Thursday, March 26, 2015 : School

We won’t know when will we write our last post, or whether it will be the most valuable one. Regardless of whether it will be the one or not, just do our best.

Anyway, now I gonna start my first English post, hope you like it.
School. That’s where we study anything. Our classmates tell us about puberty, our teachers teach hormones and those glands inside our body. Our classmates inform you what internet is, and the teachers insist you to use it. Life’s like school. We living human are the pupils, and of course you know who the teacher is: God. Simple, right?

People now are so into love. In 1 Corinthians 13:13, “But the greatest of these is love“. There are people who fight for (what they call) love. They need freedom to express their love, even if it is for your besties, your siblings, your kids–they fight for it. Yes, the greatest is love, thus force us to express it to our friends, family, etc. But have you think over it; that not all love is about kissing, touching, or maybe even sex?

I believe that we will not put catfish and goldfish in one tank, right? It’s actually the same with love. You cannot love your husband just like how you love your kids. You cannot love your best friend the same way with your teacher. There are four types of love: agape, storge, philia, and eros. These things are the way our heavenly teacher want us to express our love.

First, agape. It’s the way your teacher loves you. He doesn’t take your love, He gives. Even if you cannot fulfill this, (and believe me that you will not!) He still gives.
The second is storge. How we share our life with our family is the easy definition of this kind. From our childhood until we pass away from this world, they still be here: in our heart. Familial love, that’s it.
Philia, things that we adore as teen. Our friends, new and old will give and collect philia. It’s naturally happening and it will gives us endorphine to live our life. Sometimes we feel that philia is way better than storge. Just be realistic.
And the last but not least, eros. This is where the misconception begins. “It is not good for the man to be alone. I will make a helper suitable for him.” Is our best friend the one? No. He doesn’t give Adam a guy to have fun with. He creates Eve.

When people tries to say that “it’s a grace from God” or it’s pluralism, I only can say that love is not only about marriage. Best friends can be the one who relieve you from hurt. Loving people is a requirements for us to be fulfilled. God doesn’t say “marry everyone”, but to love everyone.

Our mindset are tightening. When we hear word Love, we think about kiss and hug. We forget about the sacrificial love He gives. Last week Mrs Retno taught my class about meaning changes, and please don’t let our children learn that “love” is the one which is narrowing. Believe me, God doesn’t create human with limitation, but we did.

* Rome 5:12

Minggu, 22 Maret 2015 : Worthy?

Terima kasih buat semua salam langsung maupun BBM. Sungguh kepedulian di hari istimewa ini, kiranya Tuhan berkati anda sekalian.

Sungguh hingga detik ini tak henti-hentinya Tuhan mengingatkan soal pelayanan. Pada tulisannya tanggal 13 Oktober 2014 lalu, ci Mia menuliskan “lantas tiba-tiba dipuji, sekejap timbullah gejolak di dalam hati, bak roket yang melesat tinggi, menghasilkan rasa hangat dan puas di dalam hati, yang jika tidak dikendalikan maka akan berubah menjadi sikap tinggi hati”. Jujur, Tuhan menggugah hati saya lewat tulisan ini.

Tak jarang kita sebagai warga negara terhormat “gereja” (red: organisasi, jasmaniah) menganggap bahwa tanpa diri kita, sebuah pelayanan tak kan tercapai. “Jika tahun ini bukan saya yang mengkoordinasi drama, pasti acara akan kacau.” atau “Siapa yang akan menari di ibadah besok jika saya tidak bisa hadir?” sering terucap dalam kehidupan pelayanan kita, bukan?

Hal tersebut pun saya alami. Saya tak habis pikir apa yang akan terjadi ketika saya akan pergi meninggalkan pelayanan remaja saya tahun lalu jika saya diterima di SMA Taruna Nusantara. Puji Tuhan: saya tidak diterima, dan yang lebih baik lagi, saya sadar bahwa saya tak layak untuk status tersebut.

Bahkan jika Matius, seorang yang cukup dibenci pun akhirnya bisa dipercayakan Tuhan menulis kitab dengan sangat detil, mengapa kita tidak mempersilakan teman yang lain untuk bergabung dalam pelayanan?

