Ketika aku merasa gagal

A

:.Ketika aku merasa gagal.:

.i.

~Se.tia~

Bayangkan ini:

Kamu mengunyah bubur dengan lahap, bubur putih bersih dengan taburan bawang merah dan suwiran daging ayam hangat di atasnya. Dengan tuangan mallika menyerbak aroma gurih dari mangkok tersebut. Kunyah, tentunya mudah.

Bayangkan ini:

Jajaran mangkok di atas meja belum juga habis, masih menunggu untuk diseruput hingga lemak-lemaknya, namun tak kau sentuh sama sekali. Perutmu rasanya mual, cepat-cepat tak sabar menanti sepiring nasi yang membuhkan lebih banyak usaha untuk mengonsumsi. Seketika, kau diharuskan memilih; sepiring nasi yang makin lama makin dingin dan basi, atau mangkok-mangkok bubur yang terus mengepul menanti untuk dirasa?

Apakah ini yang disebut ‘setia’?

~*~

Teringat dirimu terbangun dalam histori. Sendok-sendok kecil putih yang masih terisi, kau tinggalkan seorang diri di meja putih bersih. Seakan berkata “Semua ini akan baik-baik saja!”, walau sebenarnya kau tahu bahwa itu tidak nyata. Bahkan untuk sesendok bubur pun kau tak mampu.

Seiring waktu, tersisa satu sendok yang terus mengikutimu. Kali ini akan cepat habis rasanya. Semua seakan mudah. Namun, apakah gerangan dapat membuktikan?

Sendok itu tetap berisi. Belum habis. Bahkan, berwarna kian pucat disebabkan jamur. “Kali ini akan cepat habis rasanya.” Apakah secepat itu bersihkan jamur dalam sendok?

.ii.

~Ta.at~

Ruangan itu tak mampu memuat ribuan lembar kertas kosong. Pilihanmu: Menghabiskan kertas untuk jadi karya atau membiarkannya begitu saja? Oh, “Semua ini akan baik-baik saja!”. Apa benar?

Tak mampu, ruangan seolah tertunduk lesu, menanti untuk dipakai. Hampir saja kau beralih ke ruangan yang lain. Kau mau berjauhan dari ruangan yang penuh, namun kau tak mampu. Kau tahu bahwa hanya dari ruangan itulah kau dapat menghirup nafas baru.

Kau ajak semua menggunakan kertasnya. Tapi kau sendiri terjaga dalam kemunafikan dalam dirimu. Taat, apakah ini rasanya?

.iii.

~Se.nang~

Sore hari. Mentari hampir tak hangatkan bumi. Beralih ke sisi lain memancar lagi. Pertanda bahwa hari-hari akan tersisa sunyi. Jangkrik bergantian dengan suara derit pintu menanti dihampiri. Senyumanmu terpampang di luar, matamu berbinar. Senang rasanya dapat bergabung, jika saja aku dapat. Pilihan kata yang salah atau postur yang kurang tegap dapat merusak citramu di antara kesenangan di sana. Kau usahakan kau menjadi yang pertama. Oh lihat, betapa indahnya sore itu! Dalam usaha gapai kesempurnaan, yang kau temui adalah kegagalan di sana-sini dan kau kehilangan jati diri.

Mereka perlukan. Mereka sediakan. Kasih yang diturunkan dari nenek moyang itu ada dalam diri mereka, dikaburkan dengan rabunnya mata yang tutupi diri sendiri. Pintu itu tersedia, pilihanmu: kau yang buka atau mereka yang paksa dengan pura-pura? Kau daftarkan dirimu dalam ilusi ajang ‘kesombongan’ yang kau ciptakan sedemikian rupa.

Pertanyaannya sekarang, siapa yang menang?

.iv.

~A.khir~

Ketika kau merasa gagal, cobalah telan bubur itu.

Ketika kau merasa gagal, ingatlah ruangan itu.

Ketika kau merasa gagal, bukalah pintu itu.

Ketika kau gagal, Aku ada di sampingmu.

Gambar: http://bit.ly/1lTCd2V

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s