Cinta

Need-Love

Bertubuh jangkung, rambutnya merah. Sungguh manis rona senyumnya jika kau melihatnya tertawa, dengan tatapan tajam dari mata bundarnya. Kau pasti tak kan dapat melupakan suaranya yang khas, sedikit serak dan dalam, namun tidak sekeruh lumpur di sawah. Setiap hari kau pasti akan menemukannya tertawa keras dan menceritakan sepetik kisah hidupnya dengan penuh pendalaman, dan kau tak kan pernah dapat menemukan ‘kelabu’ dalam dirinya dengan mudah, sebab memang merupakan fakta yang sulit dilupakan bahwa setiap kata yang keluar dari dirinya dapat menyihir saraf dalam dirimu dan meningkatkan hormon endorphin dalam tubuh!

Kau mendapati dirimu mengikuti bayang-bayangnya menuju pagar bambu yang tertiup angin, menghadap rumahnya yang berdiri kokoh di antara rumah-rumah sepi yang lain. Mentari pagi tak lagi mencairkan peluh dalam tubuh, sudah beralih menjadi cahaya sore yang teduh. Kau melihat jari-jarinya yang panjang membuka gerbang tinggi menjulang di depan, seakan-akan mempersilahkan dirimu masuk dalam hangatnya rumah itu. Ijinkanlah saya masuk, tuan gerbang. Tapi kau tak dapat membohongi firasatmu yang merubah cahaya sore yang teduh menjadi suatu mantra pertanda tawa itu tak kan datang.

Pintu putih itu masih tertutup, berdiri megah di samping pasangan sepatu yang menenami dia melangkah tiap harinya. Kau tak kan menyangka, tawa canda yang selalu membekas pada dirinya kini berubah 180 derajat menjadi sebuah tanggapan dingin. Sudah makan? Kata seorang yang tak lain adalah ibunya. Sudah. Tanpa ekspresi, tak ada penjiwaan mendalam seperti sehari-hari ia menyihir dirimu. Kau lanjutkan tugas yang ada hingga usai, dan kini kau menapak langkah menuju rumah lain—rumah jingga dengan pepohonan hijau yang menghiasi pelataran kecil.

Home

Pikiran tersebut masih kau bayangkan, perubahan drastis dari seorang ‘boneka pembawa tawa’ yang jadi ketus tanpa rupa di lain tempat. Tak kau sadari waktu cepat berlalu, mentari hampir saja menarik erat ekornya, meninggalkan jejak keemasan di balik gunung.  Kau ketuk gerbang dan menapakkan kaki ke dalam rumah, melihat orang-orang yang sibuk dengan dirinya sendiri dan menggenggam tiap kata dan angka dalam layar monitor. Kau tahu kesibukan mereka bukan demi kesenangan mereka, bukan demi canda dan tawa yang tiap hari kau dapat. Namun kau tahu, di sisi lain ada satu hal yang.. Yang seakan pudar dibawa angin lalu.

Cinta.

Ketika kau tahu bahwa cinta adalah hal yang kau butuhkan, kau setiap hari menagih pada letih dan lelah. Pedulikan aku! Hargai aku! Wahai lelah, layani aku! Kehidupan yang begitu singkat ini tak akan kau isi dengan celah-celah kebohongan yang menutupi luka ini, bukan? Ketika mereka mencoba seperti yang engkau inginkan, kau tahu bahwa kau bahkan tak layak!

Bukalah hati, segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Sebab kau tahu, kau tak kan bisa memperoleh hembusan penyembuh luka yang engkau cari selama ini, jika kau sendiri tak menjadi seperti apa yang engkau pinta pada orang lain. Hormati terlebih dahulu maka kamu akan dihormati, kasihilah orang lain maka kamu akan dikasihi. Susah? Memang. Tetapi ada satu kekuatan kekal yang terus menerus mengalirkan kasih itu, tinggal kita mau menerimanya atau tidak.

Cobalah,

Kau pasti bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s