Sabtu, 21 Maret 2015: Worthiness

Walaupun tayangan “mbak Nana” malam ini sedang gencar mengenai gaji DPR yang menurut wakil sangat kecil, ataupun menurut yang diwakilkan sangat besar. I won’t talk about it. Bakal menghabiskan sepuluh periode glasial untuk menyelesaikan keegoisan yang makin menjadi ini. Jadi bagi anda yang sedang tertarik membincangkan politik, anda dipersilakan bergabung di akun lain. ^^

Sudah memasuki tahun keempat bagi saya untuk menjadi aktivis gereja yang ‘sakral dan kudus’. Bau bunga mimbar sudah biasa, jumlah tuts di gereja seakan saya hafal, bahkan berapa jumlah cicak di gereja pun mungkin dapat saya terka. Puji Tuhan, saya tidak sendiri. Ada pengurus Perpustakaan Abraham yang sudah sangat setia menjaga perpustakaan, tak peduli badai dan topan di luar; pengurus remaja yang sangat erat relasinya satu sama lain (sampai-sampai yang mengurus yang diurus O.o ); ada vokal grup Sola Gratia; tim Buletin; dan masih banyak rekan-rekan yang tentu akan menghabiskan jalan Anyer-Panarukan untuk ditulis.

Tapi, apakah saya mengerti apa esensi pelayanan? Jujur saya tidak sadar. Pepatah mengenai yang tua tak selalu tepat memang benar adanya. Empat tahun pelayanan ini diisi dengan kebingungan mengenai apa maksud Tuhan memilih saya yang masih belum bisa lepas dari dosa lama untuk melayani, mengenai paradoks sekolah vs pelayanan, dan kebingungan lain-lain. Kebingungan terjawab seiring kedekatan Bapa terhadap anaknya yang ndagel ini.

Pertama, satu hal yang pasti adalah: Tuhan pilih saya bukan karena ayah saya pendeta.

Tahukah anda bahwa saya tak dapat memilih antara lahir menjadi seorang anak pendeta atau seorang anak pedagang. Saya adalah Acer, seorang anak Tuhan yang berdosa, rapuh. Itulah yang diselamatkan oleh Tuhan lewat salib. Bukan atas keanak pendetaan saya diselamatkan. Sebagai ungkapan syukur, saya melayani. Syukur atas keselamatan, syukur atas kehidupan, syukur atas masalah yang terjadi, syukur atas tantangan yang makin berat.

Berterima kasih Tuhan pakai Bu Sapta untuk sharing malam ini. Saya semakin disadarkan bahwa “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Percuma bila saya semata-mata mengurusi yang mengurus.

Lah, di luar sana banyak yang sakit kok ga dikasih tahu ke mana mereka harus pergi?

Sempat suatu kali saya berpikir dengan sahabat saya: “Kalau dunia ini sedang dan akan terus memburuk, untuk apa kita melayani? Toh tidak ada perubahan juga.” Memang. Dunia yang semakin dipenuhi wakil rakyat haus uang, masyarakat anarki, perwakilan agama yang tidak mewakili agamanya, dan masih banyak lagi. Tertulis di kitab Wahyu.

Kata Pak Agus, seorang pembimbing saya: “Apa yang kamu tuju: perubahannya atau Bapa?”

Seketika saya sadar bahwa apa yang saya cari selama ini adalah perubahan teman-teman, perubahan diri, perubahan neg’ri ini. Tetapi bukan itu yang Tuhan mau. Serahkan kekuatiran pada Bapa. Lakukan apa yang bisa kita lakukan: pelayanan. Motivasi “perubahan yang terjadi” hanya akan menghambat kesempatan hubungan dengan Bapa.

Kata Pak Agus, “Seperti e*k, kalau sudah dilepaskan ya sudah; disiram.” Menurut saya, benar juga; kalau sehabis pelayanan saya masih mengharapkan perubahan, atau pujian, atau apapun itu, itu seperti mengharapkan sesuatu yang muncul setelah kita e*k. Seharusnya setelah e*k kita siram, bukan kita perlihatkan pada seluruh dunia bahwa kita baru saja e*k!

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa saya harus lelah melayani? Saya bukan Spongebob yang tanpa alasan bekerja di Krasti Krep. Hanya karena terima kasih saya melayani. Lagi-lagi terima kasih. Bagi saya, apa yang Tuhan anugerahkan akan saya persembahkan bagi Tuhan kembali. Jika saya diberi kesempatan menjadi pengurus remaja, kemungkinan besar ada naskah cerita yang sangat luar biasa sedang dipersiapkan. Namun jika tidak, pasti ada hal lain yang dipersiapkan oleh Bapa. Bisa jadi tendangan sepak bola atau pukulan taekwondo adalah cerita yang lain, yang jauh lebih keren daripada berdiam sepenuhnya di dalam gedung gereja.

