Mau Doa Apa Lagi?

Originally posted on Carmia Margaret:

Ketika liburan dua minggu di Jakarta kemarin, saya diajak oleh Shimu di gereja saya untuk ikut di dalam pelayanan mendoakan orang-orang sakit ginjal yang sedang cuci darah di RS Lion’s Club di bilangan Pluit, Jakarta Utara. Pelayanan ini memang pelayanan yang rutin dilakukan oleh gereja saya sebulan sekali. Metodenya sederhana, kami mengunjungi para pasien dari ranjang ke ranjang, bertanya tentang kondisi mereka, dan kemudian berdoa bersama dengan mereka. Jujur, karena baru pertama kali, pelayanan ini cukup menggentarkan juga bagi saya pribadi. Tetapi, melihat semangat Shimu dan beberapa orang jemaat yang ikut, saya jadi turut semangat untuk pergi ke rumah sakit tujuan kami.

 

Rumah sakit yang kami kunjungi bukanlah tempat rawat inap, melainkan hanya sebagai tempat layanan cuci darah bagi para pasien penderita gagal ginjal. Terdapat dua ruang cuci darah sederhana di rumah sakit itu, yang tiap ruangannya dapat menampung kira-kira sepuluh hingga dua belas pasien. Setiap pasien mendapat fasilitas…

View original 406 more words

Sebuah tugas refleksi tak tahu diri..

 

 

Sebuah refleksi dari orang yang tidak tahu diri..

Seringkali hanya mementingkan diri sendiri..

Tak tahu apa arti persaudaraan sejati..

Mengikuti Orientation Days tanpa perasaan sejati..

***

Hari itu kalau saya tidak salah ingat, pukul 06.30 di ibukota Provinsi Jawa Tengah saya melangkahkan jejak pertama saya dari kost Tentrem menuju ke ‘yang-nantinya-akan-menjadi-sekolah’ di kota saya merantau ini. Walau belum dapat dibilang merantau, sebab jarak tempuh dari tempat orang tua saya berdiam hanyalah 30 menit lewat freeway, tapi yang pasti ini kali pertama saya hidup tanpa bimbingan orang tua untuk waktu yang cukup lama. Ya, 3 tahun. Bersyukur kepada Tuhan saya sudah diberi bekal sejak SMP dulu dengan banyaknya acara retreat dan camp dari banyak pihak yang melatih mental saya yang payah agar dapat ‘cukup’ tahan banting jauh dari orang tua. Hanya, bukan itu yang menjadi pertimbangan terberat saya dalam memilih untuk tinggal di Kota Atlas ini. Saya yakin kebohongan tidak diperkenankan di tulisan ini, maka saya akan jujur bahwa Orientation Days di tempat saya bersekolah ini merupakan salah satu pengalaman terburuk yang pernah saya dengar dari berbagai bibir. Kita tahu sendiri, bahwa cacian dan tekanan bertubi-tubi kepada calon peserta didik merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi para mantan korban yang diberi mandat untuk memberi orientasi pada adik-adiknya. Saya yakin, anda sekalian yang membaca seakan-akan merasakan kelegaan ketika dapat memarahi adik-adiknya, menantikan rasa kewibawaan itu datang menghampiri.

Saya juga pernah muda, saudara. Di sekolah lama saya, saya juga pernah bertanggung jawab atas Masa Orientasi Sekolah adik-adik saya. Saya memimpin. Saya berteriak. Saya tegas. Guru-guru dan rekan-rekan seperjuangan memuji ketegasan saya, suara saya yang lantang. Saya makin percaya diri dan makin bersemangat. Salah sedikit, panggil maju. Kurang sempurna, semprot dengan kata-kata keras. Tapi jujur, saya tidak pernah mencaci sedetikpun. Saya tak menurunkan mental mereka. Saya tahu saya bukan orang yang pantas untuk itu.

