Why? (Bagian Satu)

Flower

Sebenernya postingan ini sudah ada di FB gue, tapi karena gue rasa akan lebih baik kalo di repost di sini, ya…

Judulnya simpel, tapi seperti sifat saya yang sudah anda kenal, maknanya jleb banget dan nylekit, sering dianggap ‘kebawelan yang tiada tara tak berujung tanpa akhir’ #abaikan  *lebay ah*

Mungkin judulnya kesannya terlalu sederhana, tapi seperti kata-kata lebay di atas, maknanya itu dalem lo, serius. ._. Why. Kenapa. Kenangapa. Ngapa. Waarom. Varför. Tại sao. Kenapa Saya, seorang manusia gila yang nilainya gak jelek-jelek amat BENCI SAMA UN. Ujian Nasional. Ujian di mana seluruh anak berbakat, istimewa, spesial, punya talenta khusus dari Tuhan harus menjawab 180 soal pilihan ganda dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, dan Sains. Yep. Saya benci UN. Ujian yang didesain secara khusus oleh Menteri Pendidikan Nasional sehingga uang negara bisa dipakai untuk suatu instansi yang menang tender sehingga saldo mereka bisa melejit tinggi. *saya akui ini lebay*

Beberapa hari ini Saya disadarin sama TUHAN lewat orang-orang yang gak jauh dari Saya bahwa sebenernya Pendidikan di Indonesia ini buruknya minta ampun. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kabarnya Albert Einstein kalau-kalau dia lahir dari 2 sel hidup orang tuanya yang hidup di era abad ke-21. Coba gitu, pasti Albert Einstein bukan penemu hebat, dan pasti dia sudah gak lulus UN, depresi, nembak cewek gak diterima, lebih depresi, dicemooh tetangga, masuk koran, masuk TV, dan DEPRESI banget gara-gara TVnya gak muat. *ini anak bisa selesai lebay gak sih?* Hari-hari ini (baca: Akhir Zaman) sudah marak dengan banyaknya ujian penentu masa depan. Kalau kamu gak lulus UN, kamu mati. Simpelnya sih gitu, tapi sebenernya itulah salah satu penyebab utama kenapa makin ke sini penemuan makin jarang, dan anak-anak berbakat di bidangnya tidak dapat berkembang 100% sesuai dengan Anugerah Tuhan.

Mungkin anda sekalian pernah mendengar Janice, Ryan, Brandon, Fay, Michelle Harianto , Janice Carissa , Rui Fernando, Ryan Fergusson, dan pemusik-pemusik muda, penari-penari muda yang tenar, dan bahkan bisa tampil di kancah dunia.  Tapi ketahuilah, realitanya adalah mereka tidak sama dengan kita yang ikut kurikulum di Indonesia.  Mereka kurikulum++, alias Homeschooling.  Mereka ikut UN, tapi mereka tetap ada porsi (yang cenderung lebih banyak) ke talenta mereka daripada sekolah.

Saya tersadar ketika Saya disuruh milih SMA, atau bisa dibilang semenjak saya bingung dengan bakat Saya.  Saya memang *bisa dibilang* tidak jelek di bidang kognitif, alias jarang ikut remidiasi.  Tapi, entah kesamber bledek apa *lebay lagi* ketika saya mau masuk SMA, perasaan bahwa UN itu gak terbuka sama sekali, UN itu cuma bangga-banggaan orang tentang kepandaian kognitif anak, bukan BAKAT anak itu muncul.  Padahal banyak orang percaya sama saya bahwa lewat UN saya bisa dapet nilai bagus.

“Bunga yang indah apabila dicabut sampai akarnya dan dipindahkan ke tempat yang lain, pastilah layu.”  – NN

Kalau dipikir-pikir lagi, memang benar kalau kita melihat bunga yang cantik, dan dibawa ke rumah pastilah tidak seawet bunga yang tumbuh alami.  Nah, maksud saya adalah setiap pribadi, karakter, dan otak dari semua siswa-siswi di dunia ini punya “bunga”nya sendiri-sendiri, ada yang bisa mekar sempurna di bidang olahraga, musik, lukis, tulis-menulis, ataupun masak, dan masih banyak lagi.  Apabila bunga tersebut ‘dipindahkan’ (baca: dipaksakan) ke bidang yang lain, pastilah bunga itu layu! Tidak ada anak bodoh, yang ada hanya malas dan berbeda talenta.  Jika sampai sekarang paradigma orang awam adalah meraih prestasi melalui pelajaran belaka masih kental, mau sampai kapan Indonesia masuk dalam negara berkembang?  Yang ada paling uang-uang berkembang (baca: menjamur) dipegang koruptor.

NB: Thanks for the featured image:
http://expedino.com/flower-summer-lotus-photography-hd-wallpaper/flower-summer-lotus-photography-hd-wallpaper/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s