Perenungan ini bukan tulisan yang layak dijadikan bahan dasar teologi, tidak. Saya hanya manusia biasa. Kiranya besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya, itu saja.

Sarayu

Eits, penulis tidak sedang jatuh cinta pada Sara yang “ayu”. Ini adalah satu ungkapan kasih dari seseorang yang semrawut terhadap dia yang sudah mentransformasi semua semrawut itu. Tanpanya, mungkin sekarang penulis sudah ada di bawah batu nisan. Atau sekarang sedang bergantung di tali tambang dengan darah segar menetes di bawah.

Di penghujung bulan Valentine ini, kasih memang adalah hal utama yang dibahas oleh anak muda. Kasih membutuhkan pengorbanan. Kasih mengharuskan kepekaan. Kasih terkadang terlihat satu arah. Rambu-rambu dunia memang seringkali menjadi peluang yang besar bagi “Bapa segala kebohongan” untuk bekerja dalam hidup kita. Mungkin kita sudah melakukan hal-hal defensif dengan mengikuti pendalaman iman, aktif pelayanan, menjadi pengurus komisi, tidak pernah bolong baca Alkitab. Namun bukan hal itulah yang menjadi kunci. Itu hanya penghubung. Rambu dunia ini digunakan iblis dengan mudahnya untuk merubah tatanan hidup ini terlihat semakin runyam.

Well, manusia tidak akan pernah bisa menghadapi hal ini sendiri. Itulah faktanya: manusia tidak akan pernah bisa menghadapi hal ini sendiri. Keluarga, sahabat, pembimbing rohani memang bukan diri kita sendiri (berarti kita menghadapinya bersama), tetapi bukan itu yang Dia mau.

Kita sebagai manusia sudah diberi GPS. Seperti yang sudah penulis ketik, kasih mengharuskan kepekaan. Tinggal kasih inilah yang bisa membuat kita ‘aman’. I mean, jadilah peka terhadap suara Dia. GPS ini berbeda, GPS ini akan memberikan jalan terbaik untuk tujuan kita; dan ketahuilah bahwa tujuan itu hanya GPS yang tahu.

Memang terlihat asyik ketika kita ‘melanggar’ aturan GPS. Sebab GPS tentu akan melihatkan jalan lain yang kita pilih. Namun percayalah bahwa dampak GPS ini besar.

Penulis hanya bisa sebatas ini memberi tahu. Penulis juga sedang belajar. Satu hal yang pasti, GPS ini kunci, dengan panggilan oleh penulis Sarayu, yang tak akan lelah mentransformasi kesemrawutan kita.

Pacar

.: Disusun dalam rangka pemenuhan tugas PAK :.

Jika melihat tuts yang ada di keyboard, “U” dan “I” tak pernah terpisahkan. Tak terpisahkan oleh “X” yang berada jauh di bawah. Tak terpisahkan oleh “Space” yang mendekam panjang di sebelah “windows”. Seperti itulah kita, remaja ciptaan Allah yang adalah satu. Satu bulan bersama si ‘dia’ tak terpisahkan oleh ‘eks’ (red: mantan) yang mendekam jauh di lubuk hati terdalam. Tak terpisahkan oleh ‘spasi’ (red: ruang dan waktu) yang hanya ada sebatas jendela rumah. Satu bulan kemudian, bersama si ‘dia’ yang lain, dengan status keberadaan yang sama—tak terpisahkan. Kita semua sudah kenal hal ini, sebuah fenomena ajaib dan unik yang kita sebut pacaran. Pacaran tentu sangat lumrah di kalangan remaja. Disebabkan gejolak hormon yang memicu perubahan tentu saja rasa suka terhadap lawan jenis akan timbul. Tak elak, banyak anak muda sekarang malu disebut ‘jones’, alias jomblo ngenes. Kalau tidak dibilang ‘homo’, ya ‘ga laku’ istilah kerennya. Namun, apakah yang benar-benar disebut dengan ‘pacaran’? ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤  ❤ ❤ ❤ ❤  ❤ ❤  ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤  ❤ ❤ ❤ ❤  ❤

/pa·car / n teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih;kekasih;

Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Pada kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang sebenarnya. Remaja yang tentunya belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran dengan sedikit saduran) Jika ditanya, sebagian besar anak muda di Indonesia akan menjawab sudah pernah pacaran (atau hubungan sejenisnya). Bisa dikatakan, hubungan antara sepasang laki-laki dan perempuan adalah definisi kasar dari pacaran bagi anak muda.

