Minggu, 6 Juli 2014: War is Wrong

Compare

Merendam kaki di antara kapuk seusai melepas canda tawa di gereja, mengingat Oliv dengan gadget barunya, berharap agar ‘kutukan’ itu tak terjadi. Malam minggu itu, saya mengisi jam-jam mahal saya dengan teman-teman seperjuangan menembus badai ababil sambil menikmati tahu goreng. Tak terasa, hampir liburan usai. Hanya tersisa kurang lebih 4 hari bagi kami eks-SMP untuk menghadapi MOS di SMA masing-masing. Untunglah, Tuhan telah merancang persiapan memasuki SMA sedemikian rupa, sehingga beberapa dari kami dapat menikmati ‘siraman rohani’ dari camp-camp yang diadakan oleh berbagai pihak berbeda. Ya, malam itu kami sharing soal kebanggaan kami pada camp masing-masing.

Ratih dengan NERTC dari Pdt. Stephen Tong yang sangat classical-dalam arti penuh dengan keteduhan diiringi repertoir klasik dari abad pertengahan;

Ko Yoel dengan Summer Camp dari binawarga, yang benar-benar membina sebuah kekeluargaan dalam kehidupan 6 hari di Kaliurang;

dan saya dengan KAHT yang diadakan SAAT Malang, bersama 61 anak hamba Tuhan lain merenungkan pergumulan hidup.

Ya, Tuhan dapat berfirman tidak hanya melalui satu mulut, sebab kita ini ciptaan; dan Tuhan bisa berkata kapan saja tanpa perantara. Tapi ingat, Dia tak selalu mau begitu. Dalam camp kami masing-masing, banyak hal yang dapat diperoleh dan dibagikan untuk menjadi berkat bagi rekan remaja di gereja, dan malam itu diskusi singkat pun terjadi.

Sampailah di satu titik di mana kelelahan kami telah mencapai batas maksimum, kira-kira pukul 21.30, typo mulai bertebaran dalam perbincangan ini. Tak jarang, salah paham terjadi. Pesan yang hendak kami sampaikan dan respon yang didapat tak selalu diperoleh bersamaan. Jujur, malam itu memang saya lelah, dan saya tak dapat mengontrol kesabaran dengan baik. Mohon maaf apabila hal ini mengganggu siapapun anda di mana pun anda berada. ^^”

***

Minggu, 6 Juli 2014: War is Wrong. Pada malam ini, renungan yang Tuhan sampaikan pada saya tepat ketika saya sedang bergumul tentang beberapa hal, yang sudah sejak dulu saya gumulkan. Saya sempat masih kurang yakin dengan SMA pilihan saya beberapa waktu lalu, saya masih sering membuat sorotan lampu dunia selalu mengarah ke saya, dan yang paling berat, saya selalu merasa diri paling benar. Seakan-akan, saya adalah pemeran utama dunia ini dan sekaligus, saya menjadi sutradara (mirip Raditya Dika gitu deh) Saya sadar bahwa saya tak layak, sebab status saya hanyalah ciptaan. Ciptaan yang bahkan untuk lahir pun butuh pertolongan ibu. Yang bahkan untuk makan pun perlu diajarkan.

Setiap orang terlahir berbeda. Saya yakin, Tuhan tidak pernah mal-produk dalam menciptakan setiap anda sekalian dan saya. Anda pendek, tinggi, kurus, gemuk, mancung, pesek, ahli musik, ahli desain, ahli menulis, ahli olahraga, dsb. itu semua ada untuk menyusun serangkaian puzzle indah yang Tuhan akan tunjukkan di saatNya kelak. Tinggal kita yang harus mau ‘dipindahkan’, ‘diwarnai’, dan ‘dibentuk’ untuk pas pada puzzle ini.

Tak jarang kita pikirkan saudara kita, teman kita, ataupun kenalan kita yang berbeda dengan keberadaan kita sekalian. ‘Ah, dia punya mobil keluaran terbaru, sementara aku cuma keluaran tahun 70-an.’ ; ‘Dia dapet cewek cakep bener, sementara gue cuma dapet yang pas-pasan.’ ; ‘Sekolah di kota? Aduh, buat ongkos bis aja gue masih gelagapan.’ dsb.

Memang seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu lebih hijau. Itu jika anda percaya. Kalau boleh dibilang, sekolah di kota tidak menjamin perkembangan diri.  Cewek cakep belum berarti hidup benar di hadapan Tuhan. Mobil keluaran terbaru tidak menutup kemungkinan kecelakaan. Ya, semua itu Tuhan sediakan berdasarkan kebutuhan kita. Kalau saya memang tak perlu smartphone, sebab saya sudah aktif di PC tercinta dan itu sudah cukup menyita waktu saya. Berbeda dengan teman saya yang memang doyan selca, dan butuh kamera depan yang mumpuni untuk itu. Intinya, ketahuilah bahwa apapun yang masih ada di dunia ini pasti ada kekurangan.

Pernahkah anda renungkan, apa yang ada pada anda adalah anugerah? Percayalah, bahwa jika sekali saja anda bersyukur di pagi hari hingga matahari terbenam, sehari yang anda telah lewati akan terlihat menyenangkan? :3 Coba saja!

Camkanlah ini: Terkadang apa yang ada pada diri anda tidaklah apa yang orang lain butuhkan. Tak jarang pula apa yang anda inginkan bukanlah apa yang sebenarnya anda butuhkan.

Giat berdoa, dan jadilah berkat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s