Selamat jalan

Menjelang akhir masa SMA saya, banyak hal terkesan lebih nostalgic. Apalagi Facebook sekarang mengeluarkan fitur #onthisday yang akan mengingatkan kita pada memori-memori pada hari yang sama. Seakan semua ini mempersiapkan saya agar saya siap untuk berkata: “Selamat tinggal”.

Salah satu hal yang akan menjadi kenangan
adalah hari ini. Pada Senin, 23 Januari 2017 saya dan salah satu teman saya pulang dari Salatiga menuju rumah kami dengan mengendarai moto
r. Dikarenakan kepadatan lalu lintas yang cukup pelik, saya memutuskan untuk melewatkan saya dan teman saya melalui Tlogo (Anda bisa melihatnya di Google jika tidak tahu). Pada pertengahan jalan, motor kami harus berhenti karena untuk beberapa saat motor itu sempat nge-drift ala Fast and Furious 7 dan juga goyang telolet ala Carmelita Babyta. Yup, motor kami gembos. 

Seperti yang Anda tahu dari Google (thanks, Goog!) bahwa perjalanan Salatiga-Tlogo melewati kampung-kampung kecil yang mungkin tidak masuk dalam daftar tempat yang pernah Anda lewati. Kampung ini asri, sejuk, namun sepi pengendara. Oleh karena itu, masyarakat kampung di sana pun tidak banyak membuka usaha selain warung makan. Itu artinya: tidak ada tambal ban. Alhasil kami harus menuntun motor secara bergantian dengan tubuh encok karena kebanyakan goyang sampai kami menemui tempat tambal ban.

Tak disangka, ada satu ibu-ibu yang melihat ketampanan kami dan merasa iba, katanya, “Duh, Nang. Di atas itu ada tempat tambal ban. Coba balik ke sana saja.” (terjemahan bebas). Kami pun dengan cekatan membalikkan tuntunan motor kami dan mencoba kembali ke rumah kecil di pinggir jalan. Katanya sih, ada tambal ban di sana. Usut punya usut, ternyata tambal ban di situ memang bisa nambal ban tapi bukan tambal ban tubeless.

Deg. Mateng koe.

Setelah beberapa permintaan maaf terpaksa, akhirnya kami kembali menuntun motor ke tempat yang kami sudah lewati tadi. Ratusan meter terlewati, kami menemui satu lagi tambal ban. Wuish, yang satu ini komplit rasanya: ada busi, pembersih ban, oli, bahkan alat pengisi ban. Apa yang kami dapat? Dia tidak bisa menambal ban tubeless.

Perjalanan kami selaras dengan perjalanan Yusuf dan Maria: ada dua orang manusia dan satu kendaraan. Bedanya, kami berdua sama-sama hamil (buncit) dan sama-sama berjalan kaki. Apalah gunanya motor kalau bannya nggembos.

Walaupun pada akhirnya kami menemui seorang dermawan yang membantu menambal ban tubeless, itu terjadi setelah kami berjalan ratusan meter. Sedih? Tidak. Lelah? Iya. Kami diajarkan banyak hal hari ini.

“Ko, kok tahun ini aku merasa ada banyak godaan, ya?”

IMG-20170123-WA0006Kondisi ban bocor itu normal, selama motor masih melaju kencang di jalanan. Jalan tidak selamanya mulus, kan? Begitu pula manusia. Kondisi manusia untuk jatuh itu normal. Kita masih hidup dalam daging. Tetapi yang perbedaannya ada pada respons. Ini bukan masalah benar atau salah, tetapi masalah respons. Ketika kita jatuh, apakah kita mau terus menuntun motor dengan berat, atau mau mencari tambal ban dan mengisi kembali angin?

Tak jarang manusia tidak sadar bahwa dirinya sudah diselamatkan. Manusia yang sudah bebas dan siap melaju kembali di jalanan masih saja menganggap dirinya ‘bocor’ dan menuntunnya secara tertatih-tatih. Mentalnya masih mental manusia lama.

Tuhan Yesus mengingatkan saya untuk menanggalkan mental manusia lama saya. Tidak ada lagi tempat bagi yang dahulu kuanggap keuntungan. Jika Anda membaca tulisan ini, ingatlah bahwa saya berdoa Anda sekarang disadarkan untuk katakan selamat tinggal pada mental manusia lama Anda.

Dari yang tak pernah berhenti belajar,
Sepanjang jalan Salatiga-Ambarawa,
23.01.2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s