Pemimpin?

Donghaeng Cross

Akhir-akhir ini gue sering liat kampanye politik yang lagi berkobar-kobar mejeng di TV, pohon, tembok, sampe semua titik yang biasanya dipake buat iklan sedot WC. Kualitasnya pun beragam, dari yang estetis grafisnya bagus sampe yang ngerusak mata (gue curiga, yang ngasih spanduk jelek kek gitu itu antara ga punya duit ato mau ngelarisin sodaranya yang jadi dokter mata😛 ).  Semuanya ada, dan sebenarnya semua ini berpusat pada satu waktu di saat seluruh Indonesia memilih satu: PEMIMPIN.  Ya, seorang yang mengemban mandat dan wewenang dari seluruh warga negara kita buat memimpin sebuah negara bersama kita; bukan ngejalanin sendiri.  Anehnya, yang diiklanin di TV malah parpolnya, yang disuruh dicentang nomor partainya: sebenernya yang mau mimpin negara itu partai atau orangnya sih?  Apa mau jadi negara partai besok?😛 Yang gue ragu adalah apakah sesosok pemimpin yang sudah ada saat ini benar-benar memimpin, atau menjalankan negara sendiri, atau yang paling parah cuma pegang jabatan.

Jokowi

Thanks to: Meme Comic Indonesia

Waktu gue denger Jokowi dideklarasiin jadi Capres, respon pertama gue adalah tidak.  Bukannya gue ga yakin sama potensi dan gaya kepemimpinan Jokowi yang wow itu, tapi gue cuma ga yakin dengan komitmen dia sebagai Walikota yang dulu harus ‘ditinggalkan’ menuju Jakarta, menjadi pemimpin tingkat 1 di Ibukota.  Eh, belum realisasi semua program yang dia buat, sudah ‘ditarik’ ke tingkat 1 RI.  Sebenernya yang mimpin nantinya itu Jokowi atau ‘sang-pemberi-mandat’ sih?  Tapi setelah gue pikir-pikir lagi, emang bener sih bahwa INDONESIA butuh pemimpin yang sebenarnya.. Bukan yang jadi baik kalo lagi musimnya (baca: Hari-hari menjelang Pemilu).  Cuma itu bukan hal terpenting buat gue sekarang; soalnya gue belum jadi pemilih secara de facto, dan lagi fokus gue sekarang adalah memimpin yang ada di depan gue sekarang, bukan ngomentarin apa yang ada jauh di atas.  Kayak yang ditulis di Matius 7:3, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?”  Ya jadi bakal buang energi gue banget kalo gue ngomentarin politik di saat gue harus ngehadepin balok di mata gue sendiri.

Trus, kalo bukan soal Jokowi…?

Sekitar 5-6 bulan yang lalu gue harus melepas jabatan gue sebagai Ketua OSIS SMP Kristen Lentera Ambarawa yang sebenernya posisi itu udah gue anggep sodara sendiri ( :v ), dengan maksud gue punya alasan buat pulang sore dari sekolah. Kalau mau kilas balik, sepanjang sejarah tim OSIS yang paling keren yang pernah gue pimpin ini adalah Pengurus OSIS dengan masa paling panjang (-/+ 1 tahun lebih 1 bulan [?] ).  Banyak pujian yang melayang ke gue, baik tersirat maupun tersurat dari temen-temen, dan buanyak banget pula ejekan, sindiran, serta kritikan dari temen-temen gue.  Tim yang udah gue pimpin itu seakan-akan ga rela gue lepas, dengan alasan ‘Enak kalo dipimpin kamu, Ko!’ Gue yang denger pujian itu lantas memperbesar kepala gue, ngerasa diri gue adalah pemimpin yang jujur, berani, tegas (Eh, ngiklan :v).

Saat gue turun dari jabatan ketua tersebut, seseorang yang udah gue anggep sodara sendiri ngegantiin gue dengan jumlah pengurus yang berlipat ganda.  Awalnya pernah kepikiran gue perlu ‘naik pangkat’ jadi ‘Penasehat OSIS’, (sok banget lu!) dan pikiran itu bertambah besar pertimbangannya saat salah seorang pemimpin muda berkata “Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang berhasil melahirkan 1000 pemimpin yang lain.” – Isi pidato Grandis Ratnaning F, ketua panitia Kampanye Dialogis SMA ****** ********* (maaf ngutip tanpa ijin ^^”) Gue sempetin dah, suatu hari ngobrol sama salah satu pendamping OSIS SMP gue.  Intinya gue bilang bahwa gue ngerasa bersalah dulu ‘nyulut api’ dengan minta ada persiapan pemilihan Ketua OSIS, ndorong mereka buat mau jadi ketua tapi sekarang ngelepas gitu aja.  Tapi guru gue bilang, gak perlu merasa bersalah, sebab memang sulit menemukan pemimpin yang inisiatif.