Teringat masa-masa ketika pertama kali mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis. Usia saat itu 13 tahun. Lewat facebook, saat itu dunia seakan hanya milik berdua. Sejak percakapan di kala pertama, hati langsung jatuh cinta. Aturan memang larang berpacaran, namun tak dapat dibohongi lagi hati nurani, gejolak suka itu tumbuh. Benar, itu terjadi secara otomatis. Namun sayang, rasa suka yang timbul itu sering diidentifikasikan sebagai ‘pesan’ dari yang Maha Kuasa untuk berpacaran. Padahal sebenarnya tidak. Berjalan dan berlari memang mirip, namun keduanya berbeda. Seperti itu pula rasa suka dan berpacaran. Ketika rasa suka melanda, hati boleh menyanjung pribadi di sana. Namun bukan berarti komitmen untuk menjalin hubungan itu sama. Menurut pendapat saya, pacaran adalah komitmen untuk memulai adanya hubungan timbal-balik antara dua insan untuk mengenali lebih dalam seseorang dengan yang lain, mempersiapkan menuju tahap pernikahan. Hal ini memicu adanya ketidakpamahaman seseorang terhadap batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam berpacaran.

SMA? Boleh? Ya, jalan tiap orang berbeda. Ada yang menikah dengan seseorang yang dahulu sudah dipacari sejak SMP. Ada pula yang baru pertama bertemu di universitas kemudian menikah. Jalan Tuhan memang tak dapat ditebak. Seseorang tidak dapat melarang atau menganjurkan berpacaran. Namun selama tidak melewati batasan, dan sudah siap memegang komitmen untuk bersama dengan orang lain, keputusan di tangan kita. Tinggal kita sebagai manusia, bagaimana meresponinya.

Song for Graduation

eleazarevan:

Oh Tuhan :3

Originally posted on Kevin's Blog:

I made this with my friend, Yosua Firma Kurniawan.

This is the link for the mp3 : http://snd.sc/OY8UXu

*sorry for my bad voice*

Check This out!

The lyric : (in Bahasa, there’s no english translation ^^)

Oh Tuhan…

t’rima kasih atas berkatMu,

atas kelulusan yang Kau beri padaku,

dan teman-temanku

Oh Tuhan…

t’rima kasih atas guruku,

t’rima kasih atas teman-temanku yang mendukung aku

** Saat ku melangkah,

ku merasa putus asa

tapi Kau s’lalu ada,

untuku

Oh Bunda…

doamu s’lalu ada s’tiap hari

dalam suka dukaku,

kau ada bagiku

Oh Ayah…

kaulah penopang dalam hidupku

kau berikan aku semua yang terindah dalam hidupku

**Kaulah orangtua,

yang selalu membimbingku untuk menjadi,

jadi lebih baik

Oh Guru…

kau berikan ilmu

yang berguna untuk masa depanku

yang penuh harapan

**Kau penuh sabar,

hadapi kami yang nakal

kaulah pahlawan,

tanpa tanda jasa

Oh Teman…

kita berjuang bersama-sama

lewati masa duka dan senang ooo…

**Berjalan bersama,

lewati…

View original 35 more words

Rabu, 7 Januari 2015 – Jalan

Setapak. Demi setapak. Perjalanan ribuan kilo itu pasti akan menemui akhir. Tantangan bukan ada di permulaan ataupun akhir. Itulah yang disebut perjalanan.

Bersyukur natal bisa berlalu bukan tanpa apa-apa. Winnie bisa membuka rangkaian dengan mantap. Nando bisa mengheningkan sekejap malam dengan buaian ceritanya yang dilantunkan dengan lantang. Pelayan-pelayan choir bisa mengiringi puji-pujian terhadap Tuhan dengan penuh gairah. Sola Gratia bisa bernyanyi dengan ceria. Tim band bisa menguntaikan nuansa anggun selama natal. Semua ‘terlihat’ sukses.

