidup, ataupun komunitas-komunitas yang semakin membawa kasih itu ke bumi ini.

Salam transformasi, salam perubahan!

Sudah Dewasa: Kasih [Part 1]

Tahun ini ditekan terus untuk menuruti kehendak. Manut. Kalau memang harus manut, tentu harus siap diperas, harus sudah next level, a.k.a dewasa rohani. Tema buku renungan di bulan ini Dewasa Rohani dan aku semakin sadar bahwa tujuan besar untuk “manut” tadi itu ga bisa jalan kalau kita tidak dewasa rohani.

Kali ini aku mau share something yang aku dapet tentang dewasa rohani. Seseorang yang dewasa pasti ga akan mau hidup sendiri karen “tidak baik manusia hidup sendiri saja” :v. Semua orang pasti akan melewati fase dimana mau engga mau, suka engga suka harus menghadap yang namanya cinta.

Tahun ini temanya manut➥untuk manut harus dewasa rohani➥untuk dewasa rohani harus dekat ke sumber pertumbuhan:➥Tuhan. Lewat apa? Lewat baca Alkitab, dodol. Alkitab adalah surat cintanya Tuhan buat kita, dan salah satu bagian favoritku ada pada perikop yang dikasih judul sama LAI “Kasih”. Jadi, ijinkan bagian itu kumasukkan dalam tulisan ini. *Thanks Papa*

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung,tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Tiga ayat di atas jelasin ke kita bahwa tanpa kasih, semua sia-sia. Kalau mau dibilang kasar; kita payah tanpa kasih. Mirip kayak burung yang sayapnya patah, ga bisa terbang. Kita juga begitu: tanpa kasih, kita ga berfungsi, karena kita diciptakan untuk dikasihi. Jadi buat kita yang merasa orang tua payah dalam mengasihi kita, gebetan ga peka-peka dikasih kode, atau temen tiba-tiba berubah ga mengasihi kita, watch out. Kamu kayak burung ga bersayap.


Dalam menjadi seorang dewasa rohani, aku diajarkan untuk tahu apa yang namanya cinta. Bagian ini seakan-akan kasih itu manusia. Pake kata “Ia”, saudara-saudara. Mungkin Tuhan pengen supaya kita mudeng apa yang dimaksud dengan cinta, jadi pake kata “Ia” supaya kita bisa bayangin. Get it?

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

“No matter what” di sini penting banget. Kalau doi ngeselin: tetep kasih. Kalau si doi pelit: tetep kasih. Kalau si doi ga tahu diri: tetep kasih. Kasih itu ga sombong, tentu kita tahu bahwa menganggap diri kita yang terbaik itu juga salah satu bentuk kesombongan, right?

Akhir-akhir ini aku belajar untuk membiarkan pergi. Alkisah, aku punya burung, bulunya lebat. *jangan pikir aneh-aneh* Dia tinggi, bulunya hitam dan suaranya nian merdu. Burung ini ga aku simpen rapat-rapat di balik kain kayak bapak-bapak biasanya nyimpen burungnya: sangkarnya aku biarin terbuka, dan kadang-kadang dia malah bisa terbang. Oke, supaya jelas aku kasih gambar burungnya.

640px-White_winged_chough_jan09

Don’t get me wrong :v

Aku sadar bahwa burung ini bukan ditempatkan di sangkar. Kalau memang dia harus terbang pergi, setelah bertahun-tahun mengajariku banyak hal, mungkin memang itu yang terbaik. Siapa tahu memang saatnya dia bertelur dan menghasilkan burung-burung baru yang dapat mengajari “aku” yang lain, kita tidak pernah tahu.

Mencintai tidak harus memiliki. Kalau memang suatu saat burung ini memilih kembali kepadaku, kalau yang ada adalah kasih, berarti aku harus menerima dengan sabar.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia sangat sopan dan pemaaf. Oke. Seperti burung tadi, kalau memang dia akan kembali, aku harus tetap sopan dan memaafkan. Bagian yang sangat sulit, tbh. Aku mungkin tidak bisa menjadi kasih yang diharapkan.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Aku belajar untuk manut lagi di sini. Kalau burung itu terus ada padaku, apakah itu adil? Aku sendiri ga tahu jawaban pastinya tapi aku harus sukacita karena ada kebenaran yang setia. Kebenaran bahwa dunia ini busuk dan rusak, aku harus bersukacita.

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

*Tbh I dunno arti dari menutupi secara jelas kalau di bahasa Indonesia, tapi di bahasa Inggris ditulis “protect”, bukan “cover”*

Secara ringkas, kasih adalah kebutuhan kita. Manusia diciptakan untuk dikasihi. Oleh siapa? Tunggu bagian keduanya!

 

Mimbar yang Kudus

Jejak Langkah

Saya senang berkhotbah dan mendengarkan khotbah.  Jika ada akses internet, saya kerap kali mengunduh khotbah-khotbah beberapa hamba Tuhan, khususnya dari denominasi yang berbeda dengan saya, untuk saya dengarkan di waktu luang.  Demikian pula ketika jenuh belajar atau mengerjakan tugas, saya akan mencari jurnal khotbah atau satu-dua naskah khotbah yang banyak terdapat di perpustakaan kampus kami.  Beberapa hari ini, misalnya, saya sedang menikmati khotbah-khotbah Bryan Chapell yang dimuat dalam buku teranyarnya, Christ-Centered Sermon.  Bagi saya, ada sesuatu yang unik dalam setiap khotbah, yang dapat membangkitkan semangat dan gelora hati saya untuk belajar dan melayani Tuhan.

