Akhirnya terungkap, penyebab kematian Mirna

Akhir-akhir ini kita sering mendengar desas-desus kematian wanita cantik di salah satu gerai kopi di Grand Indonesia. Bukan kebetulan bila tiba-tiba hari Rabu, 6 Januari 2016.

 

Banyak pakar yang sudah empat, lima, enam, bahkan belasan tahun studi untuk menjadi seorang ahli psikologi forensik dan kriminologi mengambil peran dalam pemecahan kasus ini. Ada yang berdalih bahwa pelakunya adalah salah seorang teman dari Mirna, yang tidak terlihat sedih mengetahui temannya meninggal. Ada yang merumuskan bahwa racun sianida tidak dapat dibeli secara gampang. Dibutuhkan ketrampilan khusus untuk menggunakan racun kelas atas ini.

Entah kekuatan magis apa yang membuat nama Wayan Mirna Salihin (27) melejit begitu cepat sehingga hampir semua saluran televisi menyiarkannya. Saya yang tergolong cukup kudet dalam berita pun cukup kaget mendengar seorang muda dari ibukota tewas karena racun. Saya lebih kaget lagi hampir 50% tayangan televisi, berita elektronik, bahkan share grup Whatsapp membahas kasus ini. Mungkin lebih.

Memang, Mirna bukan siapa-siapa. Dia bukan artis terkenal yang suka mempermainkan kehidupan. Dia bukan politisi yang bangga disebut politikus. Dia bukan gubernur kontroversial yang membawa semangat kepemimpinan ke Indonesia setelah 70 tahun. Tetapi satu hal yang saya pelajari dari kasus ini, tidak peduli siapa engkau, tidak peduli siapa orang tuamu, tidak peduli bagaimana kamu menghabiskan hidupmu dengan siapapun….ada yang peduli denganmu. Bahkan Wayan Mirna Salihin pun bisa terkenal–walau saya tahu ini tidak mengenakkan–dan saya percaya bahwa ada satu hal besar yang akan terjadi lewat kasus ini, mirip dengan kasus Ade Sara. Kejadian memilukan bisa menjadi suatu berkat, entah bertujuan mengingatkan kita akan sesuatu, atau menjadi suatu titik balik dalam kehidupanmu.

Itu kan orang Jakarta, la wong aku saben dina jaga warung ora ngopo-ngopo, apa ya wong do gelem peduli mbek aku?

Engga, ini bukan masalah orang-orang itu. Ini bukan soal seberapa banyak orang bisa kenal namamu, tetapi seberapa sadar kamu tahu bahwa Dia peduli terhadapmu. Lihat saja, manusia bisa sebegitu pedulinya dengan Mirna. Tuhan jauh lebih peduli terhadap semua orang. Saya seakan diingatkan bahwa Tuhan pasti jutaan kali lebih peduli menangani kasus Mirna ketimbang ahli forensik yang ada. Dia pasti jauh lebih mengerti bagaimana perasaan orang tua Mirna ketimbang sahabat yang datang. Tetapi saya teringat kembali bahwa tidak hanya Mirna, tetapi saya pun dipedulikan oleh Dia, bahkan Dia jauh lebih mengerti

Ini fakta, sobat. Ini soal mau atau tidak mau kamu sadar seberapa Dia sudah peduli terhadapmu.

Salam, dan doa bagi keluarga yang ditinggalkan.

 

Harap

Aku sadar bahwa aku tak bisa menahanmu dari merokok. Hidupmu pilihanmu, benar. Aku tahu aku bukan siapa-siapa bagimu. Sebatas kawan, atau bahkan sekedar kenalan. Aku tak bisa merasakan apa yang kau terima selama ini: bingung, sakit, pedih, tertekan, iri, senang, puas, gelisah, perasaan bersalah. Aku memang lebih beruntung masih bisa sekolah sementara kau tidak. Susah memang terus mengayuh hidup.

