Rabu, 7 Januari 2015 – Jalan

the_open_road_in_iceland-wallpaper-1600x600

Setapak. Demi setapak. Perjalanan ribuan kilo itu pasti akan menemui akhir. Tantangan bukan ada di permulaan ataupun akhir. Itulah yang disebut perjalanan.

Bersyukur natal gereja bisa berlalu bukan tanpa apa-apa. Winnie bisa membuka rangkaian dengan mantap. Nando bisa mengheningkan sekejap malam dengan buaian ceritanya yang dilantunkan dengan lantang. Pelayan-pelayan choir bisa mengiringi puji-pujian terhadap Tuhan dengan penuh gairah. Sola Gratia bisa bernyanyi dengan ceria. Tim band bisa menguntaikan nuansa anggun selama natal. Semua ‘terlihat‘ sukses.

Merupakan anugerah dari Tuhan 2014 bisa selesai dengan mantap. Perlu banyak belajar untuk 2015, menjelang memasuki masa ‘semi-senior’ di SMA, 50 tahun usia geraja, 45 tahun komisi remaja, dan 16 tahun bersua dengan dunia.

Jalan.

***

Perjalanan bersama Ko Yoel dan Ratih menembus 450 km di dalam bis di akhir tahun menjadi pembuka yang cukup menggairahkan. Pada akhirnya menembus batas kota Malang pada pukul 05.00, hingga pada pukul 06.00 sampai di kampus SAAT.

Ya, aku kembali setalah 6 bulan pergi :p.

Di sana aku belajar, bukan belajar untuk saling membantu menumpuk piring di meja makan ataupun belajar menjaga barang-barang agar tidak ketinggalan. Ya, belajar berserah.

***

Mungkin seringkali kita minta Tuhan untuk membenahi hidup kita. Kita gagal dalam menjaga semuanya. Menjaga hubungan, kekudusan, komitmen, gaya hidup, kata-kata. Tapi kita sering tak sadar bahwa diri kita bak komputer yang minta direparasi namun menyembunyikan keyboard dan mouse kita.

IMG_20150104_0002

Sadarkah kita bahwa yang Dia minta hanyalah percaya? Dia tidak mengharuskan kita datang ke gereja dan aktif pelayanan. Dia tidak minta kita buat sesi doa berjam-jam untuk datang padaNya. Dia tidak minta kita menangis ketika kita butuh masalah. Hanya percaya. That’s it. Percaya bahwa Tuhan punya kuasa lebih besar dari dosa-dosa kita. Percaya bahwa hanya Tuhan jalan hidup kita. Percaya.

Bangsa Israel yang besar itu ‘gagal‘ untuk menjaga hidup mereka selama perjalanan 40 tahun. Baal menjadi dewa mereka, Asyera menerima sesembahan bangsa yang dikhsususkan itu. Ingat, laut teberau itu tidak membelah dengan sendirinya; air di Mara tidak berubah manis hanya dengan tongkat kayu itu. Tuhan bekerja.

Biarkan Tuhan bekerja di hidup kita. Tugas kita adalah menjalankan amanatNya, dan biarkan Tuhan yang memimpin perjalanan. Ketahuilah, “kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Masih mau andalin diri sendiri?😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s