Sudah Dewasa: Tekun [Bagian 1]

Di serial “Sudah Dewasa” sebelumnya kita sudah belajar nek sakjane manusia diciptakan untuk dicintai. Kalau manusia belum dicintai, maka dia belum 100% manusia. Ning ndak yo kehidupan di bumi ini berhenti sampai dicintai Tuhan saja? Tentu tidak—kita diminta untuk mengeksplorasi dan mengelola bumi ini. Posisi yang cukup keren, bukan?

Hari ini saya belum baca Alkitab, jujur renungan saya putus sehari setelah saya membanggakan “kerohanian” saya kemarin. Tepat sehari yang lalu dua orang mengatakan mereka terberkati dengan postingan saya di facebook dan instagram, katanya “Aku hampir aja putus asa, tapi setelah baca tulisan koko jadi bangkit,” dan “Aku hampir nangis,”. Pujian dan kemampuan membuka celah baru: kesombongan. Karena sudah merasa mampu, akhirnya pagi tadi Tuhan yang sudah menunggu untuk diajak ngobrol dilupakan dan malahan, lebih parahnya, kalah dengan situs-situs tak senonoh yang dapat diakses di mana saja, kapan saja.

Pernah mengalami hal seperti ini?

Ini yang disebut keteledoran. Saya teledor dalam renungan dan memutuskan untuk rehat sehari dalam merenungkan keajaiban Tuhan dalam hidup setiap manusia. Voila! Saya jatuh ke dosa lama saya. Seringkali posisi manusia sebagai mitra kerja Allah disalah artikan.

Ketua majelis saya tadi sore menyampaikan suatu renungan yang saya rasakan sangat memberkati—here thanks to holy spirit—KETEKUNAN. Kami para pelajar dan kakek-nenek diminta untuk memainkan sudoku bikinan beliau, dan di situ kami belajar untuk tekun dalam menghitung. “Matematika itu ritme,” katanya. Tetapi seiring bermain, saya menyadari bahwa sekali saya memasukkan angka bukan pada tempatnya, sudoku itu tidak akan jadi. Seperti itu pula kalau kita tidak menaruh Tuhan pada posisinya—Raja di atas segala raja—maka rancangan Tuhan dalam hidup kita pun tidak berjalan mulus.

Saya yakin rancangan Tuhan adalah anugerah. Kalau tadi Bu Sapta *thanks banget bu :”* memilih lagu Semua Karna AnugerahNya karya Ibu Pdt. Dr. Rahmiati Tanujaya, saya yakin Roh Kudus pimpin beliau dan hendak menyadarkan keberadaan saya yang sombong. Semua hal yang ada di dunia ini adalah anugerah, dan seperti sudoku, harus ditempatkan pada posisi yang tepat. Kalau doa pagi adalah doa pagi, sempatkanlah pada pagi hari untuk berdoa. Kalau ketemu teman di jalan, jangan selalu ajak dia bergabung pada suatu komunitas, tetapi bercengkeramalah selayaknya manusia biasa. Semua butuh ketekunan. Kalau kita tekun doa pagi, saya yakin kita dapat mengerti apa maksud Tuhan dalam hari itu. Kalau kita bertemu teman dan sharing hal-hal sepele dengan tekun, saya yakin mata hati lambat laun mulai terbuka untuk mendengar suara Tuhan lewat mereka. Semua butuh ketekunan, atau kita malah jatuh.

2016-06-09.png

Seperti nulis blog perlu ketekunan, begitu pula hidup.

Perkenankan saya membagikan lirik yang sudah memberkati saya hari ini. Kepada Ibu Rahmati, terima kasih banyak atas lagunya. Saya tak tahu bagaimana membalas kebaikan Tuhan karena semua karna anugerahNya.

Bukan kar’na kebaikanku
Bukan kar’na fasih lidahku
Bukan kar’na kekayaanku
Ku dipilih, ku dipanggil-Nya

Bukan kar’na kecakapanku
Bukan kar’na baik rupaku
Bukan kar’na kelebihanku
Ku dipanggil, ku dipakai-Nya

Bila aku dapat itu karena-Nya
Bila aku punya semua daripada-Nya

Semua karena anugrah-Nya
Dib’rikannya pada kita
Semua Anugrah-Nya bagi kita
Bila kita dipakai-Nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s