Sudah Dewasa: Kasih [Bagian 2]

Minggu, 5 Juni 2016 menjadi hari bersejarah. Entah mengapa banyak hal gila terjadi dalam hidupku. Pada intinya, semua ini terarah pada satu kata yang akan kita bahas di bagian kedua dari serial “Sudah Dewasa”: Kasih.

Hari ini panitia camp super yang aku cintai diajak untuk kumpul, sekedar sharing tanpa membahas hal-hal berbau teknis dan masalah tetek-bengek ketidaksiapan camp ini. Inisiator acara hari ini meminta maaf karena terlambat: dimaafkan. Tapi aku belajar banyak dan berterima kasih pada inisiator—mba Risti—yang sudah bawa hari ini super. Thanks, mbak!

Kami janjian jam 4 tapi sampe jam 4.15 salah seorang teman belum selesai mandi dan kami menunggunya di Gamblok. Tiba-tiba muncul pesan whatsapp berbunyi: “Ko, maaf hari ini aku ga ikut”

What the.

Aku sudah berniat untuk marah dan membatalkan acara—padahal acara ini bukan acaraku! Pada akhirnya kuurungkan niatku dan kami melanjutkan perjalanan ke kelas. Tanpa diduga-duga, banyak hal terjadi dan berkat ini terlalu baik untuk disimpan. Kiranya hikmat yang sudah Tuhan taruh ke teman-teman boleh aku sharing-kan ke pembaca sekalian. Salam. ^^

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.

Sharing dibuka dengan dialog “Ga dibuka doa sek, nih?”
Tidak. Acara kali ini akan berbeda dan membudaya. Tidak ada yang namanya ritual, menurutku. Tuhan sendiri tidak berdoa sebelum makan, karena Dia Tuhan. Maksudku, ayolah. Ini bukan ajang ritual dan nubuat akan berakhir. Bahasa roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap.

Kami memuji kebesaran Tuhan. Kami menyembah Raja kami. Kami meninggikan Dia dan hendak terbang tinggi. Ya, kasih tidak berkesudahan. Kalau namanya cinta, kasih, pasti ga akan setengah-setengah. Kalau namanya sayang, pasti penuh kejutan. Begitu pula kasih kita kepada Tuhan, kita tunjukkan dengan kejutan dan all-out. Terbukti, kami belajar untuk menempatkan posisi di mana Tuhan berada: di tempat yang maha tinggi. Kami mengasihi Dia. Kami sayang Dia.

Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna.

Kami menyadari kami tidak ada apa-apanya. Dalam penyembahan awkward ini, kami mencoba untuk menggunakan pengetahuan kami dan.. gagal. Gitar yang dipetik dengan harmoni beberapa kali tersendat dan bunyinya tidak nyaring. Pujian yang kami buat-buat tiba-tiba fals.

Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap.

Tetapi seketika semua berubah ketika kami sadar: bukan kami yang ditinggikan di sini, tapi Dia.
Tuhan tak ingin manusia melebihi strata Tuhan. Kami belajar untuk menyembah dengan hati, dan voila muncullah tetes air mata dari hati kami. Kami lelah. Kami tak mampu. Begitu kami mengutarakan keberadaan kami yang tidak sempurna, di situlah YANG SEMPURNA itu tiba.

Yesus datang ke dunia untuk mengasihi kita. Dia datang untuk mengasihi manusia yang seharusnya dikasihi: yang gagal. Dia datang untuk melenyapkan yang tidak sempurna.

Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Jujur dalam komunitas kami yang sudah berumur—46th—seringkali kami mengeluhkan komunitas yang kering. Persekutuan yang tidak mengena, terlalu ritualistik. Tetapi Tuhan berkarya dalam ketidaksempurnaan kami sore itu. Kami yang mengalami banyak tekanan ternyata dimaksudkan untuk tumbuh dan naik level. Kakak-kakak kami yang sudah pemuda dan dewasa seakan-akan menjadi pembuka jalan sehingga 46 tahun setelah komunitas ini berdiri, kami bisa mengalami kembali kesegaran roh dan jiwa. Kami bisa sharing begitu rupa dan kami tidak lagi membicarakan hal kanak-kanak.

Kami sadar bahwa Tuhan-lah yang memberi pertumbuhan.

Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

Sharing itu perlu. Dalam suatu komunitas yang bertumbuh, jika tidak ada gambaran yang samar-samar, pertumbuhan tersendat. Kami bersyukur kami diberi keterbukaan sore itu dan kami dapat bercerita sedikit-banyak tentang pergumulan samar-samar kami. Tetapi kami yakin bahwa fondasi menentukan ketinggian, dan keterbukaan adalah awal dari pemulihan.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

Ya, kasih. Iman diperlukan, bahkan sebesar biji sesawi pun dapat memindahkan gunung. Kami mengimani bahwa kebangunan rohani sedang Tuhan jalankan di bumi ini. Kami mengimani salah satunya adalah acara camp Transformer akan pecah: Tuhan-lah yang beracara dalam acara ini.

Pengharapan, kami berharap banyak kepada anda yang membaca untuk berdoa. Doa orang benar bila didoakan dengan yakin besar kuasanya. Kami juga berdoa agar anda pun digerakkan untuk membangun rumah rohani secepatnya.

Dan terakhir, tujuan manusia diciptakan: untuk dikasihi oleh Tuhan. Tuhan menciptakan kita segambar dan serupa dengan Dia, dan menjadi mitra Tuhan dalam mengelola bumi ini. Tentu saja Dia mengasihi kita dan tidak akan membiarkan kita tergeletak, sebab untuk itulah manusia diciptakan. Juga setelah kita penuh, baru akan ada saatnya kita mengasihi orang lain, baik yang sepadan untuk dijadikan teman hidup, ataupun komunitas-komunitas yang semakin membawa kasih itu ke bumi ini.

Salam transformasi, salam perubahan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s