Merupakan anugerah dari Tuhan 2014 bisa selesai dengan mantap. Perlu banyak belajar untuk 2015, menjelang memasuki masa ‘semi-senior’ di SMA, 50 tahun usia geraja, 45 tahun komisi remaja, dan 16 tahun bersua dengan dunia.

Jalan.

***

Perjalanan bersama Ko Yoel dan Ratih menembus 450 km di dalam bis di akhir tahun menjadi pembuka yang cukup menggairahkan. Pada akhirnya menembus batas kota Malang pada pukul 05.00, hingga pada pukul 06.00 sampai di kampus SAAT.

Ya, aku kembali setalah 6 bulan pergi :p.

Di sana aku belajar, bukan belajar untuk saling membantu menumpuk piring di meja makan ataupun belajar menjaga barang-barang agar tidak ketinggalan. Ya, belajar berserah.

***

Mungkin seringkali kita minta Tuhan untuk membenahi hidup kita. Kita gagal dalam menjaga semuanya. Menjaga hubungan, kekudusan, komitmen, gaya hidup, kata-kata. Tapi kita sering tak sadar bahwa diri kita bak komputer yang minta direparasi namun menyembunyikan keyboard dan mouse kita.

IMG_20150104_0002

Sadarkah kita bahwa yang Dia minta hanyalah percaya? Dia tidak mengharuskan kita datang ke gereja dan aktif pelayanan. Dia tidak minta kita buat sesi doa berjam-jam untuk datang padaNya. Dia tidak minta kita menangis ketika kita butuh masalah. Hanya percaya. That’s it. Percaya bahwa Tuhan punya kuasa lebih besar dari dosa-dosa kita. Percaya bahwa hanya Tuhan jalan hidup kita. Percaya.

Bangsa Israel yang besar itu ‘gagal’ untuk menjaga hidup mereka selama perjalanan 40 tahun. Baal menjadi dewa mereka, Asyera menerima sesembahan bangsa yang dikhsususkan itu. Ingat, laut teberau itu tidak membelah dengan sendirinya; air di Mara tidak berubah manis hanya dengan tongkat kayu itu. Tuhan bekerja.

Biarkan Tuhan bekerja di hidup kita. Tugas kita adalah menjalankan amanatNya, dan biarkan Tuhan yang memimpin perjalanan. Ketahuilah, “kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Masih mau andalin diri sendiri? ;)

Kamis, 20 Nov 14 : Argh!

Hubungan

Suatu ketika, aku duduk di pinggir taman. Mataharinya mungkin lagi capek, jadi sisanya tinggal sedikit, malah makin memperindah tampak taman dengan tetesan air sisa hujan tadi siang. Burung-burung gereja yang biasanya ada di sini lagi pada mudik, udah waktunya mereka beres-beres rumah. Kodok juga belum pada lahir (mungkin), yang keliatan cuma kecebong. Argh, rasanya pengen teriak. Sesak ini dada! Argh, rasanya udah ga tahan. Tapi… Takut dikira orang gila! Argh, batu udah habis, ga ada yang bisa dilempar ke kolam. Tiba-tiba dateng petugas kebersihan, duduk di sebelahku. “Dunia ini berat ya,” katanya. Astajim, baru juga mikirin beratnya ngurusin kekasih, orang tua di rumah yang ga pernah berhenti marah, tugas sekolah seabrek, dateng kakek-kakek tua bau penguk.

***

“Omongin aja apa yang ada di pikiranmu. Siapa tahu itu bantu kamu.” dia senyum. Aish, senyumannya makin horor!

Tiba-tiba entah kenapa aku pengen ngomong.. Mulai dari yang paling deket rumah; tetangga. keluarga.

“Sore tadi pulang sekolah rumah kosong. Kunci rumahku ketinggalan di dalem rumah, tapi aku ga tau di mana. Semua aku telpon ga angkat, aku pergi. Pulang-pulang dimarahin, katanya kunci kok bisa hilang. Terus malemnya papa dateng isep rokok, sambil ngomong ke aku ‘Malem, Tong’. Udah kecium dari jarak lima meter kalo dia barusan minum. Minum alkohol. Mann, keuangan buat bayar kontrakan belum kelar udah habis buat minum!”

