Sebuah Perenungan di Waktu Makan Siang

Jejak Langkah

Cerita ini bermula pada hari Senin yang lalu. Pada waktu itu saya merasakan perut saya sakit sekali, lantas saya izin dari latihan paduan suara dan berniat tidur di kamar. Setibanya di kamar, saya merasa mual, akhirnya ci Irene mengajak saya ke BKM untuk konsultasi dengan dokter. Ternyata, dokter menyimpulkan bahwa maag saya sensitif, jadi saya dilarang makan asam, pedas, dan minum kopi. Kalau makan asam, tidak menjadi masalah bagi saya, karena pada dasarnya saya tidak suka asam. Tetapi makanan pedas dan kopi adalah makanan wajib saya sehari-hari, jadi perlu perjuangan khusus bagi saya untuk mematuhi nasehat dokter tersebut.

Ketika tahu saya sakit maag, apalagi karena sambal dan kopi, beberapa teman-teman dekat sempat marah karena menurut mereka, saya cari penyakit sendiri. Mereka tahu bahwa setiap jan makan, saya selalu mengusahakan adanya sambal sebagai pendamping nasi. Apalagi frekuensi minum kopi saya, dalam sehari bisa lebih dari dua kali. Kontan, saya dijagai keras…

View original post 555 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s