Oh iya, berdasarkan instruksi saya harus merefleksikan Orientation Days di SMA ini, bukan SMP saya yang lama. Kembali pada pagi hari yang cukup cerah tersebut, saya masuk dan menantikan datangnya ratusan calon kawan baru yang saya percaya akan menjadi saudara seperjuangan selama tiga tahun ke depan. Saudara yang dibentuk untuk saling melengkapi. Saudara yang saling mengasihi. Tebakan saya cukup titis, banyak sekali canda tawa dan sapaan karib dari mulut calon saudara saya di SMA. Menanyakan kabar, saling membanggakan barang bawaan masing-masing. Eh, kalau kalian mau tahu, saya ada di sana yang sedang duduk sendiri, bukan yang diajak bicara. Kesan pertama yang cukup indah, bukan?

Lalu berlanjutlah ketika setiap pasang kaki harus menderapkan langkah, menyatukan jejak di lapangan. Di antara gedung-gedung megah yang saya yakin biayanya tak murah, saya makin berbangga diri dapat berdiri di sini. Mau bagaimana lagi, kali pertama saya dapat merasakan sendiri gedung sekolah mewah yang kebutuhan dana tak memerlukan isak tangis dari tiap keluarga sekolah. Paling-paling, hanya orang-orang tertentu saja yang menyeka keringat mencari dana untuk gedung mahal ini. Eh iya, instruksi. Berjanggut lebat, dengan dahi yang dianugerahkan Tuhan begitu rupa dan suara keras yang saya yakin sudah disimpan selama setahun penuh untuk meneriaki calon siswa tiap tahunnya, beliau memimpin barisan untuk masuk sesi Orientation Days pertama. Bersyukur pemerintah sudah dibukakan matanya untuk mengatur beberapa hal sehingga hal yang tidak diinginkan dapat dicegah.

Sejauh ini, semua lancar. Setiap perintah untuk maju tak perlu saya jalani, sebab Tuhan memberi akal budi pada saya untuk mempersiapkan beberapa hal sebelumnya. Rambut panjang? Saya tak suka. Kuku kotor? Aduh, potong kuku lebih asyik daripada nonton World Cup. Untungnya lagi, saya masih bisa tersenyum mensyukuri bentakan di pagi hari ini sebab saya tahu Tuhan memiliki rencana yang jauh di luar prediksi tiap panitia di sini. Berlanjut ke sesi kedua hingga terakhir, semua dapat saya lewati dengan penuh ucapan syukur. Buat apa jengkel pada semua bentakan? Toh itu juga ada benarnya. Saya juga perlu belajar untuk tertib.

***

Di hari kedua, saya amat bersyukur dapat belajar lebih banyak lagi. Belajar untuk menghargai perbedaan tiap anggota tim; yang ingin jalan cepat, yang takut, yang pura-pura tidak takut, yang menguasai ujung belakang rombongan, yang pintar nyanyi, yang pintar nyanyi tapi fals, dan masih banyak lagi. Di jalan malam (yang lebih tepat disebut jalan subuh) tersebut, saya juga belajar bahwa tak selamanya bentakan itu mengalir di udara. Bersyukur sekali keterbatasan manusia tak selamanya menjadi keterbatasan. Adalah sukacita besar bagi kami ketika tekanan dari tim itu tak terdengar untuk beberapa menit-menit krusial malam itu.

Outbond adalah ajang terbebas. Ya, paling tidak refreshing setelah diinjak-injak dalam proses pembentukan karakter semalam suntuk. Sedikit tambahan catatan, permohonan maaf terbesar dari saya kepada Tirza, Andrew, dan Sinu yang harus mandi air amis di pos kak Kenny.

***

Sebagai orang ekstern Tri Tunggal, merupakan hal yang tak cukup mudah untuk menghafalkan, mengenal, dan meminta perkenalan singkat pada 122 anak lain yang notabene sudah saling kenal. Apalah arti menunggu, waktu terus berlari. Saya putuskan untuk memperkenalkan diri terlebih dulu pada teman-teman Earnest. Sambutan hangat yang diselimuti dinginnya AC cukup terasa gurih bagi saya. Sambutan bagi seorang perantau dari kota kecil tak terjamah modernisasi yang saya terima di tempat ini adalah berbagai teriakan kasar yang terkesan dipaksakan, dengan tujuan yang amat mulia: Mendidik setiap anak agar siap MENTAL dan FISIK untuk menerima pembelajaran di masa akhir pubertas ini. Saya langsung teringat pada ilustrasi berikut:

Laksana ilalang yang tumbuh pada suatu padang gandum, para pekerja memangkas ilalang yang terlihat. Namun jauh di bawah sana, akar dari ilalang tersebut masih aktif mencari sumber kehidupan dan xylem dari ilalang tersebut tak kunjung berhenti mengalirkan sumber energi bagi tumbuhan untuk memunculkan sepucuk daun baru dan menjadi ilalang baru yang jauh lebih kuat dari sebelumnya.