Tri Risma

Inisiatif.

Terbersit bayangan Tri Risma Harini, walikota Surabaya yang sempet diekspos media soal isu mundurnya dia sebagai walikota–di saat dia dinominasikan sebagai salah satu walikota terbaik di dunia (click here for more: http://worldmayor.com/contest_2014/long-list-2014.html). Dia adalah seorang yang keren, inspiratif menurut gue. Dia menunjukan apa yang sahabat gue ajarin bahwa kita perlu melayani seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. (1 Petrus 4:10) Dia mau nyapu selokan, trotoar, dan jalan raya kalau kotor; dan itu di bawah derasnya hujan!  Dia mau cari orang-orang yang dianggep ‘gak layak buat hidup’ bagi banyak orang, dan menghidupi mereka.  Dia jadi kepala, bukan ekor.  Dia berinisiatif untuk itu!

Jujur, gue salut sama Tuhan yang udah ngerancang hidup gue dengan garis waktu yang runtutannya itu saling membantu–tepat pada waktunya:
Rumah yang memacu gue untuk ‘berpikir panjang’ > Masuk SMP > Jadi Ketua OSIS > Sahabat gue jadi Ketua OSIS > Gue curhat sama guru gue > Ikut retreat kelas IX > Hari ini ikut Persekutuan Doa Pelayan.

Kalau diliat-liat, hidup gue terkesan enak, dan semuanya saling menopang untuk mendirikan seorang pribadi yang bisa nulis artikel ini sekarang. PADAHAL, semua itu gue laluin gak gampang: banyak permasalahan yang selalu pasang-surut di hidup gue, dari yang ngebuat gue insomnia sampe ngebuat gue depresi sampe mau mati.  Tapi satu hal yang gue liat, bahwa semua hal, senang ataupun susah, mudah ataupun sulit, semua bisa gue jalanin dengan senyuman dan sekarang gue bisa nulis artikel ini (eh, lagi :P)

Donghaeng Cross

Lihatlah lebih dalam.

Sebenernya bukan gue yang ngejalanin semua tantangan ini. Bukan gue, bukan juga ortu/guru/temen gue yang ngebantu gue ngejalanin semua ini. Ya, mereka ngebantu, secara daging.  TAPI, bukan merekalah yang berniat untuk ngebantu gue; sebab hikmat itu berasal dari Allah!  Bukan mereka sendiri yang dari hati ngebantu gue, tapi TUHANlah yang ngeciptain perasaan itu!  Bukan gue lah yang ngejalanin semua tantangan ini; DIA yang nggendong gue sampe di atas! Dan… Kita semua itu juga cuma sebagai perantara, iya gak?

Temen, punya masalah itu pasti.  Sebenernya Tuhan sudah ngasih tawaran untuk dateng ke DIA; entah lewat renungan, temen, guru, atau apapun itu.  TAPI itu pilihan kita mau dateng apa kagak.  Kalo ngerasa diri bisa, pasti sulit dateng ke DIA; dan percaya gak percaya, kita gak mampu untuk ngejalanin itu SENDIRI.

Buat temen-temen yang hidup, yang sebenernya dilahirin buat jadi pemimpin:

Jadilah kepala, bukan ekor.  Bukan besar kepala, tapi cetaklah rekor!

Jadi pemimpin bukanlah hal segampang nembak pacar yang seminggu kemudian udah gak lu suka lagi.  Itu soal ngelayanin Tuhan, sob.  Walau sulit, bukan berarti gak mungkin.  Kalo dilihat dalam bahasa Inggris, tidak mungkin (IMPOSSIBLE) sebenernya punya unsur mungkin; (I’M POSSIBLE).  ‘When the Impossible Meets God‘, ketika yang tidak mungkin bertemu Tuhan: pasti jadi.

Gak peduli gimana keluarga kamu, berapa kali kau berbuat dosa, berapa banyak mantan yang kau punya, berapa kali kau tengkar dengan orang tuamu, Tuhan sayang kamu dan kasih yang sudah dilimpahin hadir ke hidup kamu bukan untuk disia-siain dengan arus ‘dosa’ yang ada di hidup kamu.  Ini waktunya berubah, sob!  Inilah saatnya mata lu terbuka, mau jadi seperti Tuhan yang disempurnakan terus. Kita boleh ngerancang apapun, tapi keputusan awal dan final ada di tangan TUHAN. Jadi jangan ragu ‘tuk tanya sama Tuhan dan bekerja buat Tuhan, dan dedikasiin hidupmu buat TUHAN.

Jadi pemimpin? Siapa takut!

“Sebab segala sesuatu adalah dari DIA, dan oleh DIA, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” – Roma 11:36

GBU ^^

4 thoughts on “Pemimpin?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s