Senin, 20 April 2015 : Anjing vs Kucing

1

Sebelum mulai dengan pikiran hati dan curhatan otak hari ini, let me say thanks to:

Tuhan Yesus Kristus yang sudah kasih anugerah dalam pelayanan sejak Adam dan Hawa ada. Thanks buat kesempatan kami turut serta di track-Mu, Tuhan!
Adita Putri Puspaningrum, buat pelayanan yang sudah disebarin, buat percakapan sebelum VG yang gajadi latihan *plak*. Kalau waktu itu kamu ga cerita, mungkin aku ga akan sadar-sadar soal teologi ini yang sebenarnya.

Oke, sebenernya apa yang aku tulis di atas? Teologi apa?

Ketika aku masih liatin video cover lagu dari CuteWorshipProject, papi pulang bawa buku yang dikasih orang buat kami anak-anaknya papi. First impression sih ga wow-wow amat, tapi ketika baca buku tentang 101 Perbedaan antara Kucing dan Anjing, seketika aku sadar bahwa orang yang mungkin belum baca buku teologi Kucing dan Anjing ini sudah ngelakuin di kehidupan sehari-hari: nama kedua yang tertera di atas.

Teologi Kucing dan Anjing itu dua virus yang sekarang ini banyak terjangkit sama orang-orang Kristen di dunia, dimana yang satu berorientasi akusentris, sementara yang satunya El-sentris. Teori ini mirip dengan perdebatan teori heliosentris vs geosentris di abad pertengahan dulu. Sama-sama menggambarkan tata surya, tetapi salah fokus atau engga lengkap.

Masuk ke tahun ketiga sebagai Pengurus Komisi Remaja GKI Ambarawa, banyak suka-duka yang dialami. Mulai dari adaptasi dengan tugas, temen-temen tim pengurus, aktivitas sehari-hari, sampe ketegangan waktu ngejalanin program. Paling inget itu waktu Ultah KomRem ke-44, waktu gue diserahin tugas untuk pimpin acara, di detik-detik terakhir sebelum maju malah cancel. Bukan karena waktu, bukan. Serasa mau nangis waktu itu, tegang banget, karena kurang persiapan. Jadi langsung loncat ke acara selebrasi.

Tiga tahun melayani, tiga tahun pula diri berubah. Waktu pikir program, ada yang usul acara untuk ‘menjaring’ kawan lama supaya jumlah presensi meningkat. Ada juga program supaya pelayan makin ahli dan makin banyak yang mau terlibat. Program yang terlihat paling utama adalah event-event; Natal, Paskah, pelepasan-penyambutan, KKR, dan lain-lain. Paling seneng waktu ada Malam Puji-Pujian yang mana semuanya full musik, bukan karena tujuan yang keren tapi karena ngerasa surviving program lama jadi baru itu keren.1

Tapi, malam ini gue ditampar. Di kitab Pengkotbah, ditulis “Apa yang pernah akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.”
Serasa ditampar karena selama ini fokus dengan apa yang kelihatan. Kenaikan presensi jemaat, keterlibatan pelayanan, jumlah program, anggaran. Man, semua itu sia-sia. Ga salah, tapi bukan itu tujuannya. Generasi gue bakal lulus dua tahun lagi, dan akan ada pengurus baru tahun depan. Tapi KomRem tetep bakal ada. Bumi tetep ada. Cuma kucing yang fokus sama apa yang kelihatan. Cuma Kristen binaragawan yang cari aman.

Ayo, kita jadi anjing yang fokus sama misi Tuhan dateng ke dunia; tujuan kenapa Alkitab ditulis oleh ratusan orang dari berbagai kalangan; tujuan kenapa kita dilahirin di dunia. Thanks, sekali lagi thanks Pa! (ɔ ˘⌣˘)

thanks for the picture: http://reflectionresults.blogspot.com/2012/08/teologi-kucing-anjing.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s