Senin, 11 Mei 2015 : Hidup

c

Dag.
Dig.
Dug.
Terus berdegup.
Dag.
Dig.
Dug.
Tak henti berpacu.
Dag. Dig. Dug.

Dag.
Hidup ini singkat
Tak ada gunanya membuatnya beraneka
Yang ada hanya hidup terasa hampa
Hidup, akan lewat.
Dig.
Kita berawal dari lahir
Dan pasti akan berakhir
Suatu saat mati akan mampir
Sudah siapkah kita untuk tatap sang Khalik?
Dug.
Tetapi sang Agung itu yang beri hidup
Dia berkata, “Akulah jalan kebenaran dan hidup
Akankah kita akan berhenti dengan ucapan syukur?
Atau sebaliknya, menangis sambil tersungkur?

Jumat, 8 Mei 2015 : Tumpe

I N D O N E S I A — sekali lagi juara umum Olimpiade! :D
People sez:
 Bagus dong
 Yeeay!
 Wah, turut bangga :”
 Ya mesti, orang anak Indonesia selalu dicekoki teori

Baiklah, harus kubilang benar adanya. Kurikulum (red: resep) apapun di Indonesia selama ini mencekoki agar anak Indonesia cerdas berteori. Apapun yang terjadi, anak pasti ingat rumus hukum kirchoff, ataupun kaidah kebahasaan, atau berapa juta kali kita harus memalu sebuah meja agar meja tersebut kuat *apalah*. Intinya satu: sampe otak anak tumpe-tumpe!

Ternyata ga cuma terjadi di dunia pendidikan, tapi hal apapun bisa jadi tumpe-tumpe. Kalo sudah tumpe-tumpe, berarti overdosis, berarti gak baik hasilnya.

*le me is learning to practice* *sok Inggris* Yuk, kita belajar untuk ngelakuin apa yang dipelajari. Jangan sampe cuma cerdas teori tapi ga bisa ngejalanin. Lebih payah parah lagi, kite-kite ga tau teori, gimana mau ngejalanin?

Kalo Jupe bilang “sampe tumpe-tumpe”,
Tentu gak sehat buat badan kite,
Eits, kroscek kroscek….
Ape kite-kite anak Babe juga begene?

Menjadi seorang Kristen bukan berarti jam-jam ibadah di dalam gereja.

Senin, 20 April 2015 : Anjing vs Kucing

1

Sebelum mulai dengan pikiran hati dan curhatan otak hari ini, let me say thanks to:

Tuhan Yesus Kristus yang sudah kasih anugerah dalam pelayanan sejak Adam dan Hawa ada. Thanks buat kesempatan kami turut serta di track-Mu, Tuhan!
Adita Putri Puspaningrum, buat pelayanan yang sudah disebarin, buat percakapan sebelum VG yang gajadi latihan *plak*. Kalau waktu itu kamu ga cerita, mungkin aku ga akan sadar-sadar soal teologi ini yang sebenarnya.

Oke, sebenernya apa yang aku tulis di atas? Teologi apa?

Ketika aku masih liatin video cover lagu dari CuteWorshipProject, papi pulang bawa buku yang dikasih orang buat kami anak-anaknya papi. First impression sih ga wow-wow amat, tapi ketika baca buku tentang 101 Perbedaan antara Kucing dan Anjing, seketika aku sadar bahwa orang yang mungkin belum baca buku teologi Kucing dan Anjing ini sudah ngelakuin di kehidupan sehari-hari: nama kedua yang tertera di atas.

Teologi Kucing dan Anjing itu dua virus yang sekarang ini banyak terjangkit sama orang-orang Kristen di dunia, dimana yang satu berorientasi akusentris, sementara yang satunya El-sentris. Teori ini mirip dengan perdebatan teori heliosentris vs geosentris di abad pertengahan dulu. Sama-sama menggambarkan tata surya, tetapi salah fokus atau engga lengkap.

Masuk ke tahun ketiga sebagai Pengurus Komisi Remaja GKI Ambarawa, banyak suka-duka yang dialami. Mulai dari adaptasi dengan tugas, temen-temen tim pengurus, aktivitas sehari-hari, sampe ketegangan waktu ngejalanin program. Paling inget itu waktu Ultah KomRem ke-44, waktu gue diserahin tugas untuk pimpin acara, di detik-detik terakhir sebelum maju malah cancel. Bukan karena waktu, bukan. Serasa mau nangis waktu itu, tegang banget, karena kurang persiapan. Jadi langsung loncat ke acara selebrasi.