Tapi bagiku, kamulah keluargaku.
Kamulah tempat aku bisa berbagi tawa, tempat ketika orang lain sibuk dengan urusannya, kau masih ada di situ walau jarang bertemu. Ketika aku tertekan, engkau memiliki kekuatan magis yang memaksaku mensyukuri beratnya hidup ini.

Aku tak bisa memaksamu untuk membaca ini.
Tetapi ketahuilah hanya ada satu harapan. Satu tempat di mana kau bisa luapkan perasaanmu, lupakan kesedihanmu. Tempat yang mungkin memekakkan telinga, tetapi tetap setia. Aku bingung bagaimana mengenalkannya, tapi Bapaku adalah Bapamu jua. Biarkan hatimu terbuka dan biarkan Dia masuk. Cobalah untuk tak hanya menuntut, tapi juga bersyukur. Cobalah, coba. Tak ada salahnya.

Little Boy

“When I was a little boy”

That clause sounds familiar in our mind. When someone is going to tell a story of himself, this clause might be used as the beginning. Now, tell me you my story when I was a “little boy”.

It was a night after a busy Sunday Service and happy conversations with fellas. My friends planned some stuffs and to-do lists on this week, and I bet it’d be busy weeks so I have to keep myself from playing soccer girls’ feeling games, in case my body can’t deal with it.

But then, my mother watched a movie, which I wasn’t interested at all *at first* which was directed by Alejandro Monteverde. I wasn’t impressed as much, just smiling and keeping myself ‘caught on’ the movie so my mom thought I cared. I didn’t, actually. *once again, at first*

Still typing with friends planning for a band rehearsal, somehow a scene showed me the Little Boy was dealing with a local magician called ‘Ben Eagle’ (I think that’s how we supposed to call him.)–which intrigues me. I put my charged-zenfone on the desk and I kept my eye on the film; I tell you, if it wasn’t God I couldn’t be impressed. A little spoiler for you, the protagonist was going to pull a glass bottle, which I thought was only a trick by the magician. But it wasn’t the point. Cut to the church, the protagonist was lectured by two pastors–which intrigues me even more–because of his fault and said something about faith.

Faith isn’t what is seen. It is about what is unseen.

The movie continued with the protagonist trying to do changes with doing the magician trick: straighten his arms and mumbling (actually, he was doing what I usually do in the toilet–ngeden). He believed on his faith that he could move a mountain–he did. He believed he could end the WWII–he did. He believed he could bring his father back from war–ah, no spoiler. In this movie, we’re going to learn more about faith. But what I’m going to say isn’t all about faith. Trust me, it wasn’t deux es machina either.

It was a scene when the protagonist cried of his ah, no spoiler. Tbh, I cried too. I imagined if it was me on his side, what could I’ve done? This is what’d be said by the protagonist if he was with you:

Being left alone with no any last words and stuffs, only happy memories with hope he’ll be back: and NO. What he did was calling *me* partner, the only partner. He played with *me* and tried to make *me* happy. Protecting *me* and keeping *me*  in faith someday *I*’d be tall someday. He loved me. But, what?! He left *me* as my brother couldn’t join U.S army, and he died.

Right now, I’m doing stuffs for you.

Somehow this quote reminded me of God. Until right now, We have happy memory. He loves me, He protects me, He keeps me in faith, He calls me partner. But He went to war, to fit on my position that should’ve be done by me, but no. He did it for me! He died.

But then the question is : What would *we* do to save the one you love the most? For the God who have sacrificed His life?
The answer is on your own, buddies.

Here is what I’m gonna say: I’m doing stuffs for You, O Lord.LittleBoy_SplashPage_r1_c2

I don’t know how but I think this should be listed as movies that must be watched before you die: LITTLE BOY (2015).

