Pacar

.: Disusun dalam rangka pemenuhan tugas PAK :.

Jika melihat tuts yang ada di keyboard, “U” dan “I” tak pernah terpisahkan. Tak terpisahkan oleh “X” yang berada jauh di bawah. Tak terpisahkan oleh “Space” yang mendekam panjang di sebelah “windows”. Seperti itulah kita, remaja ciptaan Allah yang adalah satu. Satu bulan bersama si ‘dia’ tak terpisahkan oleh ‘eks’ (red: mantan) yang mendekam jauh di lubuk hati terdalam. Tak terpisahkan oleh ‘spasi’ (red: ruang dan waktu) yang hanya ada sebatas jendela rumah. Satu bulan kemudian, bersama si ‘dia’ yang lain, dengan status keberadaan yang sama—tak terpisahkan. Kita semua sudah kenal hal ini, sebuah fenomena ajaib dan unik yang kita sebut pacaran. Pacaran tentu sangat lumrah di kalangan remaja. Disebabkan gejolak hormon yang memicu perubahan tentu saja rasa suka terhadap lawan jenis akan timbul. Tak elak, banyak anak muda sekarang malu disebut ‘jones’, alias jomblo ngenes. Kalau tidak dibilang ‘homo’, ya ‘ga laku’ istilah kerennya. Namun, apakah yang benar-benar disebut dengan ‘pacaran’? ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤  ❤ ❤ ❤ ❤  ❤ ❤  ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ ❤  ❤ ❤ ❤ ❤  ❤

/pa·car / n teman lawan jenis yg tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih;kekasih;

Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Pada kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang sebenarnya. Remaja yang tentunya belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Pacaran dengan sedikit saduran) Jika ditanya, sebagian besar anak muda di Indonesia akan menjawab sudah pernah pacaran (atau hubungan sejenisnya). Bisa dikatakan, hubungan antara sepasang laki-laki dan perempuan adalah definisi kasar dari pacaran bagi anak muda.

Teringat masa-masa ketika pertama kali mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis. Usia saat itu 13 tahun. Lewat facebook, saat itu dunia seakan hanya milik berdua. Sejak percakapan di kala pertama, hati langsung jatuh cinta. Aturan memang larang berpacaran, namun tak dapat dibohongi lagi hati nurani, gejolak suka itu tumbuh. Benar, itu terjadi secara otomatis. Namun sayang, rasa suka yang timbul itu sering diidentifikasikan sebagai ‘pesan’ dari yang Maha Kuasa untuk berpacaran. Padahal sebenarnya tidak. Berjalan dan berlari memang mirip, namun keduanya berbeda. Seperti itu pula rasa suka dan berpacaran. Ketika rasa suka melanda, hati boleh menyanjung pribadi di sana. Namun bukan berarti komitmen untuk menjalin hubungan itu sama. Menurut pendapat saya, pacaran adalah komitmen untuk memulai adanya hubungan timbal-balik antara dua insan untuk mengenali lebih dalam seseorang dengan yang lain, mempersiapkan menuju tahap pernikahan. Hal ini memicu adanya ketidakpamahaman seseorang terhadap batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam berpacaran.

SMA? Boleh? Ya, jalan tiap orang berbeda. Ada yang menikah dengan seseorang yang dahulu sudah dipacari sejak SMP. Ada pula yang baru pertama bertemu di universitas kemudian menikah. Jalan Tuhan memang tak dapat ditebak. Seseorang tidak dapat melarang atau menganjurkan berpacaran. Namun selama tidak melewati batasan, dan sudah siap memegang komitmen untuk bersama dengan orang lain, keputusan di tangan kita. Tinggal kita sebagai manusia, bagaimana meresponinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s