Rabu, 30 Juli 2014: Kosong

Kupersembahkan tulisan ini kepada Tuhan Yesus yang tak berhenti menyempatkan waktu untuk membuatku terus dekat pada diriNya, pada kedua orang tuaku yang selalu membuatku makin besar, kepada kakak dan adikku yang menemaniku tumbuh menjadi dewasa, dan tak lupa kepada Donna VanLierre yang telah menuliskan buku yang merubahkan hidupku. Terima kasih! (._. ) Kusibukkan diriku dengan tagihan … Continue reading Rabu, 30 Juli 2014: Kosong

Advertisements

Mau Doa Apa Lagi?

Jejak Langkah

Ketika liburan dua minggu di Jakarta kemarin, saya diajak oleh Shimu di gereja saya untuk ikut di dalam pelayanan mendoakan orang-orang sakit ginjal yang sedang cuci darah di RS Lion’s Club di bilangan Pluit, Jakarta Utara. Pelayanan ini memang pelayanan yang rutin dilakukan oleh gereja saya sebulan sekali. Metodenya sederhana, kami mengunjungi para pasien dari ranjang ke ranjang, bertanya tentang kondisi mereka, dan kemudian berdoa bersama dengan mereka. Jujur, karena baru pertama kali, pelayanan ini cukup menggentarkan juga bagi saya pribadi. Tetapi, melihat semangat Shimu dan beberapa orang jemaat yang ikut, saya jadi turut semangat untuk pergi ke rumah sakit tujuan kami.

 

Rumah sakit yang kami kunjungi bukanlah tempat rawat inap, melainkan hanya sebagai tempat layanan cuci darah bagi para pasien penderita gagal ginjal. Terdapat dua ruang cuci darah sederhana di rumah sakit itu, yang tiap ruangannya dapat menampung kira-kira sepuluh hingga dua belas pasien. Setiap pasien mendapat fasilitas…

View original post 406 more words

Senin, 14 Juli 2014: There’s NOTHING to be Proud of..

Seusai melepas kepergian teriakan-teriakan dan tempaan mental di Orientation Days yang sungguh melelahkan, berbagai kegiatan 'pendinginan' dirancang oleh sie. Acara pada jam-jam sebelum berakhirnya OD. Mulai dari penjelasan dari Mr. Octa yang meyakinkan bahwa acara ini semua ada karena kasih karunia Tuhan lewat beliau dan tim untuk membentuk angkatan 9, hingga performance kocak di penghujung acara. … Continue reading Senin, 14 Juli 2014: There’s NOTHING to be Proud of..

Sebuah tugas refleksi tak tahu diri..

  Sebuah refleksi oleh orang yang tidak tahu diri..Seringkali hanya mementingkan diri sendiri..Tak tahu apa arti persaudaraan sejati..Mengikuti Orientation Days tanpa perasaan sejati..***Hari itu kalau saya tidak salah ingat, pukul 06.30 di ibukota Provinsi Jawa Tengah saya melangkahkan jejak pertama saya dari kost Tentrem menuju ke 'yang-nantinya-akan-menjadi-sekolah' di kota saya merantau ini. Walau belum dapat dibilang merantau, … Continue reading Sebuah tugas refleksi tak tahu diri..

Tujuh Kesadaran, Delapan Kesempurnaan

Idem.

Jejak Langkah

Dua semester di seminari ini membuat saya sadar akan banyak hal.

Pertama, saya sadar bahwa saya bukan orang “sehat.” Secara jasmani, mungkin saya baik-baik saja. Tetapi, jauh di dalam hati, di dalam tempat yang tersembunyi dan tiada yang dapat mengetahui, saya adalah orang sakit. Banyak luka yang serius, yang mungkin sudah hampir membusuk, yang tidak ditangani dengan baik. Di sinilah saya melihat semuanya. Saya sakit.

Kedua, saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang kuat. Saya sering sekali mendapati mata saya memerah, atau kadang bengkak karena sembab. Pipi saya seringkali basah oleh genangan air mata yang tidak dapat saya kendalikan arus mudinya. Seringkali saya menatap ke cermin dan menemukan wajah yang sendu, karena menangisi dirinya, pergumulannya, dan kehidupannya. Saya lemah.