Kakek itu diam, lekuk senyumnya cuma manggut-manggut. Ya, mungkin aku harus lanjut.

“Udah gitu adek minta yang aneh-aneh lagi! Jelas-jelas tugas sekolah juga masih seabrek, dia minta diajak main. Mann!! Malemnya rasa pengen marah, trus mau ke warung sebelah beli kopi malah hujan es.”

Kakek itu tetep aja diam. Duh, apa emang bener aku masih waras?

“Ego. Apa itu yang masih ada di pikiranmu?”

Dalem hati aku teriak ‘Iya namaku emang Ego, Abednego. Tapi apa hubungannya?’

“Bukan, bukan kamu. Keluarga itu hubungan. Kalau ego kamu belum lepas, kalau kamu masih belum mau jadi satu garis lengkuk, lingkaran itu ga akan pernah jadi.”

Ndasku tambah mumet!

“Keluarga itu kaya lingkaran. Ga ada bagan kayak struktur OSIS di sekolah. Bukan kaya boss dan bawahan. Keluarga, hubungan. Mungkin keluargamu ga sempurna, tapi inget bahwa Tuhan bisa pake berbagai macam cara buat bikin kamu tumbuh. Ini masalah respon, bukan ada atau engga ada.”

Sore itu berlalu dengan mentari yang keliatan makin capek ngasih sinar. Tapi kali ini beda. Aku coba untuk terus bersyukur. Aku tahu itu susah…

Rabu, 12 November 2014 : Padang Gurun

bb

“Suatu hari, berjalanlah seorang muda di padang gurun. Tiga hari lamanya ia tidak minum selain air keringatnya. Ditemuinya segeleas air berwarna hijau, lengkap dengan ‘lalapan‘nya berupa jentik-jentik dan pasir di dasar gelas.”

Kalo kamu ada di padang itu, apa yang bakal kamu lakuin? Bilang “Jangan minum, entar sakit perut!”? Aku kasih tahu, tetep dia bakal minum air di gelas busuk itu. Ga peduli tiga jam kemudian ia mati atau apa, dia tetep minum. Why? Karena dia haus. It’s simple, man!

Seringkali kita ngelakuin sama seperti ilustrasi di atas. Kita larang orang lain untuk berbuat satu hal; kita larang temen kita ngerokok, kita larang mama kita marah, kita larang guru kita kasih tugas, kita larang temen kita untuk ngegame sampe subuh. Tapi gaes, mereka mungkin sama kayak pemuda di atas, seorang figur yang perlu ngelegain kehausan dia. Mungkin, temen kita perlu cinta kasih. Mungkin, mama kita perlu ngeliat anaknya rajin. Mungkin guru kita ga pengen kita jadi anak biasa-biasa. Mungkin temen kita butuh figur ‘bapak’, sebab bapaknya udah pergi sama cewek lain.

Gaes, buka mata dan hati. Kalau kamu tahu ada temen yang ‘kosong’, trus kalian perintahin mereka untuk engga isi diri mereka dengan apa yang kita anggap jahat; apa itu nyelesein masalah? Engga! Mereka udah tahu hati mereka perlu diisi. Mereka juga udah tahu kalau mereka butuh Tuhan. Tapi gimana bisa mereka ‘minum’ kalau ‘gelas’ yang ada cuma setengah gelas air buthek lengkap dengan uget-uget?

Ga ada jalan selain Dia.

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.” – Maz 62:8

Selain berkata “Jangan minum!”, sediakanlah sebotol air bersih yang sejuk. Dia bisa tetap hidup, dan mungkin bisa ngebagiin sisa botolnya ke pemuda lain yang di padang gurun. Intinya, kalau kamu belum punya botol itu, kau ga akan bisa kasih. Doa sama Tuhan, percaya aja dan do it.

Jangan do what you love, tapi love what you do. Sebab, tanggung jawab berhenti di pundakmu, dan itu harus dilakukan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Rabu, 5 November 2014: Natal

10153923_730283220390229_1798518704034175864_n

Rembulan mungkin tersipu malu menyinarkan bintiknya pada bumi. Mungkin juga tidak. Namun gemerlap lampu natal dan sorak sorai pemimpin pujian tak kunjung berhenti, menjadi penantian pasti seorang pedagang serabi di pinggir gereja suci.

