Rabu, 30 Juli 2014: Kosong

Empty

Kupersembahkan tulisan ini kepada Tuhan Yesus yang tak berhenti menyempatkan waktu untuk membuatku terus dekat pada diriNya, pada kedua orang tuaku yang selalu membuatku makin besar, kepada kakak dan adikku yang menemaniku tumbuh menjadi dewasa, dan tak lupa kepada Donna VanLierre yang telah menuliskan buku yang merubahkan hidupku. Terima kasih!

(._. )

Kusibukkan diriku dengan tagihan yang menumpuk. Tugas riset, desain, dan kepenulisan mungkin tidak menyita banyak waktuku saat ini, namun keberadaan diriku dalam setiap rapat perencanaan dan tugas pelayanan selalu mencuri diriku yang sebenarnya–membawa diriku dalam kekosongan.

( ._.)

Malam itu tak seperti biasanya kantuk sudah menyerang diriku beberapa jam lebih awal. Kasur yang biasanya menjadi sahabat menjelang fajar seakan mengundangku untuk rebahkan diri. Pukul 8, mata sudah terpejam dan kesenangan di saat malam tak kunikmati Selasa itu. Jerry yang tengah sibuk dengan handphone ‘turunan’nya, Ko Yoel yang sedang melatih jemarinya untuk bergerak dengan riang di tiap-tiap tombol keyboard, dan Papi-Mami yang sedang menatap layar 17 inchi-nya masing-masing.

Berbagai bunga tidur menjelang datang, mengajak otakku tuk terus beradu dengan diri mereka sendiri sehingga tubuh yang sudah lama tak mencicipi nikmatnya kasur ini terbangun tepat pukul 1 dini hari. Penyiar berita Metro Malam masih saja usik dengan kejadian-kejadian yang baru saja terjadi di seluruh negeri ini, dan hal itu membuatku mengira Jerry masih terjaga hingga subuh. Aku tak cukup berani untuk melangkahkan kaki, hingga akhirnya terdengar suara ketikan keyboard memikat telingaku. Ternyata tak satupun pasang mata tengah menatap layar kaca yang tak berhenti menyiarkan berita–yang kutemui adalah tangan-tangan yang sibuk menggerakkan mouse untuk mendownload sekuel The Hunger Games, Catching Fire. Tak sepatah katapun sanggup keluar mengusik keheningan malam, yang terdengar adalah suara sel-sel televisi yang tak berhenti menemani Ko Yoel melewati malam itu.

Hingga beberapa jam aku sendiri, berpikir apakah sanggup diriku untuk memejamkan mata lagi atau lebih memilih melantunkan lagu-lagu aransemen di ruang belakang. Keduanya tak kujalani, hanya duduk sendiri termenung di kamar yang lembab tersiram air hujan musim ini. Sampailah di mana buku-buku di ruang tamu seakan berteriak, “Kemarilah!” Aku mengambil pandangan sekelibat pada tiap-tiap buku yang ada, memilih manakah yang akan menjadi waktu-waktu khusus di mana Tuhan berbicara padaku. ‘The Christmas Shoes’, begitulah kedengarannya. Buku kecil yang berisi jutaan refleksi ini bergerak dari rak menuju tanganku, membuka dirinya sendiri dan memulai berkata-kata padaku di pagi yang masih dingin ini.

(._. )

Terjaga hingga pagi menjelang, namun 193 halaman dalam lembaran kuning kusam itu terus memikat hatiku. “Jika kita bersikap terbuka, Allah dapat memakai hal terkecil pun untuk mengubah kehidupan kita …” Begitulah pesan terakhir yang dituliskan pada buku itu. Entah bagaimana,teringat kembali semua canda tawa hingga jerih lelah yang telah kuhabiskan di tiap sudut ruangan di gereja, yang selalu membuat diriku layaknya eksekutif muda mengurusi berbagai hal. Rapat. Latihan. Pelayanan. Semua itu seakan terikat mati di dalam tubuhku, enggan untuk lepas dari diriku ini.

“Wah, keren ya, sejak kecil sudah dilatih untuk pelayanan.”
Aduh, di mana-mana kok aku liatnya kamu terus ya, hahaha!”
“Kan ada kamu,”

Begitu banyak PUJIAN mengalir dari orang-orang di luar sana, baik kenal maupun tidak. Melihat kesibukanku, mereka terpukau dan mengajak anak mereka untuk turut serta dalam pelayanan. Namun semua ini bagaikan seekor zebra yang mengelana sendiri di padang pasir, tak pernah berada dekat dengan koloninya dan berusaha mencari apa yang dibutuhkan–perlindungan. Sekawanan zebra akan terus berjalan beriringan untuk memproteksi diri dari santapan predator buas yang mengaum-aum dan mencari (orang) yang dapat ditelannya.[1]

Semua kesibukan ini begitu menyita waktu, sehingga kehangatan itu tak pernah hadir di tengah rumah ini. Rumah, seperti sebuah kata yang baru bagiku. Hampir 2/3 hidupku kuhabiskan di luar tiap hari. Mirip dengan ‘Aku’ pada buku itu, mengusahakan yang terbaik agar keluarganyaOh, maksudku apa yang diinginkan dirinya untuk keluarganya. Kekayaan, hidup mapan, rumah cukup luas, semua itu diusahakan ‘Aku’ untuk keluarganya hingga akhirnya apa yang disebut dengan hubungan itu tamat. Mati.

Seringkali kita tak menyadari bahwa apa yang kita lakukan selama ini bukanlah apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang lain; dan mungkin saja Tuhan! Kita mencetak karya yang luar biasa indah, melantunkan lagu yang luar biasa merdu, bekerja luar biasa lelah agar dapat memberi sebuah ‘kesenangan’ dalam kehidupan kita. Padahal sesungguhnya bukan hal-hal seperti itu yang dicari dalam keluarga: bukan kemewahan perjalanan keluar negeri, atau gadget terbaru yang diberikan tiap malam natal. Satu menit percakapan ringan antara suami dan istri, ibu dan anak, ataupun anak dan ayah adalah suatu hal yang berarti.

Hal kau anggap sepele adalah sebuah makna yang berarti dalam bagi seseorang yang lain, itu bisa saja terjadi detik ini.

( ._.)

Keluarga yang sebenarnya adalah ketika harta, kekayaan, dan semua gemerlap kemewahan itu takluk pada kehangatan hubungan. Biarkan keluarga itu mengisi kekosongan yang ada pada hidupmu, sebab Tuhan sudah mendatangkan mereka pada kehidupanmu bukan tanpa tujuan. Ingat, keluarga menunggu di rumah!😉

Mohon maaf pada setiap orang yang kusebut ‘keluarga’ namun belum dapat merasakan apa yang kutulis sekarang ini.🙂

 http://bit.ly/1qiG3zD > Thanks for the photo, Kim!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s