Tiga tahun melayani, tiga tahun pula diri berubah. Waktu pikir program, ada yang usul acara untuk ‘menjaring’ kawan lama supaya jumlah presensi meningkat. Ada juga program supaya pelayan makin ahli dan makin banyak yang mau terlibat. Program yang terlihat paling utama adalah event-event; Natal, Paskah, pelepasan-penyambutan, KKR, dan lain-lain. Paling seneng waktu ada Malam Puji-Pujian yang mana semuanya full musik, bukan karena tujuan yang keren tapi karena ngerasa surviving program lama jadi baru itu keren.1

Tapi, malam ini gue ditampar. Di kitab Pengkotbah, ditulis “Apa yang pernah akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.”
Serasa ditampar karena selama ini fokus dengan apa yang kelihatan. Kenaikan presensi jemaat, keterlibatan pelayanan, jumlah program, anggaran. Man, semua itu sia-sia. Ga salah, tapi bukan itu tujuannya. Generasi gue bakal lulus dua tahun lagi, dan akan ada pengurus baru tahun depan. Tapi KomRem tetep bakal ada. Bumi tetep ada. Cuma kucing yang fokus sama apa yang kelihatan. Cuma Kristen binaragawan yang cari aman.

Ayo, kita jadi anjing yang fokus sama misi Tuhan dateng ke dunia; tujuan kenapa Alkitab ditulis oleh ratusan orang dari berbagai kalangan; tujuan kenapa kita dilahirin di dunia. Thanks, sekali lagi thanks Pa! (ɔ ˘⌣˘)

thanks for the picture: http://reflectionresults.blogspot.com/2012/08/teologi-kucing-anjing.html

Monday, March 30, 2015 : Other

When people tell you that smoker gonna get cancer, stroke, heart attack, people will answer everyone does die. Actually the dangers of smoking are not about those diseases, ’cause it’s true that people die. Let me sum up the reasons why you should stop smoking NOW:

1. It gonna waste your money

2. It disturbs people near you

3. It makes you think I’m not gonna make this. I have sinned.

4. It shows how dumb you are

5. It kills your kids

6. It makes the producers get richer and you will be poorer

7. It makes people struggling in non-smoker campaign.

These haven’t been finished, gotta go now. Will give more later, see ya!

Thursday, March 26, 2015 : School

We won’t know when will we write our last post, or whether it will be the most valuable one. Regardless of whether it will be the one or not, just do our best.

Anyway, now I gonna start my first English post, hope you like it.
School. That’s where we study anything. Our classmates tell us about puberty, our teachers teach hormones and those glands inside our body. Our classmates inform you what internet is, and the teachers insist you to use it. Life’s like school. We living human are the pupils, and of course you know who the teacher is: God. Simple, right?

People now are so into love. In 1 Corinthians 13:13, “But the greatest of these is love“. There are people who fight for (what they call) love. They need freedom to express their love, even if it is for your besties, your siblings, your kids–they fight for it. Yes, the greatest is love, thus force us to express it to our friends, family, etc. But have you think over it; that not all love is about kissing, touching, or maybe even sex?

I believe that we will not put catfish and goldfish in one tank, right? It’s actually the same with love. You cannot love your husband just like how you love your kids. You cannot love your best friend the same way with your teacher. There are four types of love: agape, storge, philia, and eros. These things are the way our heavenly teacher want us to express our love.

First, agape. It’s the way your teacher loves you. He doesn’t take your love, He gives. Even if you cannot fulfill this, (and believe me that you will not!) He still gives.
The second is storge. How we share our life with our family is the easy definition of this kind. From our childhood until we pass away from this world, they still be here: in our heart. Familial love, that’s it.
Philia, things that we adore as teen. Our friends, new and old will give and collect philia. It’s naturally happening and it will gives us endorphine to live our life. Sometimes we feel that philia is way better than storge. Just be realistic.
And the last but not least, eros. This is where the misconception begins. “It is not good for the man to be alone. I will make a helper suitable for him.” Is our best friend the one? No. He doesn’t give Adam a guy to have fun with. He creates Eve.

When people tries to say that “it’s a grace from God” or it’s pluralism, I only can say that love is not only about marriage. Best friends can be the one who relieve you from hurt. Loving people is a requirements for us to be fulfilled. God doesn’t say “marry everyone”, but to love everyone.

Our mindset are tightening. When we hear word Love, we think about kiss and hug. We forget about the sacrificial love He gives. Last week Mrs Retno taught my class about meaning changes, and please don’t let our children learn that “love” is the one which is narrowing. Believe me, God doesn’t create human with limitation, but we did.

* Rome 5:12

Minggu, 22 Maret 2015 : Worthy?

