Senin, 14 Juli 2014: There’s NOTHING to be Proud of..

Peta Perjalanan

Seusai melepas kepergian teriakan-teriakan dan tempaan mental di Orientation Days yang sungguh melelahkan, berbagai kegiatan ‘pendinginan’ dirancang oleh sie. Acara pada jam-jam sebelum berakhirnya OD. Mulai dari penjelasan dari Mr. Octa yang meyakinkan bahwa acara ini semua ada karena kasih karunia Tuhan lewat beliau dan tim untuk membentuk angkatan 9, hingga performance kocak di penghujung acara. Dapat dijamin, acara PADAT. Banyak apresiasi diberikan pada akhir acara, dari Mading teristimewa, yel-yel terunik, kelompok tergiat, poster terajin, dsb. Saya masuk salah satunya, menjadi salah seorang peserta OD tergiat dengan perolehan bintang 5, disusul 4 teman lain. Bangga? Ya, malam ini saya diingatkan kembali oleh waktu-waktu Tuhan berpesan lewat berbagai pihak…

“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” – Pengkobtah 3:11

Dari awal pertama kali ikut OD, sudah banyak persepsi dari diri saya mengenai kerasnya  didikan  Mr. Octa dan tim. Bahkan, segepok pisang di tangan tak habis pun harus menerima konsekuensi. Sadis, bukan? Oh tunggu dulu, bukan karena segepok pisangnya yang jadi masalah. Ketika kita tak mampu mensyukuri anugerah dari Tuhan, apapun itu bentuknya -termasuk pisang- itu sudah bentuk kesombongan diri kita terhadap Tuhan. Bersyukur masih ada Tim Drill yang mengingatkan bahwa berkat Tuhan patut disyukuri.

Masih banyak yang Tim Drill tekankan, bukan cuma masalah makanan. Ketika setiap anggota tubuh ditekan, kepala bertanggung jawab melindungi, dan ketika kepala diinjak-injak, anggota tubuh yang lain harus melawan balik injakan tersebut -itulah kerja sama, harga diri, kepekaan-. Saya bersyukur dari 3 hari OD saya dituntut untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak dalam batas ‘zona nyaman’. Dan akan menjadi sia-sia tiga hari ini jika apa yang dituntut hanya menjadi kengangan belaka.

Eits, judulnya kok tidak korelatif ya? Kembali pada perenungan di atas, “..Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” Manusia diciptakan sempurna, namun karena dosa yang menjauhkan kita dari Allah, dosa mengikat kita pada keterbatasan. Mau hidup, perlu dorongan sang ibu untuk lahir. Untuk makan, perlu didikan perlahan. Untuk pakai bernafas, perlu ada tangisan di awal.

Ada dua hal yang dapat diambil dari sini..

Pertama, manusia terbatas. Kelayakan untuk dapat hidup kekal adalah sempurna, sedangkan manusia laksana susu satu pabrik yang tercemar racun satu tetes.. Tetap tidak layak! Saat saya merenungi hal ini, saya diingatkan Tuhan bahwa untuk dapat mencapai bintang kelima, butuh bimbingan dari orang-orang terdekat yang berpengalaman; (Selipan—Thanks buat Ko Yoel yang sudah kasih ‘wejangan’ pada saya sebelum OD.😉 ) Untuk dapat memimpin butuh pengalaman, dan pengalaman itu adalah pemberian Tuhan. Saya semakin diingatkan untuk tidak membanggakan apapun yang ada dari diri saya. Ingat, susu satu pabrik yang tercemar racun satu tetes.. Tetap tidak layak.

Yang kedua saya diingatkan bahwa semua adalah dari Tuhan. Saya dapat menulis ini karena saya adalah anak anugerah. Kita anugerah. Pengalaman selama Kamp Anak Hamba Tuhan lalu akan menjadi sia-sia kalau saya tak menyerahkan hidup saya di tangan Tuhan. Devotion dari Ko Darma di OD akan hilang sekejap saja bila saya tak ingat bahwa kita adalah tanah liat. Tak berbentuk. Hanya Tuhan yang bentuk!

There’s nothing to be proud of.. Menjadi tanah liat di mata Tuhan itu tak membanggakan sama sekali, tapi menjadi tanah liat yang dibentuk adalah anugerah yang Tuhan beri dengan cuma-cuma.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s