Yap. Mungkin dalam beberapa kali sesi ini anda mendapati angkatan 9 taat dengan diam, tegap, dan tertib baris. Mungkin, barisnya bertambah cepat. Mungkin, tugas dibuat dengan sungguh dalam OD ini. Mungkin, mereka sopan. Entah di belakang anda, tak ada manusia yang tahu apa esensi suatu perilaku. Antara benar-benar taat atau munafik kini tak dapat dibedakan, sebab putih sudah bertumpuk pada hitam.

Tuhan tak pernah mengajarkan kita untuk memuaskan hasrat daging pada sesama, dengan alasan ingin mendidik–hanya berhenti menjadi alasan belaka. Tak selamanya marah-marah itu keren, kok. Tapi tak selamanya juga cara kasar dilarang. Semua itu harus seimbang, dan apabila untuk mencabut ilalang yang sudah tinggi langsung pada akarnya itu sulit, pemotongan dahan satu-persatu diperkenankan.

There’s nothing to be proud of ourselves, tak ada yang dapat saya banggakan dengan 1102 kata yang ada di lembar ini, sebab ini hanyalah sebuah ucapan syukur atas anugerah yang sudah diberikan Tuhan pada saya. Bukan merupakan hasil kerja saya sendiri di kertas ini, sebab sebenarnya karunia dari DIA-lah serangkaian kata-kata yang masih banyak perlu direvisi sebelum dikatakan layak untuk dipublikasikan. Mohon maaf sebesar-besarnya untuk segala cacat yang ada pada diri saya, Tuhan berkati.

Tujuh Kesadaran, Delapan Kesempurnaan

Originally posted on Carmia Margaret:

Dua semester di seminari ini membuat saya sadar akan banyak hal.

Pertama, saya sadar bahwa saya bukan orang “sehat.” Secara jasmani, mungkin saya baik-baik saja. Tetapi, jauh di dalam hati, di dalam tempat yang tersembunyi dan tiada yang dapat mengetahui, saya adalah orang sakit. Banyak luka yang serius, yang mungkin sudah hampir membusuk, yang tidak ditangani dengan baik. Di sinilah saya melihat semuanya. Saya sakit.

Kedua, saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang kuat. Saya sering sekali mendapati mata saya memerah, atau kadang bengkak karena sembab. Pipi saya seringkali basah oleh genangan air mata yang tidak dapat saya kendalikan arus mudinya. Seringkali saya menatap ke cermin dan menemukan wajah yang sendu, karena menangisi dirinya, pergumulannya, dan kehidupannya. Saya lemah.

Ketiga, saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang rajin. Seringkali batas akhir pengumpulan tugas sudah hampir tiba, dan saya belum mengerjakan apa-apa. Waktu-waktu saya habis bergulir dan saya…

View original 387 more words

Sebuah Perenungan di Waktu Makan Siang

Originally posted on Carmia Margaret:

Cerita ini bermula pada hari Senin yang lalu. Pada waktu itu saya merasakan perut saya sakit sekali, lantas saya izin dari latihan paduan suara dan berniat tidur di kamar. Setibanya di kamar, saya merasa mual, akhirnya ci Irene mengajak saya ke BKM untuk konsultasi dengan dokter. Ternyata, dokter menyimpulkan bahwa maag saya sensitif, jadi saya dilarang makan asam, pedas, dan minum kopi. Kalau makan asam, tidak menjadi masalah bagi saya, karena pada dasarnya saya tidak suka asam. Tetapi makanan pedas dan kopi adalah makanan wajib saya sehari-hari, jadi perlu perjuangan khusus bagi saya untuk mematuhi nasehat dokter tersebut.

