Kamis, 20 Nov 14 : Argh!

Hubungan

Suatu ketika, aku duduk di pinggir taman. Mataharinya mungkin lagi capek, jadi sisanya tinggal sedikit, malah makin memperindah tampak taman dengan tetesan air sisa hujan tadi siang. Burung-burung gereja yang biasanya ada di sini lagi pada mudik, udah waktunya mereka beres-beres rumah. Kodok juga belum pada lahir (mungkin), yang keliatan cuma kecebong. Argh, rasanya pengen teriak. Sesak ini dada! Argh, rasanya udah ga tahan. Tapi… Takut dikira orang gila! Argh, batu udah habis, ga ada yang bisa dilempar ke kolam. Tiba-tiba dateng petugas kebersihan, duduk di sebelahku. “Dunia ini berat ya,” katanya. Astajim, baru juga mikirin beratnya ngurusin kekasih, orang tua di rumah yang ga pernah berhenti marah, tugas sekolah seabrek, dateng kakek-kakek tua bau penguk.

***

“Omongin aja apa yang ada di pikiranmu. Siapa tahu itu bantu kamu.” dia senyum. Aish, senyumannya makin horor!

Tiba-tiba entah kenapa aku pengen ngomong.. Mulai dari yang paling deket rumah; tetangga. keluarga.

“Sore tadi pulang sekolah rumah kosong. Kunci rumahku ketinggalan di dalem rumah, tapi aku ga tau di mana. Semua aku telpon ga angkat, aku pergi. Pulang-pulang dimarahin, katanya kunci kok bisa hilang. Terus malemnya papa dateng isep rokok, sambil ngomong ke aku ‘Malem, Tong’. Udah kecium dari jarak lima meter kalo dia barusan minum. Minum alkohol. Mann, keuangan buat bayar kontrakan belum kelar udah habis buat minum!”

Kakek itu diam, lekuk senyumnya cuma manggut-manggut. Ya, mungkin aku harus lanjut.

“Udah gitu adek minta yang aneh-aneh lagi! Jelas-jelas tugas sekolah juga masih seabrek, dia minta diajak main. Mann!! Malemnya rasa pengen marah, trus mau ke warung sebelah beli kopi malah hujan es.”

Kakek itu tetep aja diam. Duh, apa emang bener aku masih waras?

“Ego. Apa itu yang masih ada di pikiranmu?”

Dalem hati aku teriak ‘Iya namaku emang Ego, Abednego. Tapi apa hubungannya?’

“Bukan, bukan kamu. Keluarga itu hubungan. Kalau ego kamu belum lepas, kalau kamu masih belum mau jadi satu garis lengkuk, lingkaran itu ga akan pernah jadi.”

Ndasku tambah mumet!

“Keluarga itu kaya lingkaran. Ga ada bagan kayak struktur OSIS di sekolah. Bukan kaya boss dan bawahan. Keluarga, hubungan. Mungkin keluargamu ga sempurna, tapi inget bahwa Tuhan bisa pake berbagai macam cara buat bikin kamu tumbuh. Ini masalah respon, bukan ada atau engga ada.”

Sore itu berlalu dengan mentari yang keliatan makin capek ngasih sinar. Tapi kali ini beda. Aku coba untuk terus bersyukur. Aku tahu itu susah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s