Senyum Itu…

Senyum

Senyum itu..

Tanda bahagia..

Senyum itu..

Tak terlihat terpaksa..

Sejak awal tahun ini, gue udah ‘diingetin’ sama Tuhan soal beberapa hal yang missed di tahun 2013, hal-hal yang aku gak pernah pikirin untuk dijalanin selama setahun lalu..  Kemarin Jumat (10/1) di acara K!ck **** ditayangkan sekelumit potongan kehidupan saudara kita yang terlahir istimewa.. Dengan bakat bermain musik yang tinggi, desain grafis yang keren, serta dibimbing oleh guru sejati yang menyediakan seluruh hidupnya demi terlahir murid-murid yang ‘hidup’, di muka mereka terbentuk lengkukan mungil tanda bahagia.  Awal taun ini pula, acara natal BKSAG (fyi, itu artinya Badan Kerja Antar Gereja se-Ambarawa)  Dan tahu gak sih, di natal ini tidak akan ada pesta pora dan canda tawa yang sudah menjadi stigma para umat Kristiani dewasa ini… Bukannya apa-apa, tapi Tuhan aja lahir di kandang domba, masakan kita bisa makan enak di saat sodara kita yang lain harus mengais sampah di bawah kolong jembatan.  Secara manusiawi, aku suka makan enak, suka ngiringi di gereja.. Tapi kalau ini sudah melekat jadi budaya, well.. It’s not the point of being HIS follower, guys..

Eh, tahu-tahu hari ini (13/1) gue yang penasaran sama kabar handai taulani gue :v Wishnutama yang kabarnya buka lapak baru di Pertelevisian Indonesia; N*T.; sebuah channel Indonesia berjaringan yang baru lahir Mei 2013 lalu.  Salah satu acara televisi ini adalah ‘saudari’nya acara MOBBED yang inti dari acara tersebut adalah membuat flash mob yang terencana untuk suatu tujuan seseorang.. Di episode kali ini nyeritain sekelumit kisah keluarga yang klasik–intinya adalah, sang anak ragil —sebut aja Mita— berusaha mempertemukan ibundanya dengan saudara-saudara angkatnya dari ayah biologis yang berbeda.   Well, acara ini sukses ngebuat mata gue bocor (nangisnya sambil ngelap air mata ;_;) Udah ah, malah dikira gue tim suksesnya channel TV ini.

Di saat yang lain, memori yang ada di otak gue nyala nandain ada satu hal yang pernah gue alamin di natal dua tahun lalu di gereja gue, di mana gue yang baru menginjak remaja ikut tergabung dalam suatu kejutan istimewa bagi kekasih yang istimewa pula, sebut saja Ica.     Dia adalah seorang teman baru kami yang terlahir dengan keistimewaan di mana ia punya mental yang lebih NORMAL dan PEDULI ketimbang temen-temen gue yang secara kasat mata ‘sempurna’.

Dia memiliki kisah yang mirip dengan Mita, ditinggal secara tidak bertanggung jawab oleh orang yang seharusnya menjadi ‘sohib’ paling dekat dan ‘adviser’ paling setia dari seluruh manusia yang hidup di Bumi ini.  Dulu, Ica tinggal bersama neneknya tercinta, dirawat sejak kecil dengan penuh kasih selayaknya anak sendiri–ia ditinggal oleh orang tuanya.  Kerennya Tuhan itu ini.. Nenek Ica ketemu sama satu orang di gereja gue, dan setelah bibir berucap, diputuskanlah Ica akan ikut bergabung dengan Persekutuan Remaja gereja gue.  Ketika semua keadaan ‘terlihat’ membaik, di mana kami bisa melihat sisi lain dari apa yang kami sebut teman, ketika kami diberi Tuhan kesempatan untuk jadi sahabat bagi salah satu anak-Nya ini, malah Tuhan seakan menarik harapan kami yang sudah hampir kami capai.. Suatu saat, tugasnya telah usai, dan rencana Tuhan kita gak tau, Ica harus tinggal dengan saudaranya di daerah lain.  Otomatis, ia harus meninggalkan temen-temen dari remaja gereja gue..

