Tujuh Kesadaran, Delapan Kesempurnaan

Idem.

Jejak Langkah

Dua semester di seminari ini membuat saya sadar akan banyak hal.

Pertama, saya sadar bahwa saya bukan orang “sehat.” Secara jasmani, mungkin saya baik-baik saja. Tetapi, jauh di dalam hati, di dalam tempat yang tersembunyi dan tiada yang dapat mengetahui, saya adalah orang sakit. Banyak luka yang serius, yang mungkin sudah hampir membusuk, yang tidak ditangani dengan baik. Di sinilah saya melihat semuanya. Saya sakit.

Kedua, saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang kuat. Saya sering sekali mendapati mata saya memerah, atau kadang bengkak karena sembab. Pipi saya seringkali basah oleh genangan air mata yang tidak dapat saya kendalikan arus mudinya. Seringkali saya menatap ke cermin dan menemukan wajah yang sendu, karena menangisi dirinya, pergumulannya, dan kehidupannya. Saya lemah.

Ketiga, saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang rajin. Seringkali batas akhir pengumpulan tugas sudah hampir tiba, dan saya belum mengerjakan apa-apa. Waktu-waktu saya habis bergulir dan saya…

View original post 387 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s