 

 

Preparasi

Malam ini alih-alih beristirahat menunggu proses pemulihan, malahan duduk di depan rumah melihat Anis mengantar neneknya. Ditemani adik tercinta dengan seorang sahabat yang enggan menunggu antrean di dokter gigi. “Kalau aku ke dokter gigi enam bulan sekali, berarti cuma dua kali setahun kalau sehat.” Aku tahu bahwa yang ia lakukan adalah mempersiapkan giginya agar lebih kuat mengunyah makanan dalam pertempuran piring-piringnya. (supaya bisa makan lebih banyak, haha)

Seakan aku disadarkan. Untuk banyak hal kita harus mempersiapkannya. Tidak bisa dengan metode sekali jadi atau kebut semalam. Pasti tidak tenang. Untuk camp yang akan dilakukan beberapa bulan ke depan, untuk pelayanan yang akan diemban dua tahun, untuk UN-BK yang akan dihadapi–semua butuh persiapan.

Persiapan apa saja yang perlu dilakukan adalah hal dasar yang akan dicapai: jika hendak merubahkan hati, siapkanlah hatimu. Jika hendak menciptakan generasi baru, siapkanlah generasimu. Aku berdoa agar pergerakan di tempat kamu berada akan terus ada sebab kamu sekarang sedang mempersiapkan generasi selanjutnya untuk melakukan hal yang sama.

Semua ini sebenarnya kembali pada satu hal: “hal Kerajaan Sorga seumpama“. Apa yang kita persiapkan sekarang, baik secara rohani maupun jasmani seperti acara camp, persekutuan, event besar, atau mempersiapkan sekolah itu seperti ‘latihan’ untuk persiapan yang lebih besar. Menilik kembali Matius 25, kita pun turut serta dalam persiapan tersebut. Mau tidak mau suatu saat yang masih menyala akan masuk, dan yang tidak beroleh api akan tinggal–di kegelapan.

Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.
(Matius 25:13)

Lahir

Dia tidak lahir dalam keterbatasan manusia.
Dia lahir sebagai bentuk asli, bentuk sejati.
Dia tidak bercacat dan tak pula berdosa.
Dia lahir karena kasih.

Sudah ribuan waktu dihabiskan
Menubuatkan kedatangan
Dalam rupa kelahiran
Karena manusia hanya akan mengerti ketika Yang Sempurna datang dalam wujud yang sama.

Kelahiran
Raja Damai (Yes 8:23)

Mari Kita Pugar Kembali

Mari!

Carmia Margaret

Kalau kita melewati Jalan Raya Kramat, kita akan menemui gapura bergambar Bung Karno dan Bung Hatta dengan tulisan nan gagah berani, “Pancasila Rumah Kita” buah karya Bung Franky Sahilatua. Idealis dan nasionalis, memang.

                Tetapi miriskah kita seandainya sepuluh tahun lagi kita tidak akan menemui anak bangsa yang hafal butir-butir satu sampai lima yang dirumuskan dalam rapat seru selama tiga hari? Akankah mimpi BPUPKI itu akan tetap abadi atau malah tergeser dengan menariknya globalisasi? Cendekia tua telah mati. Negarawan tua telah kembali kepada Sang Khalik. Ilmuwan tua tutup usia dengan penelitian terakhirnya yang membawa kesimpulan bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang abadi. Lantas, negara tetap menanti. Menanti mereka—atau mungkin menanti kita.

                Yang muda akan dicari. Indonesia perlu Bung Karno masa kini. Yang kalau pidato mungkin sudah bisa disiarkan langsung ke seluruh penjuru bumi melalui teknologi.  Indonesia butuh Bung Hatta yang agaknya lebih trendi. Tidak lagi pakai sepatu…

View original post 357 more words

Rahasia Kekuatan Persekutuan

Carmia Margaret

RAHASIA KEKUATAN PERSEKUTUAN

Filipi 2:1-11

 

Mari kita mulai dengan suatu pertanyaan. Apakah Rasul Paulus hanya merupakan seorang penginjil saja? Ehm, maksud saya begini: apakah Rasul Paulus merupakan seorang yang memiliki hanya karunia penginjilan saja? Kalau menurut saya, jawabannya tidak. Bagaimana menurut Anda?

