Sabtu, 21 Maret 2015: Worthiness

Tennis 2

Walaupun tayangan “mbak Nana” malam ini sedang gencar mengenai gaji DPR yang menurut wakil sangat kecil, padahal menurut yang diwakilkan sangat besar. I won’t talk about it. Bakal menghabiskan sepuluh periode glasial untuk menyelesaikan keegoisan yang makin menjadi ini. Jadi bagi anda yang sedang tertarik membincangkan politik, anda dipersilakan bergabung di akun lain. ^^

Sudah memasuki tahun keempat bagi saya untuk menjadi aktivis gereja yang ‘sakral dan kudus’. Bau bunga mimbar sudah biasa, jumlah tuts di gereja seakan saya hafal, bahkan berapa jumlah cicak di gereja pun mungkin dapat saya terka. Puji Tuhan, saya tidak sendiri. Ada pengurus Perpustakaan Abraham yang sudah sangat setia menjaga perpustakaan, tak peduli badai dan topan di luar; pengurus remaja yang sangat erat relasinya satu sama lain (sampai-sampai yang mengurus yang diurus O.o ); ada vokal grup Sola Gratia; tim Buletin; dan masih banyak rekan-rekan yang tentu akan menghabiskan jalan Anyer-Panarukan untuk ditulis.

Tapi, apakah saya mengerti apa esensi pelayanan? Jujur saya tidak sadar. Pepatah mengenai yang tua tak selalu tepat memang benar adanya. Empat tahun pelayanan ini diisi dengan kebingungan mengenai apa maksud Tuhan memilih saya yang masih belum bisa lepas dari dosa lama untuk melayani, mengenai paradoks sekolah vs pelayanan, dan kebingungan lain-lain. Kebingungan terjawab seiring kedekatan Bapa terhadap anaknya yang ndagel ini.

Pertama, satu hal yang pasti adalah: Tuhan pilih saya bukan karena ayah saya pendeta.

Tahukah anda bahwa saya tak dapat memilih antara lahir menjadi seorang anak pendeta atau seorang anak pedagang. Saya adalah Acer, seorang anak Tuhan yang berdosa, rapuh. Itulah yang diselamatkan oleh Tuhan lewat salib. Bukan atas keanak pendetaan saya diselamatkan. Sebagai ungkapan syukur, saya melayani. Syukur atas keselamatan, syukur atas kehidupan, syukur atas masalah yang terjadi, syukur atas tantangan yang makin berat.

Berterima kasih Tuhan pakai Bu Sapta untuk sharing malam ini. Saya semakin disadarkan bahwa “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.” Percuma bila saya semata-mata mengurusi yang mengurus.

Lah, di luar sana banyak yang sakit kok ga dikasih tahu ke mana mereka harus pergi?

Sempat suatu kali saya berpikir dengan sahabat saya: “Kalau dunia ini sedang dan akan terus memburuk, untuk apa kita melayani? Toh tidak ada perubahan juga.” Memang. Dunia yang semakin dipenuhi wakil rakyat haus uang, masyarakat anarki, perwakilan agama yang tidak mewakili agamanya, dan masih banyak lagi. Tertulis di kitab Wahyu.

Kata Pak Agus, seorang pembimbing saya: “Apa yang kamu tuju: perubahannya atau Bapa?”

Seketika saya sadar bahwa apa yang saya cari selama ini adalah perubahan teman-teman, perubahan diri, perubahan neg’ri ini. Tetapi bukan itu yang Tuhan mau. Serahkan kekuatiran pada Bapa. Lakukan apa yang bisa kita lakukan: pelayanan. Motivasi “perubahan yang terjadi” hanya akan menghambat kesempatan hubungan dengan Bapa.

“Seperti e*k, kalau sudah dilepaskan ya sudah; disiram.” Menurut saya, benar juga; kalau sehabis pelayanan saya masih mengharapkan perubahan, atau pujian, atau apapun itu, itu seperti mengharapkan sesuatu yang muncul setelah kita e*k. Seharusnya setelah e*k kita siram, bukan kita perlihatkan pada seluruh dunia bahwa kita baru saja e*k! – Pak Agus

Selanjutnya, yang menjadi pertanyaan saya adalah, mengapa semua ini harus terjadi? Mengapa saya harus lelah melayani? Saya bukan Spongebob yang tanpa alasan bekerja di Krasti Krep. Hanya karena terima kasih saya melayani. Lagi-lagi terima kasih. Bagi saya, apa yang Tuhan anugerahkan akan saya persembahkan bagi Tuhan kembali. Jika saya diberi kesempatan menjadi pengurus remaja, kemungkinan besar ada naskah cerita yang sangat luar biasa sedang dipersiapkan. Namun jika tidak, pasti ada hal lain yang dipersiapkan oleh Bapa. Bisa jadi tendangan sepak bola atau pukulan taekwondo adalah cerita yang lain, yang jauh lebih keren daripada berdiam sepenuhnya di dalam gedung gereja.

Perenungan ini bukan tulisan yang layak dijadikan bahan dasar teologi, tidak. Saya hanya manusia biasa. Kiranya besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya, itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s