Sabtu, 9 Agustus 2014: 49

Journey

Tak terasa 49 tahun telah terlewati sejak GKI Ambarawa pertama kali didirikan. 49 adalah angka yang cukup dewasa untuk sebuah komunitas, dan bukan angka yang masih dapat disebut ‘waktu belajar berjalan’, melainkan saatnya waktu mengajar berjalan. Gereja bukanlah gedungnya, dan bukan pula menaranya. Bukalah pintunya, lihat di dalamnya … Gereja adalah orangnya! Orang, ya… Mereka ditabur dan dituai. Mereka terbatas. Dan merasa tidak terbatas. Itulah, 49 refleksi manusia di bumi:

1. Ketika masih muda, belum berpengalaman.
2. … Dan merasa sudah berpengalaman.
3. Ketika bertambah tua, sudah berpengalaman.
4. … Dan merasa sudah bijak.
5. Ketika menjadi bijak, sudah terpanggil ke Sorga.
6. Membangkang mencari aturan.
7. … Dan mencari cara untuk melanggarnya.
8. Terlahir terbatas, berusaha tak terbatas.
9. Terlahir berbeda, berusaha untuk menjadi sama.
10. … Dan ketika sudah menjadi sama, itu semua terjadi ketika kita sudah dipanggil oleh Bapa.
11. Berusaha mencari jati diri.
12. … Yang sebenarnya sudah menunggu di sebelahmu sejak dulu.
13. Menolak jati diri yang diberikan.
14. … Dan menjadikan no. 11 sebagai alasan untuk memberontak.
15. Berjiwa muda, berlebih semangat.
16. Tak tahu waktu sehingga batasan ditebas.
17. Tak tahu apa-apa dan tak berusaha mencari tahu.
18. … Atau berpura-pura tahu.
19. Kesusahan sehari (tidak) hanya untuk sehari.
20. … Tetapi hal yang sama diperbincangkan hari ini, besok, dan lusa.
21. Meraih jati diri yang lama dicari.
22. … Melepas semangat yang sudah ada di tangan.
23. Mereguk keuntungan sebesar-besarnya,
24. … Dan menebar ikatan rantai sebanyak-banyaknya.
25. Mengingat akan sang Pencipta
26. … Hanya. Meningat.
27. Sejuta histori sudah membukit.
28. … Dibiarkan mendekam tak terusik.
29. Memfavoritkan kata: DIRI dan SENDIRI.
30. Menekan susu mentega dihasilkan, menekan hidung darah keluar.
31. Menekan amarah pertengkaran timbul.
32. Menahan tangan untuk bekerja,
33. Menebar jala di sisi kapal.
34. … Membiarkan yang lain terjungkal.
35. Malu untuk mengaku.
36. Gengsi karena dengki.
37. Membiarkan ego mendominasi.
38. Membuktikan “Aku ini sempurna, ASLI!”
39. Melupakan akar dari segalanya.
40. “Kita semua berawal dari bawah, kawan!”
41. Memohon pada sang Pencipta menjamah bumi.
42. Perbanyak rantai mencari sensasi.
43. Tak biarkan hubungan tercapai.
44. Kekudusan hanyalah di gereja.
45. Tuhan adalah kata kudus.
46. Mengulangi no. 44 sebagai prinsip hidup.
47. Lahir dari rahim seorang ibu, bahkan keluar pun tak mampu.
48. Namun melupakan dekap yang selalu merangkul.
49. … Perljalanan masih panjang dan meraung, “Aku mampu sendiri!”

http://bit.ly/MlX79T Thanks for the image!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s