Memang, merah Natal dan hijau pohon natal belum semerbak di etalase toko. Harmoni paduan suara nyaring pun tak jua terdengar. Dapat dibayangkan kemegahan pesta natal para aristokrat ‘pewaris kerajaan Allah‘ dengan kemilau gaun dan pantulan semir sepatu pantofel yang legam di hari Natal. Yang selalu menjadi hiruk-pikuk di hati dan kepala adalah “Tentang Kita”.

Sejak kecil memang sudah menjadi pertanyaan wajib bagi kami anak-anak sekolah minggu, “Mengapa Yesus turun ke dunia?“. Jawaban wajibnya adalah, “Untuk menebus dosa manusia!“. Disambut riuh tepuk tangan, dengan bangga kami duduk kembali usai menjawab.

Sejak itulah, pementasan drama kreatif oleh tangan-tangan yang segambar dengan Dia berhasil dituntaskan di tiap akhir tahun, menjadi kebanggan penuh kenangan. Siapa yang bangga? Kami. Tiap tahun, persekutuan remaja dan pemuda diberi kesempatan berkarya di perayaan lahirnya Kristus ke bumi.

Natal 2011

Di tahun 2011, dengan sukses tim drama berkolaborasi antara puluhan anak muda untuk mementaskan kesederhanaan keluarga petani yang mengingatkan kita akan kasih Kristus yang selalu mencintai kita, gimanapun kita; perokok, penjudi, pemabuk, selingkuhan, dsb. Mengguanakan teknologi filmografi yang lumayan mumpuni, film itu berhasil mencairkan ratusan pasang mata di Natal itu.

Natal 2012

2012 adalah puncak kepuasan kami; hampir seluruh anak remaja dan pemuda berkumpul memproduksi suatu tamparan bagi pemerintah yang dengan berani membakar pasar kebanggaan kami, Pasar Projo. Pujian dan saran beruntun menghampiri kami dengan sendirinya.

Natal 2013

Tahun 2013, melatih adik-adik sekolah minggu berperan drama kelahiran-Nya, dengan segala keimutan mereka dan kepolosan yang terpancar. Tentu, semua itu karena anugerah-Nya!

Sungguh kesenangan itu tak terelakkan.

Kami bernyanyi,

Kami berdiskusi,

Kami menangis,

Ya, kami terlihat bertumbuh.

Tuhan memang menyertai kami dalam proses pembuatan itu. Ga mungkin Tuhan biarin kita sampai tergeletak. (Maz 37:24) Tapi pertanyaan sesungguhnya adalah, apakah betul Tuhan Yesus lahir di kandang domba untuk menebus dosa manusia?

Jawabannya, BETUL. Tetapi tidak benar. Ya, Yesus memang cinta sama kita dan ingin kita semua bisa datang ke Bapa lewat diriNya. Tapi ada hal besar lain yang Tuhan sediain buat kita: ini tentang kita mau ambil apa engga.

Lahir di rumah saja mungkin buat kita udah ga ada kelas, apalagi di kandang domba? Ya, Dia sengaja ga pilih era modern kaya kita, bisa update status tiap tiga detik; Dia sengaja ga pilih RS ternama di ibukota. Sebab Dia itu pengen kita jadi kayak Dia. (1 Yoh 2:6) Kita diciptain segambar, man.

Dia pengen kita refleksiin diri. Bukan masalah meriahnya puji-pujian, atau indahnya editan dalam film.

Dia pengen kita jadi seperti Dia, merendahkan diriNya agar kita ngerti seperti apa rupa Bapa yang sejati, supaya kita yang masih kecewa sama bapak kita bisa tahu apa sih cinta Bapa yang kekal itu. Supaya kita yang sudah diselametin bisa merendahkan diri dan dengan kesederhanaan membawa perubahan bagi kota kecil kita, bagi keluarga kita.

Akan tetap terjadi kota Ambarawa dengan korupsi, akan tetap terjadi anak putus sekolah akibat paksaan orang tua. Akan terus terjadi pencemaran jalan kota, akan terus terjadi diri yang hancur hati akibat rusaknya keluarga.

Tetap(i) inget, Tuhan ada di sampingmu. Mungkin sekarang ga keliatan atau ga kerasa. Tapi Dia itu ada di samping kamu, gandeng tangan kamu. Jangan takut, percaya saja!