Sudah Dewasa: Kasih [Bagian 1]

Tahun ini ditekan terus untuk menuruti kehendak. Manut. Kalau memang harus manut, tentu harus siap diperas, harus sudah next level, a.k.a dewasa rohani. Tema buku renungan di bulan ini Dewasa Rohani dan aku semakin sadar bahwa tujuan besar untuk “manut” tadi itu ga bisa jalan kalau kita tidak dewasa rohani.

Kali ini aku mau share something yang aku dapet tentang dewasa rohani. Seseorang yang dewasa pasti ga akan mau hidup sendiri karen “tidak baik manusia hidup sendiri saja” :v. Semua orang pasti akan melewati fase dimana mau engga mau, suka engga suka harus menghadap yang namanya cinta.

Tahun ini temanya manut➥untuk manut harus dewasa rohani➥untuk dewasa rohani harus dekat ke sumber pertumbuhan:➥Tuhan. Lewat apa? Lewat baca Alkitab, dodol. Alkitab adalah surat cintanya Tuhan buat kita, dan salah satu bagian favoritku ada pada perikop yang dikasih judul sama LAI “Kasih”. Jadi, ijinkan bagian itu kumasukkan dalam tulisan ini. *Thanks Papa*

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung,tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.

Tiga ayat di atas jelasin ke kita bahwa tanpa kasih, semua sia-sia. Kalau mau dibilang kasar; kita payah tanpa kasih. Mirip kayak burung yang sayapnya patah, ga bisa terbang. Kita juga begitu: tanpa kasih, kita ga berfungsi, karena kita diciptakan untuk dikasihi. Jadi buat kita yang merasa orang tua payah dalam mengasihi kita, gebetan ga peka-peka dikasih kode, atau temen tiba-tiba berubah ga mengasihi kita, watch out. Kamu kayak burung ga bersayap.


Dalam menjadi seorang dewasa rohani, aku diajarkan untuk tahu apa yang namanya cinta. Bagian ini seakan-akan kasih itu manusia. Pake kata “Ia”, saudara-saudara. Mungkin Tuhan pengen supaya kita mudeng apa yang dimaksud dengan cinta, jadi pake kata “Ia” supaya kita bisa bayangin. Get it?

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

“No matter what” di sini penting banget. Kalau doi ngeselin: tetep kasih. Kalau si doi pelit: tetep kasih. Kalau si doi ga tahu diri: tetep kasih. Kasih itu ga sombong, tentu kita tahu bahwa menganggap diri kita yang terbaik itu juga salah satu bentuk kesombongan, right?

Akhir-akhir ini aku belajar untuk membiarkan pergi. Alkisah, aku punya burung, bulunya lebat. *jangan pikir aneh-aneh* Dia tinggi, bulunya hitam dan suaranya nian merdu. Burung ini ga aku simpen rapat-rapat di balik kain kayak bapak-bapak biasanya nyimpen burungnya: sangkarnya aku biarin terbuka, dan kadang-kadang dia malah bisa terbang. Oke, supaya jelas aku kasih gambar burungnya.

640px-White_winged_chough_jan09

Don’t get me wrong :v

Aku sadar bahwa burung ini bukan ditempatkan di sangkar. Kalau memang dia harus terbang pergi, setelah bertahun-tahun mengajariku banyak hal, mungkin memang itu yang terbaik. Siapa tahu memang saatnya dia bertelur dan menghasilkan burung-burung baru yang dapat mengajari “aku” yang lain, kita tidak pernah tahu.

Mencintai tidak harus memiliki. Kalau memang suatu saat burung ini memilih kembali kepadaku, kalau yang ada adalah kasih, berarti aku harus menerima dengan sabar.

Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Ia sangat sopan dan pemaaf. Oke. Seperti burung tadi, kalau memang dia akan kembali, aku harus tetap sopan dan memaafkan. Bagian yang sangat sulit, tbh. Aku mungkin tidak bisa menjadi kasih yang diharapkan.

Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.

Aku belajar untuk manut lagi di sini. Kalau burung itu terus ada padaku, apakah itu adil? Aku sendiri ga tahu jawaban pastinya tapi aku harus sukacita karena ada kebenaran yang setia. Kebenaran bahwa dunia ini busuk dan rusak, aku harus bersukacita.

Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

*Tbh I dunno arti dari menutupi secara jelas kalau di bahasa Indonesia, tapi di bahasa Inggris ditulis “protect”, bukan “cover”*

Secara ringkas, kasih adalah kebutuhan kita. Manusia diciptakan untuk dikasihi. Oleh siapa? Tunggu bagian keduanya!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s