Terima kasih buat semua salam langsung maupun BBM. Sungguh kepedulian di hari istimewa ini, kiranya Tuhan berkati anda sekalian.

Sungguh hingga detik ini tak henti-hentinya Tuhan mengingatkan soal pelayanan. Pada tulisannya tanggal 13 Oktober 2014 lalu, ci Mia menuliskan “lantas tiba-tiba dipuji, sekejap timbullah gejolak di dalam hati, bak roket yang melesat tinggi, menghasilkan rasa hangat dan puas di dalam hati, yang jika tidak dikendalikan maka akan berubah menjadi sikap tinggi hati”. Jujur, Tuhan menggugah hati saya lewat tulisan ini.

Tak jarang kita sebagai warga negara terhormat “gereja” (red: organisasi, jasmaniah) menganggap bahwa tanpa diri kita, sebuah pelayanan tak kan tercapai. “Jika tahun ini bukan saya yang mengkoordinasi drama, pasti acara akan kacau.” atau “Siapa yang akan menari di ibadah besok jika saya tidak bisa hadir?” sering terucap dalam kehidupan pelayanan kita, bukan?

Hal tersebut pun saya alami. Saya tak habis pikir apa yang akan terjadi ketika saya akan pergi meninggalkan pelayanan remaja saya tahun lalu jika saya diterima di SMA Taruna Nusantara. Puji Tuhan: saya tidak diterima, dan yang lebih baik lagi, saya sadar bahwa saya tak layak untuk status tersebut.

Bahkan jika Matius, seorang yang cukup dibenci pun akhirnya bisa dipercayakan Tuhan menulis kitab dengan sangat detil, mengapa kita tidak mempersilakan teman yang lain untuk bergabung dalam pelayanan?

Sabtu, 21 Maret 2015: Worthiness

Tennis 2

Walaupun tayangan “mbak Nana” malam ini sedang gencar mengenai gaji DPR yang menurut wakil sangat kecil, padahal menurut yang diwakilkan sangat besar. I won’t talk about it. Bakal menghabiskan sepuluh periode glasial untuk menyelesaikan keegoisan yang makin menjadi ini. Jadi bagi anda yang sedang tertarik membincangkan politik, anda dipersilakan bergabung di akun lain. ^^

Sudah memasuki tahun keempat bagi saya untuk menjadi aktivis gereja yang ‘sakral dan kudus’. Bau bunga mimbar sudah biasa, jumlah tuts di gereja seakan saya hafal, bahkan berapa jumlah cicak di gereja pun mungkin dapat saya terka. Puji Tuhan, saya tidak sendiri. Ada pengurus Perpustakaan Abraham yang sudah sangat setia menjaga perpustakaan, tak peduli badai dan topan di luar; pengurus remaja yang sangat erat relasinya satu sama lain (sampai-sampai yang mengurus yang diurus O.o ); ada vokal grup Sola Gratia; tim Buletin; dan masih banyak rekan-rekan yang tentu akan menghabiskan jalan Anyer-Panarukan untuk ditulis.

Tapi, apakah saya mengerti apa esensi pelayanan? Jujur saya tidak sadar. Pepatah mengenai yang tua tak selalu tepat memang benar adanya. Empat tahun pelayanan ini diisi dengan kebingungan mengenai apa maksud Tuhan memilih saya yang masih belum bisa lepas dari dosa lama untuk melayani, mengenai paradoks sekolah vs pelayanan, dan kebingungan lain-lain. Kebingungan terjawab seiring kedekatan Bapa terhadap anaknya yang ndagel ini.

Pertama, satu hal yang pasti adalah: Tuhan pilih saya bukan karena ayah saya pendeta.

Tahukah anda bahwa saya tak dapat memilih antara lahir menjadi seorang anak pendeta atau seorang anak pedagang. Saya adalah Acer, seorang anak Tuhan yang berdosa, rapuh. Itulah yang diselamatkan oleh Tuhan lewat salib. Bukan atas keanak pendetaan saya diselamatkan. Sebagai ungkapan syukur, saya melayani. Syukur atas keselamatan, syukur atas kehidupan, syukur atas masalah yang terjadi, syukur atas tantangan yang makin berat.

Berterima kasih Tuhan pakai Bu Sapta untuk sharing malam ini. Saya semakin disadarkan bahwa “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Percuma bila saya semata-mata mengurusi yang mengurus.

Lah, di luar sana banyak yang sakit kok ga dikasih tahu ke mana mereka harus pergi?