Ketiga, saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang rajin. Seringkali batas akhir pengumpulan tugas sudah hampir tiba, dan saya belum mengerjakan apa-apa. Waktu-waktu saya habis bergulir dan saya…

View original post 387 more words

Sebuah Perenungan di Waktu Makan Siang

Jejak Langkah

Cerita ini bermula pada hari Senin yang lalu. Pada waktu itu saya merasakan perut saya sakit sekali, lantas saya izin dari latihan paduan suara dan berniat tidur di kamar. Setibanya di kamar, saya merasa mual, akhirnya ci Irene mengajak saya ke BKM untuk konsultasi dengan dokter. Ternyata, dokter menyimpulkan bahwa maag saya sensitif, jadi saya dilarang makan asam, pedas, dan minum kopi. Kalau makan asam, tidak menjadi masalah bagi saya, karena pada dasarnya saya tidak suka asam. Tetapi makanan pedas dan kopi adalah makanan wajib saya sehari-hari, jadi perlu perjuangan khusus bagi saya untuk mematuhi nasehat dokter tersebut.

Ketika tahu saya sakit maag, apalagi karena sambal dan kopi, beberapa teman-teman dekat sempat marah karena menurut mereka, saya cari penyakit sendiri. Mereka tahu bahwa setiap jan makan, saya selalu mengusahakan adanya sambal sebagai pendamping nasi. Apalagi frekuensi minum kopi saya, dalam sehari bisa lebih dari dua kali. Kontan, saya dijagai keras…

View original post 555 more words

Kanak Atau Dewasa?

Jejak Langkah

Di kitab I Korintus, dalam salah satu pasalnya—yang bagi saya layak masuk “the most favourite chapter”—di Alkitab, berkata bahwa ketika seseorang masih kanak-kanak, ia berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpkir seperti kanak-kanak, sampai ketika seseorang tersebut sudah menjadi dewasa, ia meninggalkan sifat kanak-kanak itu (band I Kor 13:11).

                Wajar memang. Si Adi kecil yang ingusnya masih belepotan itu, yang mengeja M-A-M-A saja belum benar, pastilah bersikap, berpikir, dan berbicara seperti anak-anak. Seperti Adi kecil, bukan seperti Bapak Adi. Entah jari-jemarinya bebas melucuti tanah tanpa takut kotor, entah mainan yang dimasukkan ke dalam mulutnya, ataupun tangisan yang meluncur cepat bak roket apabila apa yang dimintanya tidak dapat ia peroleh dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Itu kan hanya beberapa contoh, dan kita semua percaya masih ada lebih dari sembilan puluh tindakan “kekanak-kanakkan” lainnya yang mungkin dilakukan oleh si Adi kecil. Ya iyalah, namanya juga anak-anak.

View original post 551 more words

Tidak Akan Pernah Terlalu Besar untuk Menjadi Besar

Jejak Langkah

Yesus sahabatku

Kau mati bagiku

Besarnya kasih-Mu

Sahabat dan Tuhanku

Sampai ‘ku besar nanti

Sampai aku mati

‘Ku ‘kan ingat selalu

Yesus sahabatku dan Tuhanku

Lagu pendek di atas merupakan salah satu dari sedikit lagu pujian yang sampai saat ini masih membekas di hati saya. Maklum, zaman sekarang ini kita sudah hampir tidak dapat menghitung lagi jumlah lagu-lagu pujian yang diciptakan oleh anak-anak Tuhan, baik untuk didendangkan di gerejanya sendiri ataupun dipublikasikan di khalayak luas. Alhasil, banyak lagu pujian yang saya dengar, tetapi biasanya hanya bertahan sekejap saja di dalam ingatan. Hanya sedikit sekali lagu pujian yang masih benar-benar saya ingat. Salah satunya adalah lagu yang saya cantumkan di atas.

Biasanya, lagu yang dapat saya ingat dengan baik, bahkan membekas di hati saya, haruslah memenuhi salah satu dari dua kriteria berikut. Pertama, karena di dalam lagu tersebut mungkin ada kata atau frasa tertentu yang memancing keingintahuan saya. Misalnya, lagu “Ku…

View original post 1,114 more words

Minggu, 6 Juli 2014: War is Wrong

Merendam kaki di antara kapuk seusai melepas canda tawa di gereja, mengingat Oliv dengan gadget barunya, berharap agar 'kutukan' itu tak terjadi. Malam minggu itu, saya mengisi jam-jam mahal saya dengan teman-teman seperjuangan menembus badai ababil sambil menikmati tahu goreng. Tak terasa, hampir liburan usai. Hanya tersisa kurang lebih 4 hari bagi kami eks-SMP untuk … Continue reading Minggu, 6 Juli 2014: War is Wrong