Pelayan(an)

Hands

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”-Roma 12:1

Entah apa yang membuatku berpikir.. Bahwa kentut kita pun diciptakan untuk DIA saja.

***

Dunia ini diciptakan oleh siapa?  Sosok yang maha agung?  Pribadi yang maha mulia?  Esensi yang maha sempurna?  Ya.  DIA lah yang maha ada, maha agung, maha mulia, penuh karisma dan karunia.

Tapi…

Pernahkah sekalipun DIA meminta layanan selayaknya raja di bumi yang dilayani oleh para wanita demi memenuhi nafsunya?  Sekali-kali, tidak. DIA menciptakan matahari, tanah, air, udara, dan segala-galanya yang ada di bumi sebelum kita diciptakan, agar kita bisa tetap tertawa dan bertemu dengan kekasih kita, tak peduli kita berdosa atau tidak, tak peduli berapa banyak ucapan syukur yang kita panjatkan pada DIA.   DIA melayani.

DIA melayani.

Terbesit segarnya darah merah segar yang bercucuran dari daging.  Darah itu bercucuran. Tebasan demi tebasan diberikan. Kasarnya serpihan kayu yang tak peduli pada luka yang terbuka. Bermahkotakan duri dan berlapiskan kancut, darah itu bercucuran. Paku menembus nadi, gelapnya siang menutupi embun pagi. Gambaran yang terjadi adalah sebuah fakta; bukan hasil imajinasi yang keluar dari otak manusia.

DIA mau ditinggikan di atas Bukit Kalvari, sehingga Ia direndahkan ke gerbang jahanam. Karena. Kita.

Karena kita.

 Dunia ini gelap, menanti datangnya pagi yang disebut-sebut ‘akhir’. Sebelum pagi itu datang, lilin-lilin yang digunakan pada waktu malam akan terus membakar diri ‘tuk menerangi kegelapan yang membusuk. Membakar diri sampai habis, memuliakan Ia yang menciptakan terang itu.

Kita hanya segumpal tanah liat dan debu tak bernyawa yang diberi kehidupan. Namun kita diciptakan serupa dengan gambarNya, diciptakan untuk melayani. Sebab itu kembalikanlah kehidupan itu dengan talenta kita, jadikanlah kekurangan itu menjadi suatu kelebihan. Pancarkanlah kemuliaan Tuhan di dunia gelap yang kian membusuk ini.

Jangan harap pujian, tapi nantikanlah cacian. Sebab cacian tersebut adalah kesempatan bagi kita tuk melayani dengan bersikap dewasa!

Jadilah pelayan sejati, membakar diri sampai habis.

(Referensi: baca’o buku “Tentang Kita” olej INSPIRASI, en http://storyabundance.blogspot.com/ yang jadi inspirasi)

One thought on “Pelayan(an)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s