Lahir

Dia tidak lahir dalam keterbatasan manusia. Dia lahir sebagai bentuk asli, bentuk sejati. Dia tidak bercacat dan tak pula berdosa. Dia lahir karena kasih. Sudah ribuan waktu dihabiskan Menubuatkan kedatangan Dalam rupa kelahiran Karena manusia hanya akan mengerti ketika Yang Sempurna datang dalam wujud yang sama. Kelahiran Raja Damai (Yes 8:23)

Advertisements

Mari Kita Pugar Kembali

Mari!

Jejak Langkah

Kalau kita melewati Jalan Raya Kramat, kita akan menemui gapura bergambar Bung Karno dan Bung Hatta dengan tulisan nan gagah berani, “Pancasila Rumah Kita” buah karya Bung Franky Sahilatua. Idealis dan nasionalis, memang.

                Tetapi miriskah kita seandainya sepuluh tahun lagi kita tidak akan menemui anak bangsa yang hafal butir-butir satu sampai lima yang dirumuskan dalam rapat seru selama tiga hari? Akankah mimpi BPUPKI itu akan tetap abadi atau malah tergeser dengan menariknya globalisasi? Cendekia tua telah mati. Negarawan tua telah kembali kepada Sang Khalik. Ilmuwan tua tutup usia dengan penelitian terakhirnya yang membawa kesimpulan bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang abadi. Lantas, negara tetap menanti. Menanti mereka—atau mungkin menanti kita.

                Yang muda akan dicari. Indonesia perlu Bung Karno masa kini. Yang kalau pidato mungkin sudah bisa disiarkan langsung ke seluruh penjuru bumi melalui teknologi.  Indonesia butuh Bung Hatta yang agaknya lebih trendi. Tidak lagi pakai sepatu…

View original post 357 more words

Saya Semakin Tahu bahwa Saya Tidak Tahu

Read it. It works.

Jejak Langkah

Kemarin adalah hari terakhir saya berkuliah di paruh pertama dalam semester kelima saya di seminari. Sebelum benar-benar mengambil waktu untuk berhenti dan berdiam diri dalam minggu depan yang “tenang,” saya mencoba memikirkan hal-hal apa saja yg telah Tuhan kerjakan pada hidup saya di dalam dan melalui seminari ini.  Ternyata, perenungan tersebut membuat saya semakin tahu bahwa diri saya ini tidak tahu.

Pertama, saya semakin tahu bahwa diri saya tidak tahu cukup banyak hal dalam dunia teologia, Biblika, historika, filosofika, maupun praktika.  Hal ini sungguh bertolak belakang dengan anggapan saya terhadap diri saya pada waktu semester pertama, bahwa studi di seminari ternyata mudah, tidak sulit, dan saya cukup mampu untuk menguasainya dan membawanya untuk mengubah wajah gereja. Ah, menuliskannya saja membuat saya pedih, mengingat kepongahan saya waktu itu. Kini, jujur, saya semakin tahu bahwa saya hanya sedikit sekali tahu, atau bisa dibilang juga bahwa saya tidak tahu apa-apa! Firman Allah, dogma…

View original post 440 more words