Ketika tahu saya sakit maag, apalagi karena sambal dan kopi, beberapa teman-teman dekat sempat marah karena menurut mereka, saya cari penyakit sendiri. Mereka tahu bahwa setiap jan makan, saya selalu mengusahakan adanya sambal sebagai pendamping nasi. Apalagi frekuensi minum kopi saya, dalam sehari bisa lebih dari dua kali. Kontan, saya dijagai keras…

View original 555 more words

Kanak Atau Dewasa?

Originally posted on Carmia Margaret:

Di kitab I Korintus, dalam salah satu pasalnya—yang bagi saya layak masuk “the most favourite chapter”—di Alkitab, berkata bahwa ketika seseorang masih kanak-kanak, ia berkata-kata seperti kanak-kanak, merasa seperti kanak-kanak, dan berpkir seperti kanak-kanak, sampai ketika seseorang tersebut sudah menjadi dewasa, ia meninggalkan sifat kanak-kanak itu (band I Kor 13:11).

                Wajar memang. Si Adi kecil yang ingusnya masih belepotan itu, yang mengeja M-A-M-A saja belum benar, pastilah bersikap, berpikir, dan berbicara seperti anak-anak. Seperti Adi kecil, bukan seperti Bapak Adi. Entah jari-jemarinya bebas melucuti tanah tanpa takut kotor, entah mainan yang dimasukkan ke dalam mulutnya, ataupun tangisan yang meluncur cepat bak roket apabila apa yang dimintanya tidak dapat ia peroleh dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Itu kan hanya beberapa contoh, dan kita semua percaya masih ada lebih dari sembilan puluh tindakan “kekanak-kanakkan” lainnya yang mungkin dilakukan oleh si Adi kecil. Ya iyalah, namanya juga anak-anak.

View original 551 more words

Tidak Akan Pernah Terlalu Besar untuk Menjadi Besar

Originally posted on Carmia Margaret:

Yesus sahabatku

Kau mati bagiku

Besarnya kasih-Mu

Sahabat dan Tuhanku

Sampai ‘ku besar nanti

Sampai aku mati

‘Ku ‘kan ingat selalu

Yesus sahabatku dan Tuhanku

Lagu pendek di atas merupakan salah satu dari sedikit lagu pujian yang sampai saat ini masih membekas di hati saya. Maklum, zaman sekarang ini kita sudah hampir tidak dapat menghitung lagi jumlah lagu-lagu pujian yang diciptakan oleh anak-anak Tuhan, baik untuk didendangkan di gerejanya sendiri ataupun dipublikasikan di khalayak luas. Alhasil, banyak lagu pujian yang saya dengar, tetapi biasanya hanya bertahan sekejap saja di dalam ingatan. Hanya sedikit sekali lagu pujian yang masih benar-benar saya ingat. Salah satunya adalah lagu yang saya cantumkan di atas.

Biasanya, lagu yang dapat saya ingat dengan baik, bahkan membekas di hati saya, haruslah memenuhi salah satu dari dua kriteria berikut. Pertama, karena di dalam lagu tersebut mungkin ada kata atau frasa tertentu yang memancing keingintahuan saya. Misalnya, lagu “Ku…

View original 1,114 more words

Quote

“…I’m free from the fear of tomorrow,
I’m free from the guilt of the past;
For I’ve traded my shackles for a glorious song,
I’m Free! Praise the Lord! Free at last!…”
- Quoting “I’m Free” chorus, Gaither Vocal Band, 2009.

Featured Image -- 689

Around the World in Ten Photos

eleazarevan:

Wonderful masterpieces.. By Him!

Originally posted on WordPress.com News:

A big part of photography is understandinglight — its strength, tone, and direction. These ten WordPress.com photographers from around the world show us that from dawn to dusk, there are beautifully lit moments just waiting to be captured.

Janice Meyers got this shot of the Salamanca Cathedral in Salamanca, Spain, just as the early morning sky began to turn from black to blue. We love how the warm glow of the streetlights contrasts with the deep, moody sky:

The sun was a bit higher in the sky when Robin Kent of Photography by Kent caught the first rays of light over Washington, DC’s Tidal Basin, and cherry trees. The pink glow of the imminent sunrise echoes the delicate hue of the famed blossoms:

On the other side of the US a full sun bathes different pink flowers – a field of…

View original 385 more words