Smile-God

Beberapa hari lalu, pembina rohani gereja gue ngajak beberapa temen buat nengok Ica di ‘rumah’ barunya.. Dari 21 orang yang diundang, cuma 4 yang mampu dan mau..  Kami dengan ceria berangkat menuju Karangjati (salah satu daerah di Indonesia). Sepanjang perjalanan, kuingat wajah Ica yang sudah dua tahun pergi.  Ketika kami sampai di ‘rumah’nya, terlihat mukanya yang putih, dengan sambutan hangat dari seorang teman yang sudah (hampir) setahun tidak kami temui, (fyi, tim lain sempat jenguk Ica.)  Dengan senyumnya yang lebar, ia menyambut kami sembari duduk di kursi roda.  Ucapannya tak begitu jelas di telinga, namun hati gue tahu apa yang ia bicarakan.

© kokecit.devianart.com

Senyumnya itu..

Tampak tulus..

Beberapa kali pembina rohani gue tanyakan kabar, perasaan, dan update-an dari Ica.. Kalau kalian mau tahu, usianya sudah 22 tahun, namun semua itu tertutupi dengan keterbatasan fisik yang ia punya.  Ica harus berjalan dengan tangan dan lututnya, tapi Puji Tuhan ia sudah bisa pakai kursi roda–it helps, really!  Sampailah di saat Ica teringat oleh hari ulang tahunnya yang ia rayakan 20 Desember lalu.

“Eh iya.. Ica kemarin ulang tahun ya?”

“I….Iyea”  Ia berusaha mengucapkan ya dengan susah payah, namun senyumnya tak sedikitpun lenyap dari rupa Ica.

“Wah.. Kalau gitu, ditelpon ibu dong?”

“Enggak..”

“Yang inget ulang tahun Ica siapa?”

“Ica sendiri.”

DREG.   Berusaha menghangatkan suasana, kami menyanyikan lagu selamat ulang tahun sembari kembali bercakap-cakap.. Namun tetap, tak bisa dibayang.. terlahir secara fisik tidak lengkap, ditinggal ortu, penuh keterbatasan, bahkan.. ulang tahun tak ada yang ingat, bener-bener~ *speechless*

Namun..

Senyum

Senyumnya itu..

Tetap bersinar..

Tetap tulus terpancar di malam yang haru..

Aku tahu, ketergantungan kita pada manusia itu pasti berujung pada kekecewaan.  Mungkin kalian yang sedang baca lagi stres mikir ujian, galau mikirin cewe (bagi cowok), pusing mikirin cowok (bagi cewek), marah sama orang tua, kecewa sama keluarga… Mungkin kita bingung, kenapa kita harus ‘tumbuh’ bersama orang yang bukan ayah-ibu kandung kita, atau tertekan, kenapa kita harus hidup bersama orang-orang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan kita.. Tapi satu hal yang aku tahu, TUHAN ada.

Berapa pun stresnya kita, bagaimanapun kita bingung, TUHAN gak akan biarkan kita tergeletak.. Buluh yang terkulai tak kan luput dari tanganNya bukan?

Apapun masalah kita, hanya TUHAN yang tahu seberapa bingungnya, seberapa stresnya, dan hanya TUHAN yang bisa kasih jalan keluar.. Semua manusia hanyalah ‘media’, yang menanam dan menyiram.. Namun yang memberi pertumbuhan hanyalah DIA.

Sekarang, kuncinya hanyalah serahkan semua keluh kesah kita pada DIA saja, dan kita berikan seluruh hidup kita padaNya, dan percayalah..

GAK AKAN KECEWA, sebab..

Bersama DIA,

senyum itu tak kan sirna..

PS: Aku minta maaf kalo selama ini tulisanku ancur, atau bahkan–perilaku ku di kehidupan sehari-hari (bagi yang kenal :p) tak mencerminkan apa yang kutulis..
Aku gak bisa kayak gini kalo bukan dari TUHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s