Hari ini, dalam chapel mahasiswa dan dosen, Allah mengajarkan saya satu dimensi penting  dalam khotbah Kristiani.  Peristiwanya terjadi ketika saya sedang mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh salah seorang dosen.  Ketika ia sampai di bagian akhir khotbahnya, saya memandang ke arah sekeliling mimbar auditorium kampus kami.  Kebetulan saya duduk di deretan kursi belakang, sehingga saya dapat…

View original post 646 more words

Light On!

Sebab semura orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,

Merenungkan apa yang terjadi di dunia akhir-akhir ini: isu-isu hangat persoalan agama semakin sering menggema di media sosial. Seakan kebenaran dan kepalsuan kawin. Apa yang disebut kebajikan sudah kalah dengan hak asasi, apa yang disebut kodrat sudah disamaratakan dengan kesetaraan amoral. Ya, semua adalah korban dari angkatan bengkok hati yang sudah dahulu: semua ini seakan cincin api yang terus berkobar, tiada akhir dari generasi ke generasi.

Apa?
Apa yang menyebabkan semua ini?

Kalau dilihat lagi, kita awalnya tak lebih dari segumpal tanah yang diajak menjadi mitra Sang Pencipta. Tetapi kita menolaknya. Apa selanjutnya? Kita kehilangan kemuliaan Allah. Jatuh dalam dosa: seks, mencontek, narkoba. Mengulangi kesalahan lama: selingkuh, egois, bercerai. Melupakan identitas: mitra kerja, anak, murid, hamba.

Apa?
Apa yang menyebabkan semua ini?

  • Dari sisi korban, hati tidak mau dibuka untuk menerima. Ketika kebenaran dikemukakan, alam bawah sadar sudah menjerit: PALSU! Otak mengalahkan akal budi, pemikiran terbatas mengalahkan cinta sejati.
  • Dari sisi pelaku, hati kecil dimatikan. Rasa bersalah diputuskan uratnya. Daun telinga menutup mata dan mulut banyak bercakap, agar kebenaran tak dapat disuarakan.
  • Dari sisi penolong, cara kita salah. Hendak memberitakan kebenaran dengan omong kosong, berteriak seperti gong tanpa menghidupi kebenaran itu sendiri.

Sejatinya, kita semua sudah kehilangan kemuliaan Allah.

Siapa?
Siapa yang dapat mengembalikannya?

Jawaban ada di tangan saudara. Segera bertindak sebelum… WAKTUNYA SUDAH DEKAT!

Kenapa Mirna meninggal?

Akhir-akhir ini kita sering mendengar desas-desus kematian wanita cantik di salah satu gerai kopi di Grand Indonesia. Bukan kebetulan bila tiba-tiba hari Rabu, 6 Januari 2016.

 

Banyak pakar yang sudah empat, lima, enam, bahkan belasan tahun studi untuk menjadi seorang ahli psikologi forensik dan kriminologi mengambil peran dalam pemecahan kasus ini. Ada yang berdalih bahwa pelakunya adalah salah seorang teman dari Mirna, yang tidak terlihat sedih mengetahui temannya meninggal. Ada yang merumuskan bahwa racun sianida tidak dapat dibeli secara gampang. Dibutuhkan ketrampilan khusus untuk menggunakan racun kelas atas ini.

Entah kekuatan magis apa yang membuat nama Wayan Mirna Salihin (27) melejit begitu cepat sehingga hampir semua saluran televisi menyiarkannya. Saya yang tergolong cukup kudet dalam berita pun cukup kaget mendengar seorang muda dari ibukota tewas karena racun. Saya lebih kaget lagi hampir 50% tayangan televisi, berita elektronik, bahkan share grup Whatsapp membahas kasus ini. Mungkin lebih.

Memang, Mirna bukan siapa-siapa. Dia bukan artis terkenal yang suka mempermainkan kehidupan. Dia bukan politisi yang bangga disebut politikus. Dia bukan gubernur kontroversial yang membawa semangat kepemimpinan ke Indonesia setelah 70 tahun. Tetapi satu hal yang saya pelajari dari kasus ini, tidak peduli siapa engkau, tidak peduli siapa orang tuamu, tidak peduli bagaimana kamu menghabiskan hidupmu dengan siapapun….ada yang peduli denganmu. Bahkan Wayan Mirna Salihin pun bisa terkenal–walau saya tahu ini tidak mengenakkan–dan saya percaya bahwa ada satu hal besar yang akan terjadi lewat kasus ini, mirip dengan kasus Ade Sara. Kejadian memilukan bisa menjadi suatu berkat, entah bertujuan mengingatkan kita akan sesuatu, atau menjadi suatu titik balik dalam kehidupanmu.

Itu kan orang Jakarta, la wong aku saben dina jaga warung ora ngopo-ngopo, apa ya wong do gelem peduli mbek aku?

Engga, ini bukan masalah orang-orang itu. Ini bukan soal seberapa banyak orang bisa kenal namamu, tetapi seberapa sadar kamu tahu bahwa Dia peduli terhadapmu. Lihat saja, manusia bisa sebegitu pedulinya dengan Mirna. Tuhan jauh lebih peduli terhadap semua orang. Saya seakan diingatkan bahwa Tuhan pasti jutaan kali lebih peduli menangani kasus Mirna ketimbang ahli forensik yang ada. Dia pasti jauh lebih mengerti bagaimana perasaan orang tua Mirna ketimbang sahabat yang datang. Tetapi saya teringat kembali bahwa tidak hanya Mirna, tetapi saya pun dipedulikan oleh Dia, bahkan Dia jauh lebih mengerti

Ini fakta, sobat. Ini soal mau atau tidak mau kamu sadar seberapa Dia sudah peduli terhadapmu.

Salam, dan doa bagi keluarga yang ditinggalkan.