Sempat suatu kali saya berpikir dengan sahabat saya: “Kalau dunia ini sedang dan akan terus memburuk, untuk apa kita melayani? Toh tidak ada perubahan juga.” Memang. Dunia yang semakin dipenuhi wakil rakyat haus uang, masyarakat anarki, perwakilan agama yang tidak mewakili agamanya, dan masih banyak lagi. Tertulis di kitab Wahyu.

Kata Pak Agus, seorang pembimbing saya: “Apa yang kamu tuju: perubahannya atau Bapa?”

Seketika saya sadar bahwa apa yang saya cari selama ini adalah perubahan teman-teman, perubahan diri, perubahan neg’ri ini. Tetapi bukan itu yang Tuhan mau. Serahkan kekuatiran pada Bapa. Lakukan apa yang bisa kita lakukan: pelayanan. Motivasi “perubahan yang terjadi” hanya akan menghambat kesempatan hubungan dengan Bapa.

“Seperti e*k, kalau sudah dilepaskan ya sudah; disiram.” Menurut saya, benar juga; kalau sehabis pelayanan saya masih mengharapkan perubahan, atau pujian, atau apapun itu, itu seperti mengharapkan sesuatu yang muncul setelah kita e*k. Seharusnya setelah e*k kita siram, bukan kita perlihatkan pada seluruh dunia bahwa kita baru saja e*k! – Pak Agus

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa saya harus lelah melayani? Saya bukan Spongebob yang tanpa alasan bekerja di Krasti Krep. Hanya karena terima kasih saya melayani. Lagi-lagi terima kasih. Bagi saya, apa yang Tuhan anugerahkan akan saya persembahkan bagi Tuhan kembali. Jika saya diberi kesempatan menjadi pengurus remaja, kemungkinan besar ada naskah cerita yang sangat luar biasa sedang dipersiapkan. Namun jika tidak, pasti ada hal lain yang dipersiapkan oleh Bapa. Bisa jadi tendangan sepak bola atau pukulan taekwondo adalah cerita yang lain, yang jauh lebih keren daripada berdiam sepenuhnya di dalam gedung gereja.

Perenungan ini bukan tulisan yang layak dijadikan bahan dasar teologi, tidak. Saya hanya manusia biasa. Kiranya besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya, itu saja.

Sarayu

Eits, penulis tidak sedang jatuh cinta pada Sara yang “ayu”. Ini adalah satu ungkapan kasih dari seseorang yang semrawut terhadap dia yang sudah mentransformasi semua semrawut itu. Tanpanya, mungkin sekarang penulis sudah ada di bawah batu nisan. Atau sekarang sedang bergantung di tali tambang dengan darah segar menetes di bawah.

Di penghujung bulan Valentine ini, kasih memang adalah hal utama yang dibahas oleh anak muda. Kasih membutuhkan pengorbanan. Kasih mengharuskan kepekaan. Kasih terkadang terlihat satu arah. Rambu-rambu dunia memang seringkali menjadi peluang yang besar bagi “Bapa segala kebohongan” untuk bekerja dalam hidup kita. Mungkin kita sudah melakukan hal-hal defensif dengan mengikuti pendalaman iman, aktif pelayanan, menjadi pengurus komisi, tidak pernah bolong baca Alkitab. Namun bukan hal itulah yang menjadi kunci. Itu hanya penghubung. Rambu dunia ini digunakan iblis dengan mudahnya untuk merubah tatanan hidup ini terlihat semakin runyam.

Well, manusia tidak akan pernah bisa menghadapi hal ini sendiri. Itulah faktanya: manusia tidak akan pernah bisa menghadapi hal ini sendiri. Keluarga, sahabat, pembimbing rohani memang bukan diri kita sendiri (berarti kita menghadapinya bersama), tetapi bukan itu yang Dia mau.

Kita sebagai manusia sudah diberi GPS. Seperti yang sudah penulis ketik, kasih mengharuskan kepekaan. Tinggal kasih inilah yang bisa membuat kita ‘aman’. I mean, jadilah peka terhadap suara Dia. GPS ini berbeda, GPS ini akan memberikan jalan terbaik untuk tujuan kita; dan ketahuilah bahwa tujuan itu hanya GPS yang tahu.

Memang terlihat asyik ketika kita ‘melanggar’ aturan GPS. Sebab GPS tentu akan melihatkan jalan lain yang kita pilih. Namun percayalah bahwa dampak GPS ini besar.

Penulis hanya bisa sebatas ini memberi tahu. Penulis juga sedang belajar. Satu hal yang pasti, GPS ini kunci, dengan panggilan oleh penulis Sarayu, yang tak akan lelah mentransformasi kesemrawutan kita.