Senin, 27 Oktober 2014 – The Next Level

B0RV9_xCMAA3ac4

“Welcome home”
“Ready?”
“Breakthrough”
“Limitless”
“The Next Level”

Seringkali ketika waktu terus berlalu, menuntut diri untuk maju, ingin terus pacu tapi malu, diri kita enggan untuk berkata mau.

Oke, berhentilah memikirkan kata-kata pemicu pembakaran otakmu, langsung aja ke intinya:

Entah apa yang dipikirkan Papa gue yang keren, tapi sejak tiga bulan di Semarang pergumulan diri gue memuncak dan akhirnya tercapailah kata mufakat untuk pindah ke Salatiga bikin skenario ajaib yang lain buat anak-anaknya yang lagi stres, depresi, kurang terobosan, terlalu maksain diri, dan lain sebagainya. Gue pikir itu cuma bakal terjadi ketika gue udah sampe di usia tua, di tengah hiruk pikuk kota, dengan bos yang membabi-buta. (baca:sudah kerja) Eits, ternyata engga, Le.

Masuk ke salah satu SMA Negeri yang cukup terkenal, akhirnya mantap sudah untuk mencetak sejarah baru di kota yang adem dan imut ini. Ekspektasi kemungkinan terburuk adalah ketemu orang-orang yang tak punya arah, kejar setoran, dan menjadi *ehem* minoritas. Ternyata semua itu salah. Di sekolah ini, ga kerasa perbedaan. Semua sama, adalah anak Indonesia yang belajar sesuai bakat minat mereka. Guru-gurunya gak semua kejar setoran, kok. Ditambah lagi, di saat seekor singa muda menaruh cengekraman di padang pasir, yang ditemukan bukanlah gumukan pasir tertiup angin, melainkan oasis segar di tengah-tengah kemilau panasnya mentari.

*Gamudeng? Ga usah direnungin, that’s not the point.*

Pernah denger sih, Papa juga pernah

Sejak lahir aku sudah mulai bener-bener ngalamin apa yang Papa pengen buat aku. Dan di usia kelima belas, Papa buka mataku. (lagi!) Jumat lalu Papa ngajak aku untuk pergi ke Kaliurang. Di sana, aku disambut hangat sama sodara-sodara -baru-. Di sana juga, aku belajar tentang pluralisme. But, it’s not about me. It’s about Him! *sok inggris*

Sekalipun aku belajar banyak, dan aku merasa makin diperlengkapi dalam pelayanan selama retreat ini, satu hal yang cukup mempengaruhi hatiku. Ya, akhirnya aku sadar bahwa otak harus mengalah dari hati jika ingin benar-benar ikut Kristus; sebab Dia itu gak logis, Dia kekal, Dia baik, Dia adil!

Kita adalah anugerah, kawan.

***

Memang ga salah kalo kita pengen pelayanan, tapi ketika kita terfokus untuk makin naik level dalam bermain musik, atau makin tenar di tempat kita melayani–bahkan mungkin sampe nargetin dapet Nobel Perdamaian di usia 16 tahun lewat pelayananmu—itu salah. Jujur setiap kali pelayanan, paling engga ada 20% motivasi pendukung dalam aku ngelayanin Dia yang udah ngebentuk aku: carmuk alias cari muka.

Waktu nulis ini mungkin sekarang aku juga mikir gimana respon temen-temen dalam ngebaca tulisan absurd ini. Tapi ingatlah, bahwa it’s not about you; it’s about HIM. Ga penting seberapa indah pelayananmu atau seberapa rusak keluargamu; Tuhan tetap sayang dan pelayanan akan Dia harus tetap tersebar.

***

Naik level, buat apa?

Memilih gambar di atas tentu ada maksud tersendiri; ketika mendengar “The Next Level”, yang ada dalam pikiranku adalah ucapan seorang guru yang benar-benar mengajarkan suatu didikan, kutipnya begini:

“Tidak akan ada pelaut yang berhasil di laut tenang.”

Artinya, pelaut akan benar-benar bisa disebut handal waktu dia ada di tengah laut dengan badai yang bergelora. Tentu, semakin besar donat semakin besar pula lubangnya; semakin naik tingkatan kita akan semakin gila dan tak masuk akal pula “boss” yang harus dilawan. Bisa hidup pun merupakan anugerah, dan Tuhan gak akan ngasih problem yang lebih susah dari apa yang kita bisa. Ibarat kita lagi mendayung sampan, Dia itu lagi duduk di belakang dengan kayuh yang 3x lebih gede ngebantu kita sampai di tujuan!😀

Pilihannya sekarang bukan bisakah kita naik level, melainkan maukah kita untuk naik level. Tuhan bisa aja ngebikin manusia perfect 100% tak ada cacat, tapi Dia pengen suatu hubungan antara ciptaan dan sang Pencipta dengan kasih, dan itu ada di hidup kita sekarang; {Yoh 3:16} Dia cinta kita, tentu Dia sudah kasih jalan buat kita. Tinggal kita mau atau tidak buat pake jalannya Tuhan.

Sebagai ucapan syukur atas anugerah itu, atas jalan yang udah Dia kasih, muliakanlah nama Tuhan, dan biarlah semakin “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.”

Satu ayat favoritku yang selama ini aku belum sadar-sadar: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” – Roma 11:36

http://bit.ly/1DSMCka thx for the image!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s