Why? (Bagian Dua)

Featured Image -- 689

Setelah beberapa lama “Why? – Bagian Satu” diluncurkan, muncul pemikiran untuk menerbitkan yang kedua, mungkin gaya bahasa sedikit (atau banyak) berbeda, mohon maaf ^^” [Kalau bisa akan diterbitkan bagian 2.1, alias versi liar :p ]

Mentari pagi tak cukup hangat menyelimuti ruangan ujian, dua figur dengan seragam keki membagi lembaran demi lembaran yang terkesan ‘dipaksakan’ bernuansa tegang. Kau ambil sebatang panjang kayu biru itu, memberi goresan dan bundaran hitam pada kertas tersebut. Dengan mantap kau membuka lembar soal, sebelum akhirnya amygdala dengan sukses mematahkan rasa percaya diri dari dalam. Kau tak mampu membohongi diri bahwa sekeras-kerasnya kau belajar, selalu ada cara untuk membuatmu teringat akan hal yang selalu kau sebarkan tapi jarang kau lakukan; untunglah Tuhan mengasihi kau dengan memberi peringatan secara ‘halus’! Angka dan formula memang bukan musuhmu, tidak seperti teman-teman lain yang memiliki kawan karib di bidang lain. Tetapi, hari Selasa ini kau isi dengan penuh ketegangan, ekspektasi eksternal dan internal yang cukup tinggi pada ujian hari ini. Entahlah, biarlah Tuhan yang berkehendak; ini semua adalah dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia! Bukan dari kau, bocah kecil!

Memang sistem pendidikan di Indonesia sering dicap sebagai sistem pendidikan yang ‘terburuk’ dibanding dengan ‘kabar burung’ dari negara-negara di seberang sana yang ‘katanya’ tidak membebani murid, dan semuanya terjamin maju. Entah fakta ataupun bukan, tetapi para yang berwenang seakan-akan membutakan diri  akan realita ini, dan memberi standar tinggi pada setiap ‘bunga’ yang berpotensi untuk mekar. Bahkan, ketika seorang menuliskan surat kepedulian terhadap nasib sistem di Indonesia ini, yang ada hanyalah keraguan akan bahasa yang terlampau tinggi serta logika analisa yang katanya ‘mustahil’ bagi seorang siswa SMA untuk menuliskannya. Sekali lagi entah, fakta ataupun bukan, namun saya yakin bila iman kita untuk setiap anak SMA dapat menuntaskan soal setingkat internasional, bahasa penulisan surat tak akan sesulit yang ada. Entah.

***

Tapi bukan itu yang akan kau renungkan sekarang, bukan karena ketidak pedulian terhadap kehancuran di negeri ini, sekali-kali bukan. Tetapi ada satu hal yang ‘kecil’ bagi mereka yang berwenang, yang katanya ‘itu urusan anaknya, pilihan dia’. Kau tak kan bisa berbohong pada dunia bahwa tindakan dan karakter seseorang lahir dari pendidikan yang menjadi 1/3 bagian dalam hidup pelajar sehari-hari. Itu menandakan, kebutuhan terbesar dalam hidup seseorang ada pada pendidikan; sebab semua bermula, dan berakhir pada pendidikan. Ketika masih muda, kau akan menghadapi konflik: implisit dan eksplisit, baik teoritis maupun secara praktikum di kehidupan sehari-hari. Ketika senja menjelang, kau akan menemukan dirimu menjadi pengajar: sekali lagi secara implisit dan eksplisit, dan kau sadar bahwa  keturunanmu akan mengalami yang sama dengan apa yang telah kau alami di masa mudamu.

Pagi itu seusai menghadapi 40 peluang untuk berkarya, kau melanjutkan obrolan ringan dengan sahabatmu di kantin sekolah. Sepi, sebab semua telah menancapkan sauh pada ‘dunia’ mereka masing-masing. Sampailah saat kau mendengar telah terjadi sebuah pertengkaran kecil yang sudah menjadi hal lumrah bagi dirimu; sebab dunia sudah hampir berakhir! Sempat terbesit sebuah pemikiran bahwa kesalahan ada pada sang ‘pelaku’ yang berlaku tak sepatutnya. Dukungan kuat terhadap ‘korban’ (dalam sudut pandang dirimu) yang sudah sering menjadi lawan bicara dan sobat bertukar pikiran.

Kejadian perkara memang sudah berlalu, dan kau percaya kasus sudah terpecahkan: pelaku bersalah, tak seharusnya ia melakukan apa yang sudah ia perbuat. Namun di saat senandung Chrisye dari YouTube mengiring dirimu menyegarkan pikiran, terusiklah dirimu pada perdebatan yang berlanjut di dunia maya. Argh, Tuhan!  Kenapa semua ini terjadi (lagi?) Kukira Kau sudah membersihkan diri kami Rabu itu, dengan tiap lelehan kristal perak dari natra. Tuhan, KENAPA?! Memang.  Apakah semua jeritan sore itu hanyalah sandiwara, seperti yang sudah-sudah? Atau..?

Siapa penyandang status ‘pelaku’ dan ‘korban’ sudah tak dapat dibedakan, putih sudah bercampur hitam. Tidak, sekali-kali tidak! Sebab bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Masalahnya bukan pada siapa yang menjadi pelaku perkara dan korban, ini lebih dari itu!

Jika seorang Jawa kuno pergi ke kota megapolitan seperti Jakarta dan membeli nasi dengan bahasa Krama Alus, dibalas dengan pemberian roti terhadap orang itu, siapa yang salah?

Jika seorang anak kecil asal keluarga petani membeli Tamiya untuk dimainkan, dan membuang Tamiya tersebut karena tak dapat memasang onderdil yang manualnya ditulis dalam bahasa mandarin, siapa yang salah?

***

Keterbukaan.

Yang terjadi pada dua insan yang berseteru ini semua dilahirkan oleh tertutupnya diri masing-masing, yang menimbulkan perbedaan persepsi dan penafsiran, menumbuhkan rasa jengkel di saat-saat paling berpengaruh dalam kehidupan pelajar seperti ini. Sebenarnya, salah siapa ini? Bukan salah siapa-siapa, sebab yang terjadi adalah tidak ada keterbukaan di antara keduanya, hanya saling menuntut untuk diterima. “Jika peraturan memang ada, tak perlu lagi kan dijelaskan untuk tidak melakukannya?” | “Jika saya tak menemukan apa yang saya cari di rumah, di sekolah pasti ada; TERIMA SAYA!”

“Ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” – Matius 7:7

Tidak pernah Tuhan berfirman bagi kita untuk menutup diri, berfikir egois dengan memaksakan setiap orang untuk menerima kita apa adanya. Yang ada adalah Dia ingin agar kau membuka diri! Kau mengerti orang lain terlebih dahulu, agar kau dapat dimengerti; namun tidak pada yang sudah terjadi. Yang ada hanyalah kau harus mengerti diriku dahulu, dan aku akan mengerti dirimu. Setiap orang ingin dimengerti, sementara tidak ada yang ingin mengerti orang lain.

Kau dapati dirimu sudah hampir remuk redam, lelah menghadap monitor hitam di dalam kamar. Kau tutup, menyerahkan pada Tuhan. Kiranya Tuhan saja yang memberi hikmat untukmu dan yang lain agar dapat saling mengerti, tidak secara egois ingin dimengerti.  :) | God Bless

Thanks for the image: bit.ly/RkpsjD | Kent. It is stunning, I love it!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s