 

Mungkin Anda bilang, loh kok jawabannya tidak. Jelas-jelas dalam surat Korintus, Paulus pernah bilang “… aku menanam, Apolos menyiram…” (I Kor 3:6). Menanam disini kan konteksnya menanam benih firman Tuhan, nah itu berarti penginjilan, bukan? Oke, argumen Anda bisa diterima. Dan memang argumen Anda tersebut tepat sekali!

 

Tetapi, saya mau ajak Anda melihat jawaban saya. Menurut saya, Paulus tidak hanya berkarunia penginjilan. Dalam surat-suratnya di sepanjang Perjanjian Baru, kita bias melihat banyak karunia-karunia lain yang dimiliki Paulus. Misalnya karunia menulis. Dalam 1 Korintus 10:10 malah Paulus pernah mengatakan, menurut sebagian orang, ia lebih fasih menulis daripada berbicara. “Sebab, kata orang, surat-suratnya memang tegas dan…

View original post 1,115 more words

Datanglah Kerajaan-Mu, Jadilah Kehendak-Mu

Carmia Margaret

“May Your Kingdom come to the nations,

Your will be done in the peoples of the earth,
‘till the whole world knows that Jesus Christ is Lord,
May Your Kingdom come in us.”
—May Your Kingdom Come In Us
 
            Inilah bait terakhir lagu yang dinyanyikan pada penutup acara Ibadah Natal Perkantas 2011: “Sambut Raja-Mu, Nyatakan Kerajaan-Nya!” Yang dilangsungkan di Gelanggang Remaja Otista pada hari Sabtu, 4 Desember 2011 yang lalu.
            Memang bukan sebuah perayaan natal yang spektakuler menurut saya, mengingat setiap tahun saya kerap kali mengikuti perayaan natal dengan berbagai versi, dari yang hening hanya dengan denting piano saja, hingga yang menampilkan pertunjukan kolosal bak ulangtahun stasiun TV ternama. Bagi saya, natal Perkantas kemarin tidak mewah, tapi tidak sederhana. Dengan kata lain, porsinya pas.
            Namun sungguh saya merasakan sesuatu yang lain ketika mengikuti rangkaian Ibadah. saya hadir di sana bersama Mama dan Tante, dan karena sesuatu…

View original post 1,751 more words

Saya Semakin Tahu bahwa Saya Tidak Tahu

Read it. It works.

Carmia Margaret

Kemarin adalah hari terakhir saya berkuliah di paruh pertama dalam semester kelima saya di seminari. Sebelum benar-benar mengambil waktu untuk berhenti dan berdiam diri dalam minggu depan yang “tenang,” saya mencoba memikirkan hal-hal apa saja yg telah Tuhan kerjakan pada hidup saya di dalam dan melalui seminari ini.  Ternyata, perenungan tersebut membuat saya semakin tahu bahwa diri saya ini tidak tahu.

Pertama, saya semakin tahu bahwa diri saya tidak tahu cukup banyak hal dalam dunia teologia, Biblika, historika, filosofika, maupun praktika.  Hal ini sungguh bertolak belakang dengan anggapan saya terhadap diri saya pada waktu semester pertama, bahwa studi di seminari ternyata mudah, tidak sulit, dan saya cukup mampu untuk menguasainya dan membawanya untuk mengubah wajah gereja. Ah, menuliskannya saja membuat saya pedih, mengingat kepongahan saya waktu itu. Kini, jujur, saya semakin tahu bahwa saya hanya sedikit sekali tahu, atau bisa dibilang juga bahwa saya tidak tahu apa-apa! Firman Allah